Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Dewasa ini, kita sedang direpotkan dengan wabah pageblug (coronavirus disease19) yg tiba tiba muncul & mewabah di seluruh dunia tak terkeculai di indonesia, tak pelak World Health Organisation(WHO) menetapkan sebagai pandemi global, Sudah setahun berlalu sejak pandemi covid19 ini masuk ke Indonesia untuk petama kalinya, kita melewati hari hari dalam keadaan yg begitu sulit dengan adanya virus covid 19 ini. Update terakhir hari ini (10 april 2021) sudah mencatatkan angka kematian sejak awal pandemi hingga hari sudah mencapa 2,91jt jiwa dengan tingkat kematian 8.871 orang setiap minggunya.
Oke saya tidak akan membahas lebih lanjut soal ini, karna saya yakin semua orang seluruh dunia sudah tau tentang covid19 ini. Yang saya harap bahas adalah pandemi dalam prespektif Mitologi.
Quote:
Sudut pandang mitologi atau mitos nyatanya adalah perintah, ramalan, maupun penafsiran dari para leluhur salah satunya tentang semesta alam, memiliki arti mendalam & diungkapkan dengan cara ghaib yg kemudian dikaitkan dengan berbagai peristiwa yg terjadi di dunia khususnya Indonesia walau cuma sekedar mengpakai metode Othak Athik Gathuk seperti saat menghadapi pagebluk Corona saat ini.
Pageblukdan Pandemi
Sebelum kita berbicara lebih lanjut, perdana lebih baik kita berkenalan dengan apa itu pagebluk? apa hubungannya dengan pandemi? Pagebluk atau dalam versi lain diketahui dengan bagebluk adalah suatu sebutan untuk suatu wabah penyakit yg sedang terjadi. Kata dasar (tembung lingga) dari pagebluk adalah gebluk. Baik dalam bahasa Jawa maupun Sunda, mengatakan gebluk atau bluk dapat berarti jatuh, tersungkur, tumbang ataupun dapat juga disebut ledakan. Dengan begitu pagebluk menggambarkan suatu kondisi banyak korban berjatuhan, bertumbangan, ataupun jatuh tersungkur yg terjadi secara serentak bahkan berskala luas, yg karena besarnya hal tersebut maka menimbulkan korban yg banyak, sehingga menyerupai arti gebluk yaitu ledakan. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa pagebluk merupakan suatu istilah lokal yg dipakai untuk menyebut istilah pandemi.
Sudut Pandang Mitos dalam Menghadapi Pagebluk
Pagebluk yg sedang dihadapi oleh masyarakat nyatanya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Dalam lingkup sastra kesastraan Jawa, berbagai macam bentuk & upaya penanganan wabah atau pagebluk ini sudah tercantum baik secara tulis maupun lisan. Menurut Peneliti Ahli Utama BPNB DIY Dra Suyami Mhum, dalammanuskrip & naskah antik sudah tercantum berbagai informasi mengenai adanya wabah penyakit yg pernah melanda tanah Jawa, antara lain penyakit gudhig, influensa, Kolera, & tuberkulosis. Hal tersebut terungkap dalam berbagai naskah antik yg ditulis pada awal zaman ke-20, yakni naskah tentang Lelara Gudhig, lelara influensa, lelembut Kolera, & lelara tuberkulose. Kisah tentangpagebluk senantiasa dibarengi dengan narasi mitos sebagai satu ciri khas.
Sementara menurut dosen Prodi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya UGM Rudy Wiratama M.Hum, dalam pandangan orang Jawa pageblug dipahami sebagai sebuah fenomena kosmologis. Hal itu mendorong manusia harus mengembalikan keseimbangan. Keselarasan antara diri pribadi, manusia dengan sesama & lingkungannya serta manusia dengan Tuhan.
Quote:
Masyarakat Indonesia khususnya di tanah jawa & terkhusus lagi DIYmasih menyepakati narasi tentang mitos-mitos hampir dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam menghadapi keadaan pagebluk saat ini, & hal tersebut jadi tradisi yg merupakan salah satu aspek membentuk kebudayaan Jawa khususnya di DIY.
