Satubet111
IndoForum Newbie E
- No. Urut
- 282752
- Sejak
- 14 Mar 2014
- Pesan
- 54
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 6
Rabies, atau yang sering disebut penyakit anjing gila, merupakan suatu penyakit zoonotik (penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia) yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus. Virus ini dapat menginfeksi manusia dan hampir semua mamalia, terutama anjing. Menurut WHO, diperkirakan lebih dari 55 ribu orang meninggal dunia akibat rabies di seluruh dunia setiap tahunnya. Mayoritas kematian pada manusia terjadi di Afrika dan Asia, dan 40% kasus gigitan oleh binatang yang dicurigai terinfeksi rabies terjadi pada anak berusia di bawah 15 tahun.
Penduduk yang tinggal di daerah pedesaan mempunyai risiko paling tinggi terinfeksi rabies karena terbatasnya persediaan vaksin. Penyakit rabies ini sudah pernah dideskripsikan sejak ribuan tahun yang lalu, dan keterkaitannya dengan anjing gila juga sudah dikenal luas. Pada abad ke-19, Louis Pasteur mengembangkan suatu vaksin yang berhasil mencegah rabies setelah diujicobakan pada seorang anak yang digigit anjing yang terinfeksi rabies.
Pada umumnya virus ini ditularkan melalui saliva atau air liur binatang yang terinfeksi akibat dari gigitan atau cakaran. Penularan dapat terjadi akibat dari keterlibatan kelenjar air liur dan mukosa pada mulut. Virus ini berada di kelenjar air ludah anjing 5-7 hari sebelum kematian mereka akibat rabies, sehingga membatasi periode penularan. Virus ini jarang ditularkan melalui kontaminasi kulit yang mengalami luka lecet atau membran mukosa pada mata, hidung, atau mulut dengan air liur hewan perantara.
Transmisi melalui udara yang mengandung virus rabies akibat terhirup juga dapat terjadi tapi jarang. Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi. Transmisi melalui transplantasi kornea atau organ tubuh dari pendonor dengan status infeksi yang tidak diketahui jelas juga pernah dilaporkan.
Masa inkubasi, periode dari waktu tergigit sampai menunjukkan gejala, biasanya sekitar 20-90 hari, namun dapat sampai lebih dari setahun. Hal ini bergantung pada luas dan lokasi luka gigitan. Semakin dekat luka tersebut dengan otak, semakin singkat masa inkubasinya. Dengan kata lain, orang yang tergigit pada kepala bisa lebih cepat menunjukkan gejala daripada orang yang tergigit pada tangan.
Biasanya riwayat tergigit binatang ada, namun penderita bisa saja tidak menyadari adanya paparan karena masa inkubasinya yang panjang. Individu yang terinfeksi yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat akan menunjukkan gejala klinis. Gejala yang muncul pertama kali biasanya tidak spesifik seperti demam, menggigil, tidak enak badan, sulit tidur, sakit kepala, sakit tenggorokan, mual, muntah, ataupun tidak nafsu makan. Sekitar 50% penderita akan mengeluh rasa sakit, gangguan sensasi di kulit, atau gatal-gatal hebat di tempat gigitan atau sekitarnya, dan hal ini merupakan ciri khas dari penyakit ini. Kulit bisa menjadi lebih sensitif terhadap perubahan temperatur, terutama aliran udara (aerofobia). Pada tahap selanjutnya, virus akan menyerang susunan saraf pusat, menyebabkan radang pada otak dan sumsum tulang belakang. Pada saat inilah rabies hampir selalu menjadi fatal. Pemulihan sangat jarang terjadi, dan kematian biasanya dikaitkan dengan gagal napas.
Secara umum, ada dua bentuk gambaran klinis yang dapat muncul kira-kira 2-10 hari setelah timbulnya gejala awal, dan menjadi petanda virus sudah menyerang sistem saraf pusat. Tipe pertama adalah furious rabies, yang ditandai dengan agitasi, hiperaktif, gelisah, memberontak, insomnia, dan halusinasi yang berlangsung sesaat. Setelah beberapa jam sampai beberapa hari, gejala-gejala tersebut menjadi episodik dan diselingi periode tanpa gejala di mana penderita terlihat tenang.
