• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Raja Abdullah Mendorong Toleransi

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63


104748p.jpg


Oleh Rakaryan Sukarjaputra


Sosok Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz al-Saud selama ini dikenal cukup aktif mendorong penyelesaian damai masalah di kawasannya, Timur Tengah. Namun, seperti raja-raja Saudi sebelumnya, Abdullah pun terbilang jarang tampil di panggung internasional setelah menjadi raja.

Oleh karena itu, wajarlah bila banyak orang terkejut ketika ia mendorong dialog antaragama, dari Mekkah, terus ke Madrid, hingga akhirnya berpuncak di Markas Besar PBB, New York.

Abdullah adalah saudara ipar raja Saudi terdahulu, Fadh. Ia naik takhta pada Agustus 2005. Ketika itu dia bukan sosok yang benar-benar baru dalam pemerintahan Kerajaan Arab Saudi. Putra pendiri Kerajaan Saudi modern, Raja Abdulaziz al-Saud, yang lahir di Riyadh tahun 1924 itu, telah dinobatkan sebagai putra mahkota sejak tahun 1987. Abdullah juga pernah menjabat sebagai penguasa Arab Saudi sejak 1 Januari 1996, ketika Raja Fahd terserang stroke.

Sebagai Raja Arab Saudi keenam, Abdullah memikul tanggung jawab berat untuk menjaga dua masjid paling suci bagi umat Islam, yaitu Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Sebagai pemimpin negara tempat lahir dan berkembangnya Islam, ia juga memikul tanggung jawab besar untuk menegakkan nama baik dan ajaran-ajaran Islam.

Oleh karena itulah, Raja Abdullah merasakan pukulan yang keras ketika terjadi serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, di mana 15 orang dari 19 pelakunya adalah warga Arab Saudi, termasuk pemimpin tertinggi Al Qaeda, Osama bin Laden.

Berbagai upaya untuk mencari akar permasalahan pun dilakukan di dalam negeri Saudi, termasuk operasi-operasi untuk mengungkap jaringan Al Qaeda. Namun, upaya-upaya yang lebih banyak mengandalkan kekuatan dan kekuasaan itu ternyata belum sepenuhnya membuahkan hasil.

Bahkan sebaliknya, sejak 12 Mei 2003 Arab Saudi telah mengalami beberapa serangan teroris yang serius, dengan target terutama para ekspatriat Barat dan pasukan keamanan Saudi. Serangan-serangan itu termasuk pengeboman dengan mobil dan truk, juga penyerangan oleh orang-orang bersenjata terhadap warga sipil.

Aksi kekerasan yang ditujukan terhadap para ekspatriat Barat itu diduga kuat bermotif campur baur antara sentimen anti-Barat, lebih khusus yang terkait keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di Arab Saudi, dan keyakinan di kalangan penganut garis keras untuk berjihad menegakkan kemurnian ajaran-ajaran Islam.

Memulai keterbukaan

Sebagai negara yang sangat disiplin dan ketat menjalankan Islam secara salafiah (tradisional), kehidupan beragama dan bermasyarakat di negeri petrodollar itu memang tidak seperti di Barat. Maka tak heran bila, menurut ukuran Barat, kehidupan di Arab Saudi dianggap serba terkungkung dan bertentangan dengan nilai-nilai hak asasi manusia.

Human Rights Watch (HRW) telah beberapa kali mengirimkan surat kepada Raja Abdullah terkait dengan kebebasan beragama di Saudi. Kehadiran Raja Abdullah di Inggris, 30 Oktober 2007, juga disambut aksi para pemrotes terkait dengan pengungkungan kehidupan warganya dalam pelbagai bidang.

Meskipun demikian, Raja Abdullah sesungguhnya telah melakukan beberapa pembaruan dan perubahan. Sejak tahun 2003, seperti ditulis BBC, tanda-tanda meningkatnya keterbukaan mulai terlihat dengan munculnya topik-topik yang semula dianggap tabu lewat televisi-televisi Saudi.

Pemilihan umum dewan kota pada tahun 2005 juga merupakan praktik demokrasi terbatas, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dilakukan di Saudi. Memang, praktik demokrasi itu masih sangat jauh dari ideal karena banyak partai politik dilarang, khususnya partai-partai yang mengambil garis oposisi. Namun, setidaknya demokrasi mulai diperkenalkan di kerajaan itu.

Untuk seseorang yang dibesarkan dalam tradisi kuat Kerajaan Saudi—termasuk menghabiskan sebagian waktu masa kecilnya tinggal di padang pasir bersama suku Beduin—dalam diri Abdullah sudah tertanam nilai-nilai kehormatan, kesederhanaan, kedermawanan, dan keberanian. Karena itu, tidak mudah bagi dia untuk keluar dari tata nilai dan tradisi yang sangat kuat di sekitarnya.