Tahun 2020
Apa yg terjadi dengan tahun 2020? Sampai pada pertengahan tahun 2020 ini, banyak dianggap terjadi berbagai musibah tak terkecuali terjadinya pagebluk Corona. Apabila melihat dengan mengpakai logika berfikir secara biasa tidak ada yg salah dengan tahun 2020, karena memang hanyalah angka & seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, apabila kita melihat dari sudut pandang lain, terjadinya berbagai musibah hampir di seluruh penjuru dunia pada tahun 2020 ini sudah diramalkan oleh Prabu Jaya Baya, seorang Raja di kerajaan Kediri pada masa lalu dalam Jangka JayaBaya.
Telah disebutkan bahwa sesuk yen wis ketemu tahun sing kembar bakal ketemu jamane langgar bubar, mesjid korat-karit, Kabah ora kaambah, begajul padha ucul, manungsa seda tanpa diupakara, kawula cilik padha keluwen, para punggawa negara makarya nganti lali kaluwarga. Narasi tersebut memiliki arti sebagai berikut, apabila besok sudah berjumpa tahun kembar maka akan berjumpa masanya surau bubar, masjid tidak teturus, Kabah tidak dikunjunjungi, para penjahat lepas, manusia meninggal tidak diurus sebagaimana mestinya, rakyat kecil kelaparan, & para pejabat atau pegawai bekerja hingga lupa keluarga.
Dalam setengah tahun perdana di tahun kembar ini(2020, dengan angka kembar 20)upaya pencegahan penyebaran virus Corona yg dimulai dari anjuran untuk dirumah saja, PSBB, hingga lockdown dilakukan semata-mata untuk mencegah menyebarnya virus tersebut. Dampaknya, masyarakat umat beragama dianjurkan untuk mengerjakan ibadah di rumah masing-masing sebagai akibat penutupan beberapa akbar tempat ibadah termasuk musola & masjid. Pemerintah Arab Saudi juga menutup Kabah, & akses ibadah umrah ke tanah suci untuk sementara waktu.
Bagaimana denganBegajul padha ucul? Untuk mencegah penyebaran virus Corona, Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia (HAM) mengeluarkan kebijakan dengan mengerjakan pembebasan lebih dari 36 ribu narapidana atau dapat disebut para penjahat lepas sesuai dengan ramalan Prabu Jaya baya.
Dampak selanjutnya yg terlihat akibat pandemi Corona adalahKawula cilik padha keluwen.Kawula cilik padha keluwenatau rakyat kecil banyak yg kelaparan terjadi akibat banyak lapangan pekerjaan tidak dapat dikerjakan sebagaimana mestinya sebagai contoh, driver ojol & pedagang kaki lima yg mulai kehilangan pelanggannya, bahkan tidak sedikit perusahaan yg memutuskan untuk mengerjakan PHK untuk meminimalisir kerugian yg ditimbulkan akibat pagebluk Corona.
Dengan begitu dapat dimengerti bahwa sebenarnya apa yg terjadi saat ini sudah diramalkan oleh Prabu Jaya Baya ratusan tahun lalu.
Melintasnya Lintang Kemukus Sebagai Pertanda Akan Datangnya Pagebluk
Pada pertengahan bulan Maret tahun 2020, beberapa masyarakat melihat melintasnya sebuah komet atau biasa disebut lintang kemukus oleh orang jawa. Apabila dikaji secara sains, munculnya lintang kemukus terjadi akibat bahan-bahan volatil yg terkandung dalam komet atau kemukus terdorong keluar menjauhi matahari, membentuk semacam ekor akibat didorong oleh tekanan radiasi mentari & angin matahari.
