Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Nah, ini ada kabar menarik buat anda yg aktif di olahraga, gengs! Setiap tahun, sekitar 2 juta orang Amerika mengalami cedera rotator cuff di bahu mereka, termasuk para remaja yg aktif di bisbol, bola voli, atau renang. Cederanya kadang susah banget buat diobati, & bahkan cuma satu dari tiga operasi yg berhasil. Tapi, tenang aja, ada asa baru!
Rotator Cuff adalah sekelompok otot & tendon di bahu yg memainkan peran penting dalam pergerakan & stabilitas. Cedera di area ini, seperti robekan atau peradangan, dapat sangat menyakitkan & membatasi fungsi sendi. Salah satu metode perbaikan yg paling biasa adalah melalui pembedahan, di mana tendon yg robek disambungkan kembali ke tulang lengan. Namun, proses ini memiliki tantangannya sendiri. Jahitan cuma menambatkan tendon pada beberapa titik, memberikan tekanan akbar pada area tertentu. Karena tendon yg sudah rapuh, hal ini dapat menyebabkan robekan ulang.
Karena tingginya kemungkinan komplikasi, beberapa dokter memilih untuk tidak mengerjakan operasi. Dan meskipun pembedahan dilakukan, tidak sering menjamin kesuksesan. Faktanya, tingkat kegagalan operasi rotator-cuff cukup bervariasi, mulai dari 20% - 94%. Dengan risiko ini, pasien sering dihadapkan pada opsi yg sulit antara mencoba perbaikan bedah atau mencari alternatif lain. Meskipun begitu, perawatan yg lebih maju & penelitian terus dikembangkan untuk meningkatkan peluang kesembuhan & mengurangi kegagalan operasi di masa depan.
Stavros Thomopoulos, seorang insinyur biomedis dari Universitas Columbia, bersama timnya sudah merancang perangkat inovatif yg dirancang untuk menolong perbaikan tendon & tulang yg robek. Alat ini mengpakai deretan "gigi" kecil & runcing yg menempel pada tendon serta tulang, menyebarkan tekanan di berbagai titik perlekatan. Ini menolong mengurangi risiko robekan lebih lanjut & meningkatkan hasil pengobatan ketika dipakai bersamaan dengan jahitan standar, sebagaimana dilaporkan dalam jurnal Science Advances edisi 28 Juni.
Inspirasi di balik perangkat ini berasal dari alam, khususnya dari Python Fangs. Berbeda dengan gigi yg dirancang untuk memotong seperti milik hiu, taring ular piton melengkung ke dalam & menggali lebih dalam saat mangsa mencoba melawan.
"Ini adalah momen yg sangat penting," mengatakan Thomopoulos.
Mengingat bagaimana prinsip ini diterapkan pada alat medis yg mereka kembangkan. Dengan mengpakai pendekatan ini, para peneliti berharap dapat meningkatkan efektivitas pengobatan untuk cedera tendon yg seringkali rentan kepada kerusakan ulang. Sistem ini memberikan asa baru untuk pemulihan yg lebih baik bagi pasien dengan cedera jaringan yg kompleks.
Tim peneliti pertama-tama menghitung ukuran & bentuk terbaik untuk gigi pada perangkat baru mereka dengan mengpakai simulasi komputer & matematika. Setelah itu, mereka mencetak gigi 3D baik dalam bentuk tunggal maupun dalam set, & mengerjakan berbagai tes untuk menentukan penempatan & cengkeraman terbaik. Selanjutnya, para insinyur bekerja sama dengan pakar bedah untuk menguji perangkat tersebut pada mayat yg disumbangkan demi ilmu pengetahuan. Setiap mayat memiliki cedera pada rotator cuff di kedua bahunya. Tim memperbaiki satu bahu dengan jahitan biasa, sementara bahu lainnya diperbaiki dengan jahitan serta perangkat baru ini.
"Kami secara mekanis menguji kekuatan yg ditambahkan oleh perangkat ini," mengatakan Iden Kurtaliaj, pakar bioteknologi di Icahn School of Medicine, New York.
Data menunjukkan bahwa bahu yg diperbaiki dengan perangkat baru memiliki daya tahan dua kali lebih kuat dibandingkan dengan yg cuma diperbaiki dengan jahitan biasa. Hasil ini menunjukkan bahwa perangkat baru ini memberikan dukungan tambahan yg signifikan dalam memperbaiki cedera rotator cuff, menawarkan asa untuk perawatan yg lebih efektif di masa depan. Dengan pendekatan kolaboratif antara pakar bedah & insinyur, perkembangan ini dapat jadi langkah maju dalam dunia medis.
Eric Nauman, seorang insinyur biomedis di University of Cincinnati, menyebut perangkat baru untuk pengobatan bahu ini jauh lebih elegan dibandingkan alat yg dipakai dokter saat ini.
"Apa pun yg dapat dilakukan untuk bahu adalah sebuah kemenangan," ujarnya.
Meski dia tidak terlibat dalam penelitian tersebut. Namun, masih banyak tantangan yg harus dihadapi sebelum perangkat ini dapat dipakai pada manusia. Ghanashyam Acharya, seorang peneliti biomedis di Baylor College of Medicine di Houston, menyatakan bahwa perangkat ini perlu diuji pada hewan untuk memastikan keamanan & keefektifannya dalam jangka panjang. Ada risiko bahwa perangkat dapat merusak tendon saat tubuh sembuh. Meski begitu, Acharya menyebut perangkat ini sebagai langkah perdana yg signifikan & inovatif dalam meningkatkan operasi rotator-cuff, yg jadi asa baru dalam bidang pengobatan bahu.
source: snexplores.org/article/python-fangs-inspire-shoulder-surgery
pic: unsplash.com/Thomas Oldenburger
Rotator Cuff adalah sekelompok otot & tendon di bahu yg memainkan peran penting dalam pergerakan & stabilitas. Cedera di area ini, seperti robekan atau peradangan, dapat sangat menyakitkan & membatasi fungsi sendi. Salah satu metode perbaikan yg paling biasa adalah melalui pembedahan, di mana tendon yg robek disambungkan kembali ke tulang lengan. Namun, proses ini memiliki tantangannya sendiri. Jahitan cuma menambatkan tendon pada beberapa titik, memberikan tekanan akbar pada area tertentu. Karena tendon yg sudah rapuh, hal ini dapat menyebabkan robekan ulang.
Karena tingginya kemungkinan komplikasi, beberapa dokter memilih untuk tidak mengerjakan operasi. Dan meskipun pembedahan dilakukan, tidak sering menjamin kesuksesan. Faktanya, tingkat kegagalan operasi rotator-cuff cukup bervariasi, mulai dari 20% - 94%. Dengan risiko ini, pasien sering dihadapkan pada opsi yg sulit antara mencoba perbaikan bedah atau mencari alternatif lain. Meskipun begitu, perawatan yg lebih maju & penelitian terus dikembangkan untuk meningkatkan peluang kesembuhan & mengurangi kegagalan operasi di masa depan.
Stavros Thomopoulos, seorang insinyur biomedis dari Universitas Columbia, bersama timnya sudah merancang perangkat inovatif yg dirancang untuk menolong perbaikan tendon & tulang yg robek. Alat ini mengpakai deretan "gigi" kecil & runcing yg menempel pada tendon serta tulang, menyebarkan tekanan di berbagai titik perlekatan. Ini menolong mengurangi risiko robekan lebih lanjut & meningkatkan hasil pengobatan ketika dipakai bersamaan dengan jahitan standar, sebagaimana dilaporkan dalam jurnal Science Advances edisi 28 Juni.
Inspirasi di balik perangkat ini berasal dari alam, khususnya dari Python Fangs. Berbeda dengan gigi yg dirancang untuk memotong seperti milik hiu, taring ular piton melengkung ke dalam & menggali lebih dalam saat mangsa mencoba melawan.
"Ini adalah momen yg sangat penting," mengatakan Thomopoulos.
Mengingat bagaimana prinsip ini diterapkan pada alat medis yg mereka kembangkan. Dengan mengpakai pendekatan ini, para peneliti berharap dapat meningkatkan efektivitas pengobatan untuk cedera tendon yg seringkali rentan kepada kerusakan ulang. Sistem ini memberikan asa baru untuk pemulihan yg lebih baik bagi pasien dengan cedera jaringan yg kompleks.
Tim peneliti pertama-tama menghitung ukuran & bentuk terbaik untuk gigi pada perangkat baru mereka dengan mengpakai simulasi komputer & matematika. Setelah itu, mereka mencetak gigi 3D baik dalam bentuk tunggal maupun dalam set, & mengerjakan berbagai tes untuk menentukan penempatan & cengkeraman terbaik. Selanjutnya, para insinyur bekerja sama dengan pakar bedah untuk menguji perangkat tersebut pada mayat yg disumbangkan demi ilmu pengetahuan. Setiap mayat memiliki cedera pada rotator cuff di kedua bahunya. Tim memperbaiki satu bahu dengan jahitan biasa, sementara bahu lainnya diperbaiki dengan jahitan serta perangkat baru ini.
"Kami secara mekanis menguji kekuatan yg ditambahkan oleh perangkat ini," mengatakan Iden Kurtaliaj, pakar bioteknologi di Icahn School of Medicine, New York.
Data menunjukkan bahwa bahu yg diperbaiki dengan perangkat baru memiliki daya tahan dua kali lebih kuat dibandingkan dengan yg cuma diperbaiki dengan jahitan biasa. Hasil ini menunjukkan bahwa perangkat baru ini memberikan dukungan tambahan yg signifikan dalam memperbaiki cedera rotator cuff, menawarkan asa untuk perawatan yg lebih efektif di masa depan. Dengan pendekatan kolaboratif antara pakar bedah & insinyur, perkembangan ini dapat jadi langkah maju dalam dunia medis.
Eric Nauman, seorang insinyur biomedis di University of Cincinnati, menyebut perangkat baru untuk pengobatan bahu ini jauh lebih elegan dibandingkan alat yg dipakai dokter saat ini.
"Apa pun yg dapat dilakukan untuk bahu adalah sebuah kemenangan," ujarnya.
Meski dia tidak terlibat dalam penelitian tersebut. Namun, masih banyak tantangan yg harus dihadapi sebelum perangkat ini dapat dipakai pada manusia. Ghanashyam Acharya, seorang peneliti biomedis di Baylor College of Medicine di Houston, menyatakan bahwa perangkat ini perlu diuji pada hewan untuk memastikan keamanan & keefektifannya dalam jangka panjang. Ada risiko bahwa perangkat dapat merusak tendon saat tubuh sembuh. Meski begitu, Acharya menyebut perangkat ini sebagai langkah perdana yg signifikan & inovatif dalam meningkatkan operasi rotator-cuff, yg jadi asa baru dalam bidang pengobatan bahu.
source: snexplores.org/article/python-fangs-inspire-shoulder-surgery
pic: unsplash.com/Thomas Oldenburger