• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Progres & Tantangan Pendidikan Penghayat Kepercayaan

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Progres & Tantangan Pendidikan Penghayat Kepercayaan

Progres & Tantangan Pendidikan Penghayat Kepercayaan


Kabar Damai | Sabtu, 19 Maret 2022

Jakarta I Kabardamai.id IPemerintah saat ini turut perlahan memfasilitasi pendidikan bagi para penghayat. Hal ini diimplementasikan pada Permendikbud tahun 2016 tentang layanin Pendidikan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa pada Satuan Pendidikan. Hal ini turut diungkapkan Engkus Ruswana, Ketua Presidium I MLKI Pusat dalam bincang series kedua yg diselenggarakan dalam kanal Suara Setara.

Diawal pemaparannya, ia mengatakan bahwa eberagaman dari kepercayaan nusantara ini sudah alami, nilai dasarnya hampir semua etnis memiliki agama sehingga disebut sebagai agama suku, agama lokal atau agama leluhur. Namun dari keberagaman itu ada beberapa kesamaan yg lebih menonjol, satu rasa kesayangan & penghormatan kepada leluhur yg sangat kuat. Kedua adalah kesayangan atau penghormatan kepada tanah air & kepada alam yg dituangkan dalam upacara-upacara yg berkaitan dengan alam & ketiga soal kebudayaan yg sangat lekat dengan kebudayaan.

Ia juga menambahkan, kalau didalami semuanya, ada sisi-sisi yg sama seperti menghargai leluhur dengan berangkat dari pemahaman tentang asal-usul keberadaan. Sehingga kalau dilihat dalam situs purba misalnya kerap disaksikan batu yg berdiri & atau batu datar yg melambangkan ibu. Itu melambangkan atau manifestasi bahwa keberadaan manusia ada dari ibu bapak, kakek & nenek & seterusnya yg disebut leluhur sehingga muncul pemahaman bahwa perlu & harus menghormati leluhur karena tanpa ada leluhur kita tidak akan ada saat ini.

Selanjutnya kajian tentang diri, tentang asal-usul diri muncul pemahaman bahwa raga ini berasal dari saripati api, saripati angin, sari pati air & saripati bumi. Ini sesuatu yg tidak dapat dipisahkan sehingga alam ini harus dijaga, karena kalau alam rusak maka kita juga akan rusak.

Jadi hubungan antar alam & diri sangat kuat sehingga kita dalam leluhur sangat mensayangi & menghormati alam. Makanya ada tata cara merawat alam & ada tata cara ruwat bumi, ruwat air, ruwat laut, tata cara dalam pertanian yg penuh dengan izin & sebagainya, ungkapnya.

Baca Juga:Penerimaan & Tantangan Diskriminasi Penghayat di Indonesia

Perihal banyak aspek diatas, penghayat juga terdiri dari lebih dari 190 komunitas yg kini tersebar dibanyak wilayah. Hal ini jadi sebuah tantangan dalam implementasi pendidikan baginya. Namun, dari kesamaan-kesamaan yg ada menjadikan ikhtiar guna mewujudkannya terus dilakukan.

Kesamaan-kesamaan ini yg kemudian dipakai sebagai kurikulum & dibagi dalam lima besar. Pertama tentang Kemahaesaan Tuhan, kedua soal budi pekerti, ketiga soal sejarah kepercayaan, kelima tentang larangan & kewajiban & kelima soal martabat kepercayaan. Masing-masing penjabaran lebih lanjut pada masing-masing komunitas, tambah Engkus.

Perihal kurikulum ini, Engkus menyatakan bahwa secara pelaksanaan kini sudah bagus tetapi memang tidak semua komunitas dapat terwakili secara penyuluhnya. Masalah lain juga karena penyebaran komunitas penghayat seperti yg berada didaerah kemudian jadi sulit mengakses mereka karena sedikit pengikutnya & tersebar dengan jarak yg tidak dekat. Selain itu, penyuluh juga tidak digajih sehingga tergantung pada pengabdiannya masing-masing seperti apa.

Walauun demikian, menurutnya pula rogres dari adanya Permendikbud bagi penghayat kepercayaan saat ini sudah cukup baik. Penghayat juga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah & juga negara khususnya Kemendikbud karena implementasi dari Permendikbud benar-benar didorong untuk segera dilaksanakan sehingga penuluh difasilitasi & kemudian pendataan murid juga dilakukan sehingga berjumpa antar kebutuhan.

Menuju Hadirnya Pendidik Bagi Penghayat

Engkus menyatakan bahwa guru & dosen bagi penghayat tentu sangat penting, hal ini kemudian dalam rangka mencukupi kebutuhan guru & dosen tersebut menciptakan Kementerian Dikbud bekerjasama dengan Universitas Tujuh Belas Agustus di Semarang membentuk prodi spesifik yaitu penghayat kepercayaan sehingga diharapkan nantinya lulusannya dapat mengajar & statusnya dapat diangkat jadi guru karena saat ini ada baru pada sebatas penyuluh yg tidak dapat diangkat oleh UU.

Selain itu, mahasiswa yg berasal dari Universitas Tujuh Belas Agustus juga dari penghayat yg juga dalam menjalankan pendidikan diberi atau difasilitasi beasiswa. Setiap komunitas ini terbuka bagi seluruh paguyuban organisasi kepercayaan yg masing-masing mengusulkan mahasiswa sehingga dapat diseleksi & sudah ada pada angkatan pertama.

Sementara itu, tantangan juga pasti ada. Tantanga tersebut seperti untuk memenuhi kebutuhan guru & dosen, paling tidak harus menunggu 4 hingga 5 tahun lagi sehingga selama itu status yg bertugas masih saja penyuluh.

Penulis: Rio Pratama

https://kabardamai.id/progres-dan-ta...t-kepercayaan/ Hari ini 05:24
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.