Namun menurut mitos dalam kepercayaan orang jawa, kemunculan lintang kemukusdari berbagai arah mata angin merupakan suatu Tetengger alam atau pertanda dari alamyang memiliki makna tersendiri yg umumnya merupakan pertanda munculnya hal buruk. Apabila mengacu pada buku karya R.M. Ng. Tiknopranoto & R. Mardisuwignya dengan judul Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu, kemunculan lintang kemukus dari berbagai arah mata angin dapat berarti sebagai berikut:
Yen ana lintang kemukus metu ing:
Wetan:ngalamat ana ratu sungkawa. Para nayakaning praja padha ewuh pikirane. Wong desa akeh kang karusakan lan susah atine. Udan deres. Beras pari murah, emas larang, yg berarti: Bila muncul dari arah Timur Pertanda akan ada raja sedang berbela sungkawa. Para pengikutnya sedang bingung pikirannya. Orang desa banyak mengalami kerusakan & bersusah hatinya. Beras & padi murah harganya, tetapi emas akan mahal harganya
Kidul-Wetan: ngalamat ana ratu surud (seda). Wong desa akeh kang ngalih, udan arang. Woh2an akeh kang rusak. Ana pagebluk, akeh wong lara lan wong mati. Beras pari larang. Kebo sapi akeh kang didoli, yg berarti: Bila muncul dari arah Tenggara, merupakan pertanda akan ada raja mangkat(meninggal), orang desa banyak yg pindah(ke kota), hujan jarang, buah-buahan banyak yg rusak, muncul wabah penyakit, (banyak orang sakit & meninggal), harga beras mahal, hewan ternak (kerbau & sapi) banyak yg dijual.
Kidul:ngalamate ana ratu surud (seda). Para panggedhe pada susah atine. Akeh udan. Karang kitri wohe ndadi.Beras pari, kebo sapi murah regane. Wong desa pada nalangsa atine, ngluhurake panguwasane Pangeran kang Maha Suci., yg berarti: Bila muncul dari arah selatan merupakan pertanda akan ada raja mangkat(meninggal), para pembesar/petinggi susah hatinya, Sering turun hujan, Beras, kerbau sapi harganya murah, orang desa pada susah hati, oleh karenanya harus mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci
Dengan begitu sesuai dengan narasi diatas, kemunculan lintang kemukus dari arah tenggara jadi pertanda ada wabah penyakit. Ada banyak orang yg sakit & meninggal. Oleh karena itu dapat dimaknai, lintang kemukus yg muncul di tenggara diyakini oleh beberapa masyarakat merupakan pertanda terjadinya pagebluk, yakni wabah virus Corona yg menyebakan banyak orang sakit & meninggal.Bahkan, sebelum pagebluk ini terjadi kemunculan lintang kemukus di Indonesia sudah menimbulkan berbagai peristiwa akbar salah satunya adalah mangkat atau wafatnya Mantan presiden Ir. Soekarno pada tahun 1970 silam.
Tahun 1441 Hijriah
Pada kalender nasional, tahun ini adalah tahun 2020, namun apabila kita menengok kalender Islam, tahun ini memasuki tahun 1441 H. Lantas ada apa dengan Tahun 1441 H? Apakah ada yg salah? Apabila kita melihat secara kasat mata mungkin tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya yg cuma merupakan suatu angka & memang betul tidak ada yg salah.
Namun, apabila kita sebagai orang jawa akan terbiasa melihat sesuatu secara lebih mendalam termasuk dalam hal menganalisis tahun 1441 H bahkan walau cuma dengan metode Othak Athik Gathuk akan ditemukan suatu hal yg dapat dimaknai. Dengan mengpakai telapak tangan kita yg dibalik menghadap kearah atas dimulai dengan tangan kanan yaitu pada ibu jari dianggap sebagai angka 1, kemudian jari telunjuk, tengah, manis, & kelingking(4 jari selanjutnya) kita anggap sebagai angka 4, & kemudian beralih pada telapak tangan kiri yaitu jari kelingking, manis, tengah & telunjuk(4 jari awal) & ibu jari pada tangan kiri sebagai angka 1 akan terbentuk susunan angka 1 4 4 1 yg dapat dimaknai sebagai simbol tahun 1441 H.
