Surabaya, 18/12 (ANTARA) - Ramuan obat-obatan tradisional Nusantara terancam punah, karena alih fungsi hutan untuk perkebunan, pertambangan, dan sebagainya menyebabkan tanaman berkhasiat untuk obat-obatan pun terancam.
"Indonesia kaya dengan potensi tanaman obat. Di Kalimantan saja ada sekitar 42,1 persen dari 140 jenis tanaman obat yang berkhasiat," kata Kepala Pusat Makanan Tradisional dan Tanaman Obat-obatan Lembaga Penelitian Universitas Palangkaraya Dr Ir Saputera MSi di Surabaya, Selasa.
Ia mengemukakan hal itu saat berbicara dalam "Sarasehan Etnomedisin I: Pemahaman Peran Pengobatan Nusantara dalam Naskah Kuno bagi Kesehatan Bangsa" di Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Namun, potensi tanaman obat yang kaya itu di lapangan justru menunjukkan jumlah ramuan yang dipakai berangsur-angsur menyusut, karena jumlah tanaman berkhasiat juga berangsur-angsur menyusut.
"Bahkan, suatu saat akan punah akibat alih fungsi hutan menjadi wilayah perkebunan, pertambangan dan fungsi lainnya. Selain itu, pengobatan modern juga menjadi penyebab beralihnya masyarakat dari obat tradisional," katanya.
Oleh karena itu, pemanfaatan tanaman obat Nusantara juga harus dilakukan dengan baik dan perlu dilestarikan melalui berbagai cara.
Senada dengan itu, Guru Besar Etnomedisin Fakultas Farmasi Unair, Prof Dr Mangestuti Agil MS Apt menegaskan bahwa pengobatan Nusantara sendiri memiliki banyak varian.
"Setiap etnis atau suku mempunyai cara pengobatan yang berbeda baik dari jenis tanaman ataupun budaya setempat dalam memberi nama tanaman itu. Indonesia memiliki 500 suku dan 500 ramuan, bahkan antara Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta saja memiliki ramuan yang berbeda," katanya.
info lengkap : http://www.iyaa.com/gayahidup/kesehatan/2393386_2386.html