• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Pulau monyet, peristirahatan simpanse korban penelitian medis

facebookeb

IndoForum Senior A
No. Urut
210735
Sejak
9 Jan 2013
Pesan
7.471
Nilai reaksi
96
Poin
48
iToAG.jpg
Pernah nonton film Planet of the Apes? Film ini menceritakan tentang pertarungan antara manusia dan kera cerdas yang saling berebut kuasa. Ternyata, tempat seperti yang diceritakan dalam film Planet of the Apes bisa kita temui di dunia nyata.

Terletak di sebuah daerah terpencil yang jauh di hutan Afrika Barat, terdapat sebuah area yang dihuni oleh puluhan simpanse yang dulunya digunakan dalam penelitian medis. Mereka adalah pahlawan bagi manusia, karena tanpa mereka, para ilmuwan tentunya tidak dapat memformulasikan berbagai macam obat.

Para simpanse ini telah berhasil bertahan dari berbagai macam penyakit dan berbagai tes medis. Mereka semua dulunya adalah penghuni The Liberian Institute of Biomedical Research (Vilab II). Lembaga medis ini memainkan peran penting dalam pengembangan pengobatan untuk penyakit seperti Hepatitis selama tahun 1970-an. Namun, kemudian laboratorium ini tutup pada pertengahan 2000-an karena tekanan dari aktivis hak-hak binatang.
rBiN5.jpg
Semua simpanse itu kemudian dipindahkan ke sebuah pulau terpencil di Pulau Liberian di Sungai Farmington untuk menikmati masa pensiun mereka. Pulau ini pun kemudian dikenal penduduk setempat sebagai Monkey Island atau Pulau Kera.

Pulai ini menjadi rumah bagi lebih dari 60 simpanse yang hanya menerima kehadiran beberapa teman manusia yang akrab dengan mereka. Kisah mereka pernah diulas dalam sebuah film dokumenter pendek yang diberi judul Island of the Apes. Film tersebut dibuat untuk mempromosikan film Dawn of the Planet of the Apes yang dirilis tahun ini.
EPWde.jpg
Film dokumenter pendek yang diberi judul Island of the Apes ini menggambarkan perjalanan dan pengalaman wartawan Amerika Kaj Larsen ketika berkunjung ke Monkey Island. Untuk mencapai pulau tersebut, Larsen harus menyetir sejauh 64 km dari Monrovia ke desa Marshall, dan kemudian bernegosiasi dengan penduduk setempat untuk membawanya ke pulau itu dengan menumpang salah satu kano mereka. Setelah bernegosiasi tentang harga sewa kano, dia pun dikenai biaya sewa seharga USD 80 (sekitar Rp 987.320).

Larsen juga membeli beberapa sisir pisang untuk diberikan kepada para simpanse itu. Namun, dia sempat diperingati penduduk desa untuk tidak melanjutkan perjalanannya karena itu sangat berbahaya. Kera-kera itu bisa saja menelannya hidup-hidup. Jerry, penjaga keamanan di pulau itu, mengatakan bahwa perjalanan ini sangat berbahaya dan para kera biasanya akan berubah agresif ketika bertemu orang asing.
6pL1B.jpg
"Mereka takut air. Mereka tidak berenang. Mereka hanya berjalan di pinggir pulau," jelas Jerry kepada Larsen.

Apa yang dikatakan Jerry terbukti, ketika kano mereka sampai di dekat pulau. Para simpanse itu mulai berteriak dan berperilaku agresif. Mereka memamerkan gigi mereka seperti hendak menyerang, namun ketika mereka mengetahui bahwa Larsen dan timnya membawa makanan, kera-kera itu berubah tenang.

"Ketika saya berada beberapa meter di dekat mereka, sulit percaya bahwa tempat ini benar-benar ada," jelas Larsen.

Namun cerita di balik bagaimana dan mengapa kera-kera itu ada di sana rupanya lebih menarik menurutnya. Dia pun mengunjungi kampus Vilab, di mana dia mengetahui bahwa dulunya ada lebih dari 100 simpanse yang disuntik dengan penyakit menular dalam upaya pengembangan obat.

Larsen mewawancarai Betsy Brotman, mantan direktur Vilab, untuk mempelajari lebih lanjut tentang fasilitas di sana. Dia menjelaskan bahwa Liberia sengaja dipilih karena jumlah populas simpansenya yang besar.

"Banyak orang yang memelihara simpanse di sana. Dan ketika mereka melewati usia tertentu, lima tahun, mereka tidak menjadi hewan peliharaan yang baik lagi. Dan itulah mengapa kami memutuskan untuk mengakuisisi hewan tersebut," terang Betsy.

Menurut penjelasan Dr. Preston Marx, seorang ahli virus yang bekerja di lembaga tersebut, simpanse dipilih karena mereka satu-satunya spesies yang rentan terhadap Hepatitis. Total ada enam pulau di mana semua simpanse itu dibebaskan di Liberia.

Masalah mulai muncul di Liberia pada tahun 1989, yang kemudian memicu perang saudara berdarah, dan program Vilab pun terancam ditutup. Di tengah-tengah perang saudara yang mengerikan itu, semua staf tetap berjuang untuk melanjutkan penelitian dan juga melindungi para simpanse yang dilepas ke pulau-pulau. Betsy bahkan memutuskan untuk tetap tinggal kala itu, meskipun harus membahayakan nyawanya.
oKl1z.jpg
Alasan Betsy bahkan sangat simpel. "Ada ratusan hewan yang butuh makan," katanya. Pada akhirnya, dia juga ikut membantu para korban yang selamat. Vilab dan stafnya tidak tetap aman sampai tahun 1993, ketika perang saudara menjadi semakin buruk, teroris menyerang rumah Betsy dan menembak mati suaminya, Brian. Pria itu dituduh bekerja untuk mantan Presiden Liberia Charles Taylor.

Walau insiden yang sangat memilukan itu menimpanya, Betsy tetap menolak untuk meninggalkan para simpanse dan orang-orang yang membutuhkan bantuannya. Dia pun berhasil melalui perang berdarah itu dan melanjutkan penelitiannya. Namun, pandangan tentang penggunaan hewan dalam penelitian medis memaksanya untuk segera menutup lab.

Tahun 2005, Vilan tak dapat bertahan dari tekanan para aktivis hak-hak hewan. "Saya kira mereka benar," ungkap Betsy. Dia setuju bahwa simpanse seharusnya tidak digunakan dalam eksperimen. jikalau sebuah lembaga ingin menggunakan mereka dalam penelitian, para peneliti harus menciptakan sebuah sistem di mana para primata nantinya bisa pensiun setelah melaluinya. Dan Monkey Island adalah jawaban dari Betsy.

Sampai saat ini, Betsy dan beberapa staf pendukung tetap memberi makan dan merawat kera-kera itu. Sebuah grup yang telah dilatih khusus di Liberia juga diberi tugas untuk membawakan kera-kera itu makanan setiap hari, mengamati perilaku mereka, dan memastikan bahwa mereka dalam keadaan baik.

Larsen pun sangat terkejut ketika dia mengunjungi pulau itu untuk kedua kalinya bersama para staf pendukung yang ditugasi untuk memberi makan para simpanse. Kera-kera itu bertingkah sangat tenang.

"Sangat jelas bahwa para simpanse itu sangat dekat dengan pengasuh mereka dan tentunya sangat mempercayai mereka," tandas Larsen.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.