Apa yg ada dipikiran setelah melihat narasi & ilustrasi diatas? Yap. Tahun 1441 H dapat kita simbolkan sebagai tangan yg sedang memanjatkan doa. Hal yg kemudian dapat dimaknai & dipercayai oleh beberapa kalangan masyarakat jawa dari hal diatas adalah berbagai musibah yg melanda termasuk pagebluk Corona mungkin merupakan suatu bentuk kekecewaan & ujian dari Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT kepada keserakahan yg dilakukan umat manusia & mulai melupakan Sang Pencipta. Oleh karenanya, dengan adanya pagebluk corona saat ini dapat dimaknai kita harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan salah satunya dengan cara memanjatkan doa.
Munculnya Semar Di Awan Erupsi Merapi Sebagai Pertanda Bahwa Pagebluk Akan Segera Berakhir
Pada tanggal 27 Maret 2020 bersamaan dengan erupsinya Gunung Merapi, ramai kabar di media sosial maupun dari mulut ke mulut bahwasannya semburan awan panas yg dikeluarkan saat erupsi Merapi mirip dengan tokoh pewayangan Eyang Semar. Pada dasarnya, lumrah kalau suatu Gunung Berapi yg masih aktif mengerjakan erupsi & mengeluarkan awan panas.
Namun kalau dilihat dari sudut pandang mitos, hal ini merupakan suatu tetengger alam atau pertanda dari alam. Berdasarkan kepercayaan orang jawa, tokoh Eyang Semar diketahui sebagai pemomong sejati yg berarti dapat membawa kebahagiaan & kententraman bagi masyarakat, & dengan munculnya eyang semar berarti pula sudah saatnya warga masyarakat Jogja dapat hidup dengan bahagia & damai. Disamping itu, kemunculan Eyang Semar menandakan bahwa pagebluk yg melanda Indonesia khususnya tanah jawa akan segera berakhir. Menurut Dr. Purwadi M.Hum, ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara yg dikutip dari krjogja.com mengatakan: Pagebluk Corona merupakan bagian dari sengkala, & dengan kehadiran Eyang Semar, semua sengkala akan menyingkir. Hal tersebut dikarenakan Eyang Semar lebih berwibawa daripada batara kala & Dalang Kandha Buwana sebagai penjelmaan dari Wisnu akan hormat kepada Eyang Semar. Dia datang sebagaiproblem solving. Dengan ajaran Eyang Semar akan mengantarkan dunia menuju kondusif & damai, pungkas Purwadi.
Berdasarkan hal tersebut diatas, lantas muncul sebuah pertanyaan Salahkah mengpakaisudut pandangmitos dalam mengahdapi pagebluk?
Sejatinya, mengpakai sudut pandang mitos sah-sah saja dilakukan. Dalam menghadapi keadaan apapun khususnya seperti pandemi pada saat ini, kita memiliki berbagai cara & pandangan untuk menyikapinya. Sudut pandang secara sains-medis bahkan politis-ekonomis memang penting, namun penggunaan sudut pandang tentang mitos terjadinya pagebluk Corona saat ini akan memunculkan logika berpikir lain dalam menyikapi pagebluk. Pada akhirnya, sudut pandang mitos tetaplah merupakan suatu Tradisi dankearifan lokal yg penting serta mendesak untuk tetap dipegang tegung, minimal dapat jadi pegangan awalmasyarakat Indonesia khususnya di tanah jawa sebagai obat penenang untuk melepaskan berbagai bentuk ketakutan & kepanikan dalam menghadapi suatu pagebluk.
Hari ini, dengan adanya pagebluk Corona, kita sebagai bangsa Indonesia khususnya masyarakat jawa kembali tersadarkan bahwa nilai-nilai yg pernah diajarkan oleh para leluhur mulai luntur. Kita sering menyikapi suatu hal khususnya pagebluk Corona ini dengan tergesa-gesa sehingga timbul kepanikan, bahkan hingga timbul stigma-stigma negatif. Padahal, apabila kita memegang teguh ajaran dari para leluhur, sejatinya sudah diajarkan bagaimana cara kita untuk mengahadapi keadaan pagebluk seperti ini dengan mengerti apa yg diisyaratkan oleh alam, kearifan diri, menguatkan spiritual dengan tidak melupakan Sang Maha Pencipta yg kemudian akan bermuara kepada cara kita menghadapi pagebluk dengan tenang, penuh semangat & tidak dengan kepanikan. Wallahualambissawab
wikipedia.org/Ramalan_Jayabaya Hari ini 14:40
Oke saya tidak akan membahas lebih lanjut soal ini, karna saya yakin semua orang seluruh dunia sudah tau tentang covid19 ini. Yang saya harap bahas adalah pandemi dalam prespektif Mitologi.