Raja Abdullah juga bukan orang yang berwawasan sempit. Ketika masih menjadi putra mahkota, Pangeran Abdullah terbilang rajin melakukan kunjungan ke luar negeri, antara lain ke Perancis (2005), Austria (2004), Rusia (2003), dan Jerman (2001), serta sejumlah perjalanan di seputar negara-negara Arab dan dunia Islam.

Pada tahun 2000, menyusul KTT Milenium di PBB di New York, AS, Abdullah kemudian melanjutkan perjalanan ke Brasil, Argentina, dan Venezuela. Dia juga pernah berkunjung ke Inggris, China, Jepang, Korea Selatan, dan Pakistan.

Kunjungan ke berbagai negara itu diyakini cukup memengaruhi pemikiran Abdullah dalam berbagai hal sehingga dia pun kemudian mulai melonggarkan sejumlah ”aturan” yang sebelumnya berlaku di Arab Saudi.

Kehidupan beragama

Tidak ada yang tahu pasti apa yang kemudian membuat Raja Abdullah melunak dalam hal kehidupan beragama. Di luar dugaan, pada Maret 2008 Raja Abdullah menyerukan sebuah ”dialog yang tulus dan penuh persaudaraan di antara para penganut dari semua agama”. Ia kemudian menyelenggarakan konferensi di Mekkah pada Juni 2008, untuk mendorong para pemimpin Muslim berbicara dengan satu suara bersama para pemimpin Yahudi dan Kristen.

Pada Juni 2008 juga, Arab Saudi dan Spanyol sepakat menyelenggarakan dialog antaragama di Spanyol, yang kemudian berlangsung di Madrid, Juli 2008. Dialog antaragama ini dihadiri para pemimpin agama dari berbagai agama/kepercayaan. Padahal, sebelumnya Raja Abdullah tidak pernah membuka pintu dialog dengan para pemimpin agama non-monoteistik seperti Hindu dan Buddha.

Terlepas dari kritik sejumlah pihak yang menganggap inisiatif Raja Abdullah itu sekadar untuk memperbaiki citra, banyak pula pihak yang memuji upaya Raja Saudi dalam menyelenggarakan dialog antaragama di Majelis Umum PBB tersebut. Upaya itu sebagai kesungguhan seorang pemimpin Islam untuk merangkul berbagai penganut agama.

Raja Abdullah agaknya mulai menyadari bahwa salah satu bahaya besar yang dihadapi negerinya adalah munculnya pemahaman agama Islam secara ekstrem di kalangan warga Saudi sendiri. Pengajaran Islam yang tidak tepat dapat menumbuhkan fanatisme berlebihan, serta berpotensi disalahgunakan untuk menanamkan pemikiran-pemikiran yang ekstrem.

Oleh karena itulah, seperti yang disampaikan beberapa pengamat, dialog antaragama di Markas Besar PBB dengan Raja Abdullah sebagai pemrakarsa utamanya juga berisi pesan penting untuk dalam negeri Saudi, yaitu agar para ulama dan masyarakat Saudi pada umumnya bisa lebih membuka diri dan bertoleransi kepada warga lain yang berbeda agama.

Dengan menanamkan toleransi itu, diharapkan bahaya ekstremisme akan semakin berkurang. Pendekatan budaya ini diharapkan melengkapi upaya-upaya keamanan yang terus gencar dilakukan di Arab Saudi.
 
Raja Arab tapi koq mirip orang barat ya....
 
ras kaukasian kan..... kalo orang asia, rata rata ras mongoloid, africa ras negroid...
 
Raja Arab tapi koq mirip orang barat ya....

memang bgitu , agak mirip karena rasnya sama... dan dahulu juga dah ada campurannya kan... pernah liat brita di aljazeera ngga , kadang dah kek bule eropa ato amerika aja , hwhwhw matanya bisa ijo ...
 
memang bgitu , agak mirip karena rasnya sama... dan dahulu juga dah ada campurannya kan... pernah liat brita di aljazeera ngga , kadang dah kek bule eropa ato amerika aja , hwhwhw matanya bisa ijo ...

KAn udah dijelasin, bahwa penduduk Bumi dibagi menjadi 3 ras:

  1. Kaukasian
  2. Mongoloid
  3. Negroid.

Nah, Timur Tengah, India (non Tamil), Eropa, semuanya masih termasuk ras Kaukasian....

cape deh....
 
termasuk ras kaukasian alias condong kebarat bos /no1
 
KAn udah dijelasin, bahwa penduduk Bumi dibagi menjadi 3 ras:

  1. Kaukasian
  2. Mongoloid
  3. Negroid.

Nah, Timur Tengah, India (non Tamil), Eropa, semuanya masih termasuk ras Kaukasian....

cape deh....

jgn marah2,cc...cape d..../hmm
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.