Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Nabi Muhammad sebagai Nabi & Rasul terakhir bukan cuma diutus untuk menyampaikan agama Tauhid & mengajak manusia untuk menyembah satu Tuhan. Lebih dari itu Rasulullah Muhammad SAW diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak serta jadi suri tauladan bagi seluruh umat.
Sebelum jadi Nabi, Rasulullah merupakan seorang pedagang sukses yg sering mengerjakan perjalanan dagang hingga ke luar Negara Arab. Kesuksesan Rasulullah tersebut tidak terlepas dari prinsip-prinsip berdagang yg dimiliki beliau.
Berikut 8 prinsip berdagang ala Rasulullah SAW:
1. DINIATKAN KARENA ALLAH
Prinsip berdagang dalam islam yg perdana adalah menata niat karena Allah SWT. Yang dimaksud menata niat karena Allah adalah mengerjakan usaha atau berdagang dengan niat mencari ridho Allah, & hasil dari berdagang tersebut juga diniatkan untuk bekal beribadah kepada Allah