Quote:
Sudut pandang mitologi atau mitos nyatanya adalah perintah, ramalan, maupun penafsiran dari para leluhur salah satunya tentang semesta alam, memiliki arti mendalam & diungkapkan dengan cara ghaib yg kemudian dikaitkan dengan berbagai peristiwa yg terjadi di dunia khususnya Indonesia walau cuma sekedar mengpakai metode Othak Athik Gathuk seperti saat menghadapi pagebluk Corona saat ini.
Pageblukdan Pandemi
Sebelum kita berbicara lebih lanjut, perdana lebih baik kita berkenalan dengan apa itu pagebluk? apa hubungannya dengan pandemi? Pagebluk atau dalam versi lain diketahui dengan bagebluk adalah suatu sebutan untuk suatu wabah penyakit yg sedang terjadi. Kata dasar (tembung lingga) dari pagebluk adalah gebluk. Baik dalam bahasa Jawa maupun Sunda, mengatakan gebluk atau bluk dapat berarti jatuh, tersungkur, tumbang ataupun dapat juga disebut ledakan. Dengan begitu pagebluk menggambarkan suatu kondisi banyak korban berjatuhan, bertumbangan, ataupun jatuh tersungkur yg terjadi secara serentak bahkan berskala luas, yg karena besarnya hal tersebut maka menimbulkan korban yg banyak, sehingga menyerupai arti gebluk yaitu ledakan. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa pagebluk merupakan suatu istilah lokal yg dipakai untuk menyebut istilah pandemi.
Sudut Pandang Mitos dalam Menghadapi Pagebluk
Pagebluk yg sedang dihadapi oleh masyarakat nyatanya sudah ada sejak zaman dahulu kala. Dalam lingkup sastra kesastraan Jawa, berbagai macam bentuk & upaya penanganan wabah atau pagebluk ini sudah tercantum baik secara tulis maupun lisan. Menurut Peneliti Ahli Utama BPNB DIY Dra Suyami Mhum, dalammanuskrip & naskah antik sudah tercantum berbagai informasi mengenai adanya wabah penyakit yg pernah melanda tanah Jawa, antara lain penyakit gudhig, influensa, Kolera, & tuberkulosis. Hal tersebut terungkap dalam berbagai naskah antik yg ditulis pada awal zaman ke-20, yakni naskah tentang Lelara Gudhig, lelara influensa, lelembut Kolera, & lelara tuberkulose. Kisah tentangpagebluk senantiasa dibarengi dengan narasi mitos sebagai satu ciri khas.
Sementara menurut dosen Prodi Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya UGM Rudy Wiratama M.Hum, dalam pandangan orang Jawa pageblug dipahami sebagai sebuah fenomena kosmologis. Hal itu mendorong manusia harus mengembalikan keseimbangan. Keselarasan antara diri pribadi, manusia dengan sesama & lingkungannya serta manusia dengan Tuhan.
Quote:
Masyarakat Indonesia khususnya di tanah jawa & terkhusus lagi DIYmasih menyepakati narasi tentang mitos-mitos hampir dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam menghadapi keadaan pagebluk saat ini, & hal tersebut jadi tradisi yg merupakan salah satu aspek membentuk kebudayaan Jawa khususnya di DIY.
Tahun 2020
Apa yg terjadi dengan tahun 2020? Sampai pada pertengahan tahun 2020 ini, banyak dianggap terjadi berbagai musibah tak terkecuali terjadinya pagebluk Corona. Apabila melihat dengan mengpakai logika berfikir secara biasa tidak ada yg salah dengan tahun 2020, karena memang hanyalah angka & seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, apabila kita melihat dari sudut pandang lain, terjadinya berbagai musibah hampir di seluruh penjuru dunia pada tahun 2020 ini sudah diramalkan oleh Prabu Jaya Baya, seorang Raja di kerajaan Kediri pada masa lalu dalam Jangka JayaBaya.
