jrxsbd
IndoForum Junior D
- No. Urut
- 296753
- Sejak
- 17 Des 2024
- Pesan
- 1.864
- Nilai reaksi
- 0
- Poin
- 36
Mengelola bisnis lokal hari ini tidak hanya soal jualan dan distribusi barang. Ada sisi lain yang ikut menentukan kelangsungan usaha, yaitu bagaimana kita mengatur keuangan, terutama yang berkaitan dengan piutang, utang, dan risiko pembayaran. Di sinilah PSAK 71 mulai terasa relevansinya, bahkan untuk usaha skala kecil hingga menengah.
Sekilas, PSAK 71 terdengar seperti topik yang “berat”. Namun jika ditarik ke aktivitas sehari-hari, sebenarnya ini sangat dekat dengan operasional bisnis, termasuk logistik. Setiap kali kita mengirim barang ke pelanggan dengan sistem pembayaran tempo, di situlah aspek akuntansi dan logistik saling bertemu.
Contohnya, kamu punya usaha distribusi sembako ke warung-warung sekitar. Barang dikirim rutin setiap minggu, tapi pembayaran dilakukan setiap dua minggu sekali. Di situ ada risiko, misalnya keterlambatan pembayaran atau bahkan gagal bayar.
PSAK 71 mengatur bagaimana bisnis mencatat dan mengantisipasi risiko tersebut sejak awal. Jadi, bukan menunggu masalah terjadi, tapi sudah diperkirakan dari awal transaksi.
1. Supplier bahan makanan ke restoran kecil
Barang dikirim setiap pagi, pembayaran dilakukan di akhir minggu. Kalau ada satu atau dua restoran yang telat bayar, arus kas bisa terganggu. PSAK 71 mendorong kita untuk mulai menghitung potensi risiko dari awal, bukan setelah kejadian.
2. Toko online dengan sistem reseller
Reseller mengambil stok dulu, bayar kemudian. Ini sering terjadi di bisnis fashion atau skincare lokal. Dari sisi logistik, barang sudah keluar. Dari sisi keuangan, belum tentu uang sudah masuk.
3. Usaha percetakan dengan sistem DP dan pelunasan
Order diproses setelah DP, sisanya dibayar saat barang jadi. Kalau pelanggan tidak melunasi, barang sudah terlanjur diproduksi dan siap kirim.
Dalam semua contoh ini, keputusan logistik seperti produksi dan pengiriman sangat dipengaruhi oleh kondisi keuangan dan risiko pembayaran.
Bagi bisnis lokal, ini bisa jadi insight penting. Selama ini mungkin fokusnya lebih ke “yang penting barang laku dan terkirim”. Tapi bagaimana dengan risiko setelah barang sampai?
Dengan pendekatan ini, kita jadi lebih hati-hati dalam:
Menariknya, ini juga bisa membantu menjaga cash flow tetap sehat. Karena pada akhirnya, bisnis tidak hanya butuh penjualan tinggi, tapi juga arus kas yang lancar.
Cek ulang sistem pembayaran pelanggan
Apakah semua pelanggan diberi tempo yang sama? Atau sudah dibedakan berdasarkan riwayat transaksi?
Sinkronkan data logistik dan keuangan
Pastikan data barang keluar sejalan dengan pencatatan pembayaran. Ini penting agar tidak ada “kebocoran” yang tidak terdeteksi.
Mulai dari pencatatan sederhana
Tidak harus langsung pakai sistem kompleks. Spreadsheet sederhana sudah cukup, selama rutin diperbarui.
Evaluasi secara berkala
Coba lihat setiap bulan, apakah ada pelanggan yang mulai menunjukkan risiko? Dari situ bisa diambil keputusan lebih cepat.
Buat kamu yang ingin memahami lebih dalam tentang konsep ini, bisa cek pembahasan lengkapnya di sini: PSAK 71 membawa perubahan penting dalam akuntansi instrumen keuangan
Sekarang coba lihat kembali alur bisnis kamu. Barang sudah rutin keluar, tapi apakah alur masuknya uang sudah benar-benar aman? Ini bisa jadi titik awal untuk memperkuat bisnis dari sisi yang jarang disadari.
Sekilas, PSAK 71 terdengar seperti topik yang “berat”. Namun jika ditarik ke aktivitas sehari-hari, sebenarnya ini sangat dekat dengan operasional bisnis, termasuk logistik. Setiap kali kita mengirim barang ke pelanggan dengan sistem pembayaran tempo, di situlah aspek akuntansi dan logistik saling bertemu.
Apa Hubungannya dengan Logistik?
