• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

PT melahirkan beban-beban sosial baru?

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. goesdun
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

goesdun

IndoForum Junior A
No. Urut
32661
Sejak
7 Feb 2008
Pesan
3.024
Nilai reaksi
66
Poin
48
DUNIA Perguruan Tinggi (PT) dengan dunia usaha selalu dirasakan masih ada ketidakberesan. Rendahnya daya serap dunia usaha terhadap lulusan perguruan tinggi, pada gilirannya memperpanjang barisan pengangguran intelektual. Padahal dari tahun ke tahun perguruan tinggi terus melahirkan lulusannya, namun di sisi lain barisan pengangguran produksi perguruan tinggi pun terus terjadi. Bahkan terjadi kecenderungan angka pengangguran perguruan tinggi makin meningkat. Jumlah pengangguran intelektual dengan predikat sarjana pada tahun 2007 telah mendekati angkat 500 ribu jiwa.
Jika ditotal dengan lulusan diploma, baik diploma I hingga diploma III, maka angkanya sudah di ambang satu juta jiwa.

Apa yang terjadi dengan pendidikan tinggi di Indonesia sehingga melahirkan beban-beban sosial baru?

Pokok persoalan bisa dicari sedikitnya pada tiga pihak.


Pertama, pada sistem dan kebijakan pendidikan di perguruan tinggi.

Ketidaksiapan lulusan perguruan tinggi terjun ke dunia kerja, atau sebaliknya dunia usaha tidak dapat menyerap lulusan perguruan tinggi bisa jadi karena kurangnya ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibekali kepada lulusan perguruan tinggi. Perguruan tinggi sibuk dengan kegiatan akademisnya sehingga tidak mengantisipasi kebutuhan dunia kerja. Disinyalir pula, ada jurusan-jurusan yang sudah jenuh sehingga menghasilkan lulusan terlalu banyak sehingga dunia kerja tidak mempunyai daya serap lagi.

Kedua , dunia usaha hanya terfokus pada kepentingan bisnisnya sendiri dan hanya merekrut tenaga-tenaga sudah ''jadi'' untuk menggerakkan sektor-sektor usaha.

Maka, tidak aneh apabila sistem bajak-membajak tenaga kerja lebih dipilih ketimbang memberi peluang kepada fresh-graduated dari perguruan tinggi. Padahal, bukan mustahil tenaga siap pakai bisa didapatkan dunia usaha dari kalangan fresh-graduated, tentunya dengan pemberian pembekalan-pembekalan agar mereka bisa cepat beradaptasi di lingkungan kerjanya. Intinya, belum terjadi pola hubungan saling membutuhkan antara PT dengan dunia usaha. Apabila korelasi dan sinergi kedua institusi ini bisa lebih dimantapkan, PT memiliki kontribusi besar terhadap dunia usaha.

Ketiga, kurangnya motivasi kemandirian yang tumbuh selama menempuh pendidikan, khususnya dalam melihat sektor kerja.
Ketidakmandirian berpikir aka memandang bahwa bekerja hanyalah menjadi PNS dengan segala alasan ''kemudahan'' di belakangnya. Padahal, di luar itu ada alternatif-alternatif untuk dijadikan lahan penghidupan, yang tak kurang bergengsinya apabila ditekuni dengan setia. Faktor motivasi semacam inilah yang seharusnya ditumbuhkan juga selama masa pendidikan, bahkan sejak TK, disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan keperluannya. Untuk menumbuhkan motivasi kemandirian semacam itu tentu selain harus tumbuh dari kesadaran dan kemauan individu bersangkutan, juga memerlukan spirit lingkungan; keluarga dan masyarakat. Tidak mungkin tumbuh individu-individu yang memiliki kemandirian berpikir apabila menghadapi hambatan atau bahkan penentangan dari lingkungannya. Hambatan dan penentangan terjadi kemungkinan karena masih ada sikap diskriminatif sebagian dari kita dalam memandang dunia pendidikan.
Ada
bidang-bidang ilmu yang dianggap sangat unggul dan bergengsi sehingga akan memudahkan mencari pekerjaan. Di sisi lain ada bidang-bidang studi yang dianggap kurang gengsi, tidak unggul, kurang diminati sehingga akan menyulitkan mencari pekerjaan di kemudian hari. Padahal itu hanya persepsi yang tidak didasari kemandirian berpikir. Karenanya, para siswa/mahasiswa di satu sisi dan lingkungan keluarga/masyarakat di sisi lain harus tumbuh bersama menuju persepsi yang seiring dalam memandang dunia pendidikan dan korelasinya dengan dunia usaha.

Dengan demikian pilihan-pilihan studi akan lebih efektif, biaya, tenaga dan waktu lebih efisien.
 
^
sorry bro yg maw didebatin apa ga jelas? ini sih cocoknya dijadiin diskusi bukan debat
 
^
sorry bro yg maw didebatin apa ga jelas? ini sih cocoknya dijadiin diskusi bukan debat

Sorry saya mau taruh di Berita, tapi nyasar ke sini.