Telah disebutkan bahwa sesuk yen wis ketemu tahun sing kembar bakal ketemu jamane langgar bubar, mesjid korat-karit, Kabah ora kaambah, begajul padha ucul, manungsa seda tanpa diupakara, kawula cilik padha keluwen, para punggawa negara makarya nganti lali kaluwarga. Narasi tersebut memiliki arti sebagai berikut, apabila besok sudah berjumpa tahun kembar maka akan berjumpa masanya surau bubar, masjid tidak teturus, Kabah tidak dikunjunjungi, para penjahat lepas, manusia meninggal tidak diurus sebagaimana mestinya, rakyat kecil kelaparan, & para pejabat atau pegawai bekerja hingga lupa keluarga.
Dalam setengah tahun perdana di tahun kembar ini(2020, dengan angka kembar 20)upaya pencegahan penyebaran virus Corona yg dimulai dari anjuran untuk dirumah saja, PSBB, hingga lockdown dilakukan semata-mata untuk mencegah menyebarnya virus tersebut. Dampaknya, masyarakat umat beragama dianjurkan untuk mengerjakan ibadah di rumah masing-masing sebagai akibat penutupan beberapa akbar tempat ibadah termasuk musola & masjid. Pemerintah Arab Saudi juga menutup Kabah, & akses ibadah umrah ke tanah suci untuk sementara waktu.
Bagaimana denganBegajul padha ucul? Untuk mencegah penyebaran virus Corona, Menteri Hukum & Hak Asasi Manusia (HAM) mengeluarkan kebijakan dengan mengerjakan pembebasan lebih dari 36 ribu narapidana atau dapat disebut para penjahat lepas sesuai dengan ramalan Prabu Jaya baya.
Dampak selanjutnya yg terlihat akibat pandemi Corona adalahKawula cilik padha keluwen.Kawula cilik padha keluwenatau rakyat kecil banyak yg kelaparan terjadi akibat banyak lapangan pekerjaan tidak dapat dikerjakan sebagaimana mestinya sebagai contoh, driver ojol & pedagang kaki lima yg mulai kehilangan pelanggannya, bahkan tidak sedikit perusahaan yg memutuskan untuk mengerjakan PHK untuk meminimalisir kerugian yg ditimbulkan akibat pagebluk Corona.
Dengan begitu dapat dimengerti bahwa sebenarnya apa yg terjadi saat ini sudah diramalkan oleh Prabu Jaya Baya ratusan tahun lalu.
Melintasnya Lintang Kemukus Sebagai Pertanda Akan Datangnya Pagebluk
Pada pertengahan bulan Maret tahun 2020, beberapa masyarakat melihat melintasnya sebuah komet atau biasa disebut lintang kemukus oleh orang jawa. Apabila dikaji secara sains, munculnya lintang kemukus terjadi akibat bahan-bahan volatil yg terkandung dalam komet atau kemukus terdorong keluar menjauhi matahari, membentuk semacam ekor akibat didorong oleh tekanan radiasi mentari & angin matahari.
Namun menurut mitos dalam kepercayaan orang jawa, kemunculan lintang kemukusdari berbagai arah mata angin merupakan suatu Tetengger alam atau pertanda dari alamyang memiliki makna tersendiri yg umumnya merupakan pertanda munculnya hal buruk. Apabila mengacu pada buku karya R.M. Ng. Tiknopranoto & R. Mardisuwignya dengan judul Sejarah Kutha Sala: Kraton Sala, Bengawan Sala, Gunung Lawu, kemunculan lintang kemukus dari berbagai arah mata angin dapat berarti sebagai berikut:
Yen ana lintang kemukus metu ing:
Wetan:ngalamat ana ratu sungkawa. Para nayakaning praja padha ewuh pikirane. Wong desa akeh kang karusakan lan susah atine. Udan deres. Beras pari murah, emas larang, yg berarti: Bila muncul dari arah Timur Pertanda akan ada raja sedang berbela sungkawa. Para pengikutnya sedang bingung pikirannya. Orang desa banyak mengalami kerusakan & bersusah hatinya. Beras & padi murah harganya, tetapi emas akan mahal harganya
Kidul-Wetan: ngalamat ana ratu surud (seda). Wong desa akeh kang ngalih, udan arang. Woh2an akeh kang rusak. Ana pagebluk, akeh wong lara lan wong mati. Beras pari larang. Kebo sapi akeh kang didoli, yg berarti: Bila muncul dari arah Tenggara, merupakan pertanda akan ada raja mangkat(meninggal), orang desa banyak yg pindah(ke kota), hujan jarang, buah-buahan banyak yg rusak, muncul wabah penyakit, (banyak orang sakit & meninggal), harga beras mahal, hewan ternak (kerbau & sapi) banyak yg dijual.
Kidul:ngalamate ana ratu surud (seda). Para panggedhe pada susah atine. Akeh udan. Karang kitri wohe ndadi.Beras pari, kebo sapi murah regane. Wong desa pada nalangsa atine, ngluhurake panguwasane Pangeran kang Maha Suci., yg berarti: Bila muncul dari arah selatan merupakan pertanda akan ada raja mangkat(meninggal), para pembesar/petinggi susah hatinya, Sering turun hujan, Beras, kerbau sapi harganya murah, orang desa pada susah hati, oleh karenanya harus mengagungkan kekuasaan Tuhan Yang Maha Suci
Dengan begitu sesuai dengan narasi diatas, kemunculan lintang kemukus dari arah tenggara jadi pertanda ada wabah penyakit. Ada banyak orang yg sakit & meninggal. Oleh karena itu dapat dimaknai, lintang kemukus yg muncul di tenggara diyakini oleh beberapa masyarakat merupakan pertanda terjadinya pagebluk, yakni wabah virus Corona yg menyebakan banyak orang sakit & meninggal.Bahkan, sebelum pagebluk ini terjadi kemunculan lintang kemukus di Indonesia sudah menimbulkan berbagai peristiwa akbar salah satunya adalah mangkat atau wafatnya Mantan presiden Ir. Soekarno pada tahun 1970 silam.
Tahun 1441 Hijriah
Pada kalender nasional, tahun ini adalah tahun 2020, namun apabila kita menengok kalender Islam, tahun ini memasuki tahun 1441 H. Lantas ada apa dengan Tahun 1441 H? Apakah ada yg salah? Apabila kita melihat secara kasat mata mungkin tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya yg cuma merupakan suatu angka & memang betul tidak ada yg salah.
Namun, apabila kita sebagai orang jawa akan terbiasa melihat sesuatu secara lebih mendalam termasuk dalam hal menganalisis tahun 1441 H bahkan walau cuma dengan metode Othak Athik Gathuk akan ditemukan suatu hal yg dapat dimaknai. Dengan mengpakai telapak tangan kita yg dibalik menghadap kearah atas dimulai dengan tangan kanan yaitu pada ibu jari dianggap sebagai angka 1, kemudian jari telunjuk, tengah, manis, & kelingking(4 jari selanjutnya) kita anggap sebagai angka 4, & kemudian beralih pada telapak tangan kiri yaitu jari kelingking, manis, tengah & telunjuk(4 jari awal) & ibu jari pada tangan kiri sebagai angka 1 akan terbentuk susunan angka 1 4 4 1 yg dapat dimaknai sebagai simbol tahun 1441 H.
Apa yg ada dipikiran setelah melihat narasi & ilustrasi diatas? Yap. Tahun 1441 H dapat kita simbolkan sebagai tangan yg sedang memanjatkan doa. Hal yg kemudian dapat dimaknai & dipercayai oleh beberapa kalangan masyarakat jawa dari hal diatas adalah berbagai musibah yg melanda termasuk pagebluk Corona mungkin merupakan suatu bentuk kekecewaan & ujian dari Tuhan Yang Maha Kuasa Allah SWT kepada keserakahan yg dilakukan umat manusia & mulai melupakan Sang Pencipta. Oleh karenanya, dengan adanya pagebluk corona saat ini dapat dimaknai kita harus lebih mendekatkan diri kepada Tuhan salah satunya dengan cara memanjatkan doa.
Munculnya Semar Di Awan Erupsi Merapi Sebagai Pertanda Bahwa Pagebluk Akan Segera Berakhir
Pada tanggal 27 Maret 2020 bersamaan dengan erupsinya Gunung Merapi, ramai kabar di media sosial maupun dari mulut ke mulut bahwasannya semburan awan panas yg dikeluarkan saat erupsi Merapi mirip dengan tokoh pewayangan Eyang Semar. Pada dasarnya, lumrah kalau suatu Gunung Berapi yg masih aktif mengerjakan erupsi & mengeluarkan awan panas.
Namun kalau dilihat dari sudut pandang mitos, hal ini merupakan suatu tetengger alam atau pertanda dari alam. Berdasarkan kepercayaan orang jawa, tokoh Eyang Semar diketahui sebagai pemomong sejati yg berarti dapat membawa kebahagiaan & kententraman bagi masyarakat, & dengan munculnya eyang semar berarti pula sudah saatnya warga masyarakat Jogja dapat hidup dengan bahagia & damai. Disamping itu, kemunculan Eyang Semar menandakan bahwa pagebluk yg melanda Indonesia khususnya tanah jawa akan segera berakhir. Menurut Dr. Purwadi M.Hum, ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara yg dikutip dari krjogja.com mengatakan: Pagebluk Corona merupakan bagian dari sengkala, & dengan kehadiran Eyang Semar, semua sengkala akan menyingkir. Hal tersebut dikarenakan Eyang Semar lebih berwibawa daripada batara kala & Dalang Kandha Buwana sebagai penjelmaan dari Wisnu akan hormat kepada Eyang Semar. Dia datang sebagaiproblem solving. Dengan ajaran Eyang Semar akan mengantarkan dunia menuju kondusif & damai, pungkas Purwadi.
Berdasarkan hal tersebut diatas, lantas muncul sebuah pertanyaan Salahkah mengpakaisudut pandangmitos dalam mengahdapi pagebluk?
Sejatinya, mengpakai sudut pandang mitos sah-sah saja dilakukan. Dalam menghadapi keadaan apapun khususnya seperti pandemi pada saat ini, kita memiliki berbagai cara & pandangan untuk menyikapinya. Sudut pandang secara sains-medis bahkan politis-ekonomis memang penting, namun penggunaan sudut pandang tentang mitos terjadinya pagebluk Corona saat ini akan memunculkan logika berpikir lain dalam menyikapi pagebluk. Pada akhirnya, sudut pandang mitos tetaplah merupakan suatu Tradisi dankearifan lokal yg penting serta mendesak untuk tetap dipegang tegung, minimal dapat jadi pegangan awalmasyarakat Indonesia khususnya di tanah jawa sebagai obat penenang untuk melepaskan berbagai bentuk ketakutan & kepanikan dalam menghadapi suatu pagebluk.
Hari ini, dengan adanya pagebluk Corona, kita sebagai bangsa Indonesia khususnya masyarakat jawa kembali tersadarkan bahwa nilai-nilai yg pernah diajarkan oleh para leluhur mulai luntur. Kita sering menyikapi suatu hal khususnya pagebluk Corona ini dengan tergesa-gesa sehingga timbul kepanikan, bahkan hingga timbul stigma-stigma negatif. Padahal, apabila kita memegang teguh ajaran dari para leluhur, sejatinya sudah diajarkan bagaimana cara kita untuk mengahadapi keadaan pagebluk seperti ini dengan mengerti apa yg diisyaratkan oleh alam, kearifan diri, menguatkan spiritual dengan tidak melupakan Sang Maha Pencipta yg kemudian akan bermuara kepada cara kita menghadapi pagebluk dengan tenang, penuh semangat & tidak dengan kepanikan. Wallahualambissawab
wikipedia.org/Ramalan_Jayabaya Hari ini 14:40