Logistik identik dengan alur barang, mulai dari gudang sampai ke tangan pelanggan. Namun di balik itu, ada alur keuangan yang berjalan bersamaan. Barang dikirim hari ini, pembayaran bisa saja baru diterima minggu depan atau bahkan bulan depan.Contohnya, kamu punya usaha distribusi sembako ke warung-warung sekitar. Barang dikirim rutin setiap minggu, tapi pembayaran dilakukan setiap dua minggu sekali. Di situ ada risiko, misalnya keterlambatan pembayaran atau bahkan gagal bayar.
PSAK 71 mengatur bagaimana bisnis mencatat dan mengantisipasi risiko tersebut sejak awal. Jadi, bukan menunggu masalah terjadi, tapi sudah diperkirakan dari awal transaksi.
Contoh Nyata di Bisnis Lokal
Supaya lebih kebayang, coba lihat beberapa situasi berikut:1. Supplier bahan makanan ke restoran kecil
Barang dikirim setiap pagi, pembayaran dilakukan di akhir minggu. Kalau ada satu atau dua restoran yang telat bayar, arus kas bisa terganggu. PSAK 71 mendorong kita untuk mulai menghitung potensi risiko dari awal, bukan setelah kejadian.
2. Toko online dengan sistem reseller
Reseller mengambil stok dulu, bayar kemudian. Ini sering terjadi di bisnis fashion atau skincare lokal. Dari sisi logistik, barang sudah keluar. Dari sisi keuangan, belum tentu uang sudah masuk.
3. Usaha percetakan dengan sistem DP dan pelunasan
Order diproses setelah DP, sisanya dibayar saat barang jadi. Kalau pelanggan tidak melunasi, barang sudah terlanjur diproduksi dan siap kirim.
Dalam semua contoh ini, keputusan logistik seperti produksi dan pengiriman sangat dipengaruhi oleh kondisi keuangan dan risiko pembayaran.
Kenapa Ini Perlu Diperhatikan?
PSAK 71 memperkenalkan konsep expected credit loss, yaitu perkiraan kerugian yang mungkin terjadi dari piutang. Artinya, sejak awal kita sudah memperhitungkan kemungkinan ada pelanggan yang tidak membayar tepat waktu atau bahkan tidak membayar sama sekali.Bagi bisnis lokal, ini bisa jadi insight penting. Selama ini mungkin fokusnya lebih ke “yang penting barang laku dan terkirim”. Tapi bagaimana dengan risiko setelah barang sampai?
Dengan pendekatan ini, kita jadi lebih hati-hati dalam:
- Menentukan siapa yang boleh beli dengan sistem tempo
- Mengatur jumlah stok yang dikirim ke pelanggan tertentu
- Menentukan kebijakan pembayaran
Dampaknya ke Operasional Harian
Perubahan cara pandang ini bisa memengaruhi keputusan sehari-hari, misalnya:- Mengurangi pengiriman ke pelanggan dengan riwayat pembayaran kurang baik
- Mengatur ulang jadwal pengiriman berdasarkan prioritas pembayaran
- Menyusun sistem pencatatan yang lebih rapi antara barang keluar dan uang masuk
Menariknya, ini juga bisa membantu menjaga cash flow tetap sehat. Karena pada akhirnya, bisnis tidak hanya butuh penjualan tinggi, tapi juga arus kas yang lancar.
Insight yang Bisa Dicoba
Beberapa langkah sederhana yang bisa mulai diterapkan:Cek ulang sistem pembayaran pelanggan
Apakah semua pelanggan diberi tempo yang sama? Atau sudah dibedakan berdasarkan riwayat transaksi?
Sinkronkan data logistik dan keuangan
Pastikan data barang keluar sejalan dengan pencatatan pembayaran. Ini penting agar tidak ada “kebocoran” yang tidak terdeteksi.
Mulai dari pencatatan sederhana
Tidak harus langsung pakai sistem kompleks. Spreadsheet sederhana sudah cukup, selama rutin diperbarui.
Evaluasi secara berkala
Coba lihat setiap bulan, apakah ada pelanggan yang mulai menunjukkan risiko? Dari situ bisa diambil keputusan lebih cepat.
Penutup
PSAK 71 memang berasal dari dunia akuntansi, tapi dampaknya terasa sampai ke operasional logistik bisnis lokal. Saat pengiriman barang dikaitkan dengan risiko pembayaran, keputusan bisnis jadi lebih terarah.Buat kamu yang ingin memahami lebih dalam tentang konsep ini, bisa cek pembahasan lengkapnya di sini: PSAK 71 membawa perubahan penting dalam akuntansi instrumen keuangan
Sekarang coba lihat kembali alur bisnis kamu. Barang sudah rutin keluar, tapi apakah alur masuknya uang sudah benar-benar aman? Ini bisa jadi titik awal untuk memperkuat bisnis dari sisi yang jarang disadari.