Ajido-Marujido
IndoForum VIP: The Special One
- No. Urut
- 10016
- Sejak
- 31 Des 2006
- Pesan
- 4.815
- Nilai reaksi
- 146
- Poin
- 63
JAKARTA – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menemukan penyimpangan pada salah satu alat navigasi pesawat Boeing 737-400 milik AdamAir yang jatuh di perairan Majene,Sulawesi Barat,1 Januari 2007.
Penyimpangan tersebut menjadi salah satu bagian dari kompilasi penyebab jatuhnya pesawat berpenumpang 102 orang itu. Ketua KNKT Tatang Kurniadi menjelaskan, hasil analisis salah satu kotak hitam yang merekam percakapan di kokpit (cockpit voice recorder/CVR) menunjukkan kedua pilot terlibat problem navigasi,yaitu pada inertial reference system (IRS).
Alat navigasi yang menyimpang itu berfungsi sebagai penunjuk arah, kecepatan, dan perilaku pesawat (attitude). ”Perhatian keduanya (pilot dan kopilot) terfokus pada permasalahan IRS,” ujar Tatang saat membacakan laporan akhir hasil investigasi KNKT atas musibah AdamAir di Jakarta kemarin. Penyimpangan diketahui saat pilot dan kopilot menyadari kedua IRS menunjukkan perbedaan posisi pesawat. Tidak disebutkan posisi pesawat menurut masingmasing IRS,hanya dari tampilan keduanya ada perbedaan sebesar 30 mil laut (nautical mile).
Ukuran 1 mil laut setara dengan 1,8 kilometer. Konsentrasi kedua pilot akhirnya hanya terfokus pada upaya mengoreksi penyimpangan IRS tersebut, setidaknya selama 13 menit terakhir penerbangan. Dalam upaya koreksi ini, pilot memutuskan untuk mengalihkan mode navigasi ke posisi mode attitude pada IRS nomor dua atau sebelah kanan.
”Ternyata,akibatnya autopilot mati (pesawat menjadi tidak bisa digerakkan secara otomatis),”ungkap Tatang. Sayang, selama beberapa saat kedua pilot tidak menyadari autopilot berhenti berfungsi lantaran sibuk memerhatikan IRS. Pesawat praktis tidak ada yang mengendalikan dan mulai bergerak miring satu derajat ke arah kanan. Pada saat ini pun kedua pilot tidak menyadari pesawat mulai miring, sehingga tidak ada upaya meluruskan.
Keduanya baru sadar saat terdengar suara peringatan berbunyi bunk angle ketika kemiringan pesawat sudah bertambah menjadi 35 derajat ke kanan. Pilot kemudian berusaha membanting kemudi ke arah kiri untuk meluruskan pesawat, namun tak lama kemudi diputar balik ke kanan karena pilot tidak merasakan dengan benar kondisi pesawat. ”Pilot merasa terlalu banyak membanting ke kiri sehingga kemudi diputar lagi ke kanan.
Padahal, kenyataannya mereka hanya sedikit membanting ke kiri,”jelas human factor investigator dari Lembaga Kesehatan Penerbangan & Antariksa TNI AU Herman Mulyadi. Dia menilai sangat wajar bila pilot tidak merasakan kondisi yang sesungguhnya pada pesawat karena mereka tidak melihat horizon bumi.
”Ini normal saat manusia berada di udara, istilahnya disorientasi ruang,”ujar Herman. Kemiringan pesawat akhirnya bertambah menjadi 100 derajat ke kanan karena kemudi kembali dibanting ke arah kanan. Saat itu, kondisi pesawat hampir berbalik dengan posisi sayap kiri menghadap ke atas, kemudian menyerong ke arah kanan.
Pilot berusaha menormalkan posisi pesawat, namun tidak berhasil karena terjadi kerusakan pada struktur armada dan akhirnya pesawat jatuh pada kedalaman 2.000 meter di perairan Majene. ”Kerusakan pada struktur terjadi saat posisi pesawat hendak dinormalkan,” ujar investigator senior KNKT yang terlibat dalam analisis kotak hitam AdamAir, Prof Mardjono Siswosuwarno. Menurut Mardjono, seharusnya kedua pilot tidak sibuk memperbaiki IRS karena itu bukan pekerjaan yang wajar dilakukan saat mengudara. ”Seharusnya biarkan saja IRS menyimpang,”tutur Mardjono.
Sebagai pengganti IRS, pilot harus mengandalkan menara pemandu lalu lintas udara (air traffic controller/ ATC) sebagai navigator. ”Tetapi mungkin mereka takut nyasar sehingga sibuk membetulkan IRS,”imbuhnya. Saat itu juga sempat terdengar suara pilot Revri Agustina Widodo kepada kopilotnya, Yoga, sesaat sebelum pesawat jatuh.
”Jangan dibelokin, jangan dibelokin,”ungkap Mardjono menirukan suara pilot. Ditanya lebih lanjut mengenai percapakan tersebut, Mardjono tidak bersedia mengungkap. ”Itu ada etikanya, tidak boleh,”katanya. Menurut laporan akhir KNKT,kecelakaan ini terjadi sebagai kombinasi beberapa faktor, termasuk kegagalan pilot dalam memonitor instrumen penerbangan khususnya dalam dua menit terakhir penerbangan.
Fokus konsentrasi pada malafungsi IRS mengalihkan perhatian kedua pilot dari instrumen penerbangan. Hal ini membuka peluang pilot tidak mendeteksi dan menahan posisi pesawat pada kondisi normal sesegera mungkin untuk mencegah kehilangan kendali. Dari laporan akhir tersebut diketahui, laporan pilot dan laporan perawatan pesawat menunjukkan antara bulan Oktober hingga Desember 2006 terjadi 154 kali adanya defect yang langsung atau tidak langsung terkait dengan IRS,terutama sistem yang kiri.
Sampai terjadinya kecelakaan, tidak ada bukti jaminan efektivitas dan kelaikan komponen bagi pesawatpesawat AdamAir. Ketua KNKT mengakui adanya kegagalan kedua pilot AdamAir dalam menangani kondisi yang tidak biasa tersebut. Dalam rekomendasi yang telah disampaikan saat investigasi masih berjalan, KNKT meminta Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan dan AdamAir meningkatkan perawatan IRS dan pelatihan IRS kepada awak pesawat.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Budhi Muliawan Suyitno mengatakan, rekomendasi tersebut telah direspons melalui penerbitan safety circular untuk semua operator penerbangan. ”Salah satunya terkait peningkatan pelatihan pilot lewat simulator dalam berbagai attitude pesawat,” terangnya.
sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/berita-utama/problem-navigasi-picu-jatuhnya-adamair.html