Pls ! @MOD pindah ini thread ke Gossip, Berita & Politik. Thank & salam.
 
trus kapan mau pimdahnya?
 
dah terlanjur masuk FA
jadikanlah topik debat wakakakakak

PT melahirkan beban sosial baru ?
(btw artikelnya dapat darimana , gw bantah nih ~_~)
Pertama, pada sistem dan kebijakan pendidikan di perguruan tinggi.
Kedua , dunia usaha hanya ter fokus pada kepentingan bisnisnya sendiri dan hanya merekrut tenaga-tenaga sudah ''jadi'' untuk menggerakkan sektor-sektor usaha.
Ketiga, kurangnya motivasi kemandirian yang tumbuh selama menempuh pendidikan, khususnya dalam melihat sektor kerja.

poin pertama gw setuju
poin kedua , hal ini tidak benar sepenuhnya. yang benar adalah bahwa lapangan pekerjaan di Indonesia terlalu sedikit untuk menyerap banyaknya lulusan kerja sehingga yang diminati adalah yang sudah berpengalaman,
Jika seandainya banyak lapangan pekerjaan, maka tenaga kerja berpengalaman akan terserap habis dan tersisa fresh graduate yang mana akan membuat lapangan pekerjaan yang baru menarik tenaga kerja fresh graduate

poin ketiga
Motivasi kemandirian tidak tumbuh itu karena salah pemerintah , yang cenderung memposisikan citra PNS dengan kehidupan yang terjamin oleh negara (tunjangan pensiun, gaji 13 etc) sehingga membuat PNS terlena dan membuat negara kita mempunyai daya saing yang rendah dalam SDM nya. Anda tahu , PNS itu sering disebut , 3D datang duduk duit. karena mereka tidak dibayar secara banyaknya kontribusi mereka tetapi gaji buta, hal ini menurunkan kompetensi dalam SDM bahkan dalam scope pegawai pemerintah

Negara tidak mewajibkan matakuliah yang membina kemandirian dalam berbisnis atau bekerja dalam setiap univ sehingga cenderung para mahasiswa tidak punya gambarang apa yang akan mereka lakukan setelah lulus. membangun bisnis baru ataupun bekerja pada orang lain. Kebanyakan memilih bekerja pada orang lain karena dikira resikonya rendah, padahal mereka tidak mengetahui bahwa dengan bekerja kepada orang lain punya beban yang sama dengan beban membuka bisnis baru, hanya skala nya saja yang berbeda
 
@Kenji,
Hahaha...:)) Tunggu keputusan Moderator ya bro...:D
 
gue pernah keseeeel bnaget ama dosen gue. Dia melecehkan gue karena nilai gue rendah trus kalo mau mendapat nilai yang "SEMESTINYA" nanti sore dateng ke rumah dia.pas gue dateng cuma dia sendiri mana gue hampir di gerayangin.Dia minta dipegang itu nya ama gue. goblok banget tuh. huh huh...sial banget gue waktu itu. jadi ga semua yang lulus itu bener2 lulus. ada yang maen ama dosen tuh.
 
gue pernah keseeeel bnaget ama dosen gue. Dia melecehkan gue karena nilai gue rendah trus kalo mau mendapat nilai yang "SEMESTINYA" nanti sore dateng ke rumah dia.pas gue dateng cuma dia sendiri mana gue hampir di gerayangin.Dia minta dipegang itu nya ama gue. goblok banget tuh. huh huh...sial banget gue waktu itu. jadi ga semua yang lulus itu bener2 lulus. ada yang maen ama dosen tuh.

busuk banget tuh dosen :(
 
Walahh masi ada dosen model gitu ya? hhuauhauhaua jadi inget waktu dulu di kampusku ..ada dosen jurusna D3 yang model gitu tuh...ngajak mahasiswinya Check in hauhauhauhauha :D
 
gue pernah keseeeel bnaget ama dosen gue. Dia melecehkan gue karena nilai gue rendah trus kalo mau mendapat nilai yang "SEMESTINYA" nanti sore dateng ke rumah dia.pas gue dateng cuma dia sendiri mana gue hampir di gerayangin.Dia minta dipegang itu nya ama gue. goblok banget tuh. huh huh...sial banget gue waktu itu. jadi ga semua yang lulus itu bener2 lulus. ada yang maen ama dosen tuh.

:)):)):)):)):)):))
Selanjutnya gimana tuh??? Geli bgt gw..
Ada aja...
 
halah...

yang dibahas malah yg laen :D

jadi kelanjutanya gimana?

ama dosennya gimaan?

wkwkwkwk OOT
 
DPR Shit!

Menurut gue PNS sekarang udah bagus.Buktinya waktu gue msh pegang papi gue yang cabang kecil buat pembangunan Jembatan di Bandung dulu.
PNS di Pemda udah berskill cuma mereka ga bisa membangun jembatan tsb scara lsng krn terkait Undang2 PNS ga boleh mengepalai perusahaan yang terkait dgn pekerjaan dan jabatan nya.
Tapi yang gue Nilai Brengsek itu DPR , masak biar proyek bisa dapet papi gue harus nyetor ke Mereka biar bisa di ACC tuh Proyek.Huh...
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.