Salivasi atau pengeluaran air liur menjadi berlebihan, dan usaha untuk minum atau bahkan melihat cairan dapat memicu rasa sakit hebat akibat kontraksi tiba-tiba dan kuat pada otot laring dan faring. Ketakutan yg berlebihan dan tidak normal pada air inilah yang dikenal dengan sebutan hidrofobia. Kejang dapat juga terjadi selama periode ini. Gejala dapat muncul kembali apabila terangsang oleh suara, cahaya hingga sentuhan. Tipe kedua yang lebih jarang terjadi adalah paralytic rabies.
Penduduk yang tinggal di daerah pedesaan mempunyai risiko paling tinggi terinfeksi rabies karena terbatasnya persediaan vaksin. Penyakit rabies ini sudah pernah dideskripsikan sejak ribuan tahun yang lalu, dan keterkaitannya dengan anjing gila juga sudah dikenal luas. Pada abad ke-19, Louis Pasteur mengembangkan suatu vaksin yang berhasil mencegah rabies setelah diujicobakan pada seorang anak yang digigit anjing yang terinfeksi rabies.
Pada umumnya virus ini ditularkan melalui saliva atau air liur binatang yang terinfeksi akibat dari gigitan atau cakaran. Penularan dapat terjadi akibat dari keterlibatan kelenjar air liur dan mukosa pada mulut. Virus ini berada di kelenjar air ludah anjing 5-7 hari sebelum kematian mereka akibat rabies, sehingga membatasi periode penularan. Virus ini jarang ditularkan melalui kontaminasi kulit yang mengalami luka lecet atau membran mukosa pada mata, hidung, atau mulut dengan air liur hewan perantara.
Transmisi melalui udara yang mengandung virus rabies akibat terhirup juga dapat terjadi tapi jarang. Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi. Transmisi melalui transplantasi kornea atau organ tubuh dari pendonor dengan status infeksi yang tidak diketahui jelas juga pernah dilaporkan.
Masa inkubasi, periode dari waktu tergigit sampai menunjukkan gejala, biasanya sekitar 20-90 hari, namun dapat sampai lebih dari setahun. Hal ini bergantung pada luas dan lokasi luka gigitan. Semakin dekat luka tersebut dengan otak, semakin singkat masa inkubasinya. Dengan kata lain, orang yang tergigit pada kepala bisa lebih cepat menunjukkan gejala daripada orang yang tergigit pada tangan.
Biasanya riwayat tergigit binatang ada, namun penderita bisa saja tidak menyadari adanya paparan karena masa inkubasinya yang panjang. Individu yang terinfeksi yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat akan menunjukkan gejala klinis. Gejala yang muncul pertama kali biasanya tidak spesifik seperti demam, menggigil, tidak enak badan, sulit tidur, sakit kepala, sakit tenggorokan, mual, muntah, ataupun tidak nafsu makan. Sekitar 50% penderita akan mengeluh rasa sakit, gangguan sensasi di kulit, atau gatal-gatal hebat di tempat gigitan atau sekitarnya, dan hal ini merupakan ciri khas dari penyakit ini. Kulit bisa menjadi lebih sensitif terhadap perubahan temperatur, terutama aliran udara (aerofobia). Pada tahap selanjutnya, virus akan menyerang susunan saraf pusat, menyebabkan radang pada otak dan sumsum tulang belakang. Pada saat inilah rabies hampir selalu menjadi fatal. Pemulihan sangat jarang terjadi, dan kematian biasanya dikaitkan dengan gagal napas.
Secara umum, ada dua bentuk gambaran klinis yang dapat muncul kira-kira 2-10 hari setelah timbulnya gejala awal, dan menjadi petanda virus sudah menyerang sistem saraf pusat. Tipe pertama adalah furious rabies, yang ditandai dengan agitasi, hiperaktif, gelisah, memberontak, insomnia, dan halusinasi yang berlangsung sesaat. Setelah beberapa jam sampai beberapa hari, gejala-gejala tersebut menjadi episodik dan diselingi periode tanpa gejala di mana penderita terlihat tenang.
Salivasi atau pengeluaran air liur menjadi berlebihan, dan usaha untuk minum atau bahkan melihat cairan dapat memicu rasa sakit hebat akibat kontraksi tiba-tiba dan kuat pada otot laring dan faring. Ketakutan yg berlebihan dan tidak normal pada air inilah yang dikenal dengan sebutan hidrofobia. Kejang dapat juga terjadi selama periode ini. Gejala dapat muncul kembali apabila terangsang oleh suara, cahaya hingga sentuhan. Tipe kedua yang lebih jarang terjadi adalah paralytic rabies.
Terakhir disunting oleh moderator: