Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hai GanSis, selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan bagi yg menjalankannya. Secara ajaran Islam, sebenarnya prosesi ibadah puasa sama saja disetiap tempat. Namun disparitas budaya disetiap daerah, khususnya di Indonesia, maka muncul beragam tradisi menjelang & selama bulan puasa.
Seperti kita ketahui di Indonesia setiap Ramadan sering ada tradisi khas yg senantiasa dijaga masyarakat sejak lama hingga sekarang. Termasuk di lingkungan sekitar saya sendiri.
Mungkin beberapa GanSis di sini sudah tahu lah kalau di Sumatera Utara yg diketahui ada tradisi Punggahan. Berasal dari mengatakan Munggahan, yg berarti naik. Diharapkan sanggup menaikkan derajat manusia yg beribadah di bulan Ramadan. Munggah berasal dari bahasa Sunda. Saya juga gak tahu kenapa di Sumatera Utara jadi disebut Punggahan.
Menurut informasi yg saya tahu, hampir di seluruh Sumatera Utara masyarakatnya masih menjaga tradisi Punggahan ini. Namun kalau ditelusuri lagi, ternyata prosesi Punggahan berbeda disetiap tempat.
Seperti di Labuan Batu diselenggarakan dengan warga membawa & menyantap makanan bersama di Masjid. sementara di Batubara Punggahan dilakukan dengan menyembelih hewan ternak berjenis kerbau atau lembu pada 32 hari sebelum 1 Ramadan. Saya lihatnya ini seperti tradisi Meugang di Aceh.
Ya inilah uniknya yg mau saya cerita terkait tradisi Ramadan yg ada disekitar lingkungan saya. Bahwa tradisi disetiap tempatnya memang berbeda. Namun saling terkait & mempengaruhi. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan di Sumatera Utara memang sangat beragam.
Di kota tempat saya tinggal, Binjai. Di kota yg cukup heterogen suku bangsanya ini. Tradisi Punggahan bahkan dilaksanakan berbeda di setiap kecamatan bahkan beda antar lorong (atau RT/RW). Biasa dilaksanakan tiga atau dua hari menjelang Ramadan.
Quote:
Acara Punggahan di salah satu Masjid di Kota Dumai - (maaf karena saya tidak punya foto dokumen pribadi, jadi pinjam dari penasatu.com)
Di lingkungan rumah dekat keluarga dari Mamak, setiap tahunnya Masjid disini menyelenggarakan tradisi Punggahan Ramadan. Yang mana kecil saya dulu menyebutnya juga sebagai "tukar-tukaran makanan".
Jadi prosesi tetap ada makanannya seperti halnya Punggahan di daerah lain. Bedanya tidak dimakan bersama di lingkungan Masjid. Melainkan dibawah pulang rumah.
Dari rumah, warga membawa bungkusan berisi makanan. Sehingganya di Masjid lalu dikumpulkan di suatu tempat, tanpa ditandai siapa pemilik. Kemudian para warga berkumpul di dalam Masjid untuk berdoa, disebut juga sebagai Kenduri.
Setelah Kenduri selesai. Makanan yg tadi dikumpulkan, lalu dibagikan kembali secara acak. Jadi saling tertukar gitu makanannya. Ada yg pergi bawa telur, pulangnya dapat ayam. Begitu sebaliknya. Seru, bikin penasaran.
Tapi sesungguhnya bukan makanannya yg dicari. Melainkan makna dari tradisi itu yg diutamakan. Terlebih dalam Pandemi seperti sekarang, model Punggahan seperti ini lebih cocok diterapkan.
Acaranya lebih simpel. Tidak ada makan bersama & berkumpul dalam waktu lama. Datang bawa makanan, berdoa, selesai, langsung pulang bawa bungkus makanan.
Quote:
Makan bersama dalam rangka Punggahan - insirasidata.com 2020 merdeka.com
Sementara di lingkungan keluarga dari Bapak, masih di Binjai juga, yg kebetulan sekarang saya tinggal disini. Tradisi Punggahannya disini berbeda lagi.
Dimana warga membawa makanan ke Masjid lalu dimakan bersama setelah berdoa bersama. Keguyuban memang lebih terasa begini. Namun durasinya lebih lama.
Tidak itu saja, masih ada tradisi Ramadan lainnya.
Saya tinggal di Sumatera Utara dengan lingkungan mayoritas Jawa. Jadi tradisinya jadi beragam. Menjelang Ramadan disini juga ada tradisi Nyadran atau ziarah kubur.
Ada juga tradisi antar-antaran atau disini sering disebut punjungan. Jadi anak ke orang tua, atau ke saudara tertua, atau dapat juga antar keluarga saling berbagi makanan. Umumnya sih hantaran makanan diberikan kepada mereka yg lebih tua.
Dari antar-antaran makanan seperti itu dimaksudkan di sahur perdana nanti dapat makan dengan menu yg lezat, ada ayam atau daging. Terkhusus bagi para orang tua sebagai bentuk perhatian.
Jika boleh merangkum tradisi di bulan Ramadan yg ada disekitar saya, maka secara biasa tidak jauh-jauh dari makanan. Dari Punggahan, hantaran, hingga ada tradisi Jaburan selama bulan Ramadan.
Seperti kita ketahui, Jaburan merupakan tradisi warga mengirim makanan kecil maupun berat ke Masjid untuk keperluan tadarus. Namun karena belakangan stok makanan yg datang melimpah, maka makanan tadi diperuntukkan juga untuk berbuka puasa di Masjid.
.....
Saat saya kecil, mengira memang tradisi setiap bulan Ramadan yg ada disekitar lingkungan saya, juga sama ada di seluruh Indonesia. Tapi belakangan saya mulai tahu bahwa tradisi Ramadan, spesifik di negara Indonesia beragam di setiap daerah.
Misalnya saja saya pernah dengar cerita pengurus Masjid disini, yg kebetulan suku Melayu. Dari pengakuannya, di kampung asalnya tidak ada tradisi Punggahan.
Kemudian saya telusuri lebih lanjut di internet. Ternyata tradisi Ramadan suku Melayu dilakukan dengan mengunjungi sungai. Tradisi ini dinamai Petang Balimau (Pekanbaru, Riau) & Balimau Paga (Pesesir Selatan, Sumatera Barat).
Quote:
Tradisi Balimau Paga - padangos.com
Mandi di sungai dengan tujuan membersihkan diri, berdoa bersama, makan bersama di pinggir sungai & bergembira. Menyambut bulan suci Ramadan dengan bergembira.
Kebetulan juga ada saudara saya yg tinggal di Langkat, Sumut. Setiap menyambut datangnya bulan Puasa dengan mendatangi sungai. Sama disebutkan diatas, mandi & makan bersama. Saya juga pernah ikut ke sungai tersebut, tetapi tidak pada bulan Ramadan. Melainkan waktu Lebaran.
Tujuannya bukan untuk ritual yg gimana-gimana. Hanya untuk berekreasi bersama keluarga saja. Kami sering menyebutnya "mandi sunge". Dan meningkatkan antusiasme anak-anak dalam menyambut Ramadan.
Quote:
Tradisi Malamang di Padang - ANTARA FOTO/Iggoy El Fitra)
Dan ternyata GanSis, tradisi Ramadan di Indonesia itu beragam banget. Jangan kaget, kalau dilingkungan saya juga ada tradisi bikin lemang & juga lontong. Mirip tradisi Malamang di Sumatera Barat. Tapi itu nanti jelang lebaran.
Jika GanSis punya tradisi Ramadan di lingkungan anda yg pengen anda ceritakan, dapat banget klik disini. Sekali lagi selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Semoga puasanya lancar & jadi #RamadanBerkah untuk kita semua yg menjalankan, lingkungan, perdamaian dunia & semesta alam.
Rianda Prayoga #NapaweiPost
Binjai, 18 April 2021
Spoiler for sumber & referensi:
Hari ini 16:54