yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Asosisasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) pesimistis tombol panik akan berhasil mencegah terjadinya perampokan di minimarket 24 jam. Keraguan itu disampaikan menyusul rencana polisi yang akan melakukan simulasi pemasangan panic button di minimarket yang ada di Jakarta. "Kami masih mengkaji seberapa efektif panic button itu," kata Ketua Harian Aprindo, Tutum Rahanta, Kamis 21 Juni 2012.
Tutum mengaku belum ada kalkulasi secara pasti untuk biaya pemasangan sistem tersebut. Menurut dia, yang ada sekarang hanya tombol yang tersambung dengan lampu di luar minimarket. "Kalau biayanya tidak mahal, tidak jadi masalah. Karena yang ditawarkan polisi adalah tombol yang tersambung hingga ke polsek dan polres," ujarnya.
Aprindo juga mempertanyakan kesiapan polisi jika sistem itu terealisasi. "Berapa lama polisi bisa datang setelah tombol ditekan? Hal-hal seperti itulah yang perlu dipertimbangkan," katanya. Dia meyakini masih ada solusi lain yang dapat dipertimbangkan sebagai usaha preventif terjadinya perampokan di minimarket.
Misalnya faktor keamanan yang terkait dengan kondisi sosial dan ekonomi lingkungan masyarakat sekitar minimarket. Peningkatan keamanan dinilai sebagai usaha pencegahan lebih awal dan lebih penting dilakukan. "Mereka yang merampok itu yang butuh uang karena kondisi ekonominya. Faktor keamanan dan sosial ekonomi yang perlu ditingkatkan," ucap dia
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan simulasi pemasangan panic button dilaksanakan di wilayah Jakarta Utara pada pekan depan.
Simulasi akan dilakukan di dua lokasi yaitu Polsek Pademangan dan Polres Jakarta Utara. Pemasangan panic button, dinilai polisi sebagai salah satu solusi menekan dan mencegah perampokan minimarket. "Penerapan sistem pengamanan itu sifatnya preventif-aktif atau upaya pencegahan sekaligus penindakan langsung jika terjadi aksi kejahatan," ujar Rikwanto.
Polda mendorong pengelola minimarket agar turut serta menciptakan pengamanan dan keamanan di gerainya masing-masing. Aprindo diharapkan dapat mengambil alih mekanisme penerapannya di setiap minimarket yang menjadi anggotanya.
Tutum mengaku belum ada kalkulasi secara pasti untuk biaya pemasangan sistem tersebut. Menurut dia, yang ada sekarang hanya tombol yang tersambung dengan lampu di luar minimarket. "Kalau biayanya tidak mahal, tidak jadi masalah. Karena yang ditawarkan polisi adalah tombol yang tersambung hingga ke polsek dan polres," ujarnya.
Aprindo juga mempertanyakan kesiapan polisi jika sistem itu terealisasi. "Berapa lama polisi bisa datang setelah tombol ditekan? Hal-hal seperti itulah yang perlu dipertimbangkan," katanya. Dia meyakini masih ada solusi lain yang dapat dipertimbangkan sebagai usaha preventif terjadinya perampokan di minimarket.
Misalnya faktor keamanan yang terkait dengan kondisi sosial dan ekonomi lingkungan masyarakat sekitar minimarket. Peningkatan keamanan dinilai sebagai usaha pencegahan lebih awal dan lebih penting dilakukan. "Mereka yang merampok itu yang butuh uang karena kondisi ekonominya. Faktor keamanan dan sosial ekonomi yang perlu ditingkatkan," ucap dia
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan simulasi pemasangan panic button dilaksanakan di wilayah Jakarta Utara pada pekan depan.
Simulasi akan dilakukan di dua lokasi yaitu Polsek Pademangan dan Polres Jakarta Utara. Pemasangan panic button, dinilai polisi sebagai salah satu solusi menekan dan mencegah perampokan minimarket. "Penerapan sistem pengamanan itu sifatnya preventif-aktif atau upaya pencegahan sekaligus penindakan langsung jika terjadi aksi kejahatan," ujar Rikwanto.
Polda mendorong pengelola minimarket agar turut serta menciptakan pengamanan dan keamanan di gerainya masing-masing. Aprindo diharapkan dapat mengambil alih mekanisme penerapannya di setiap minimarket yang menjadi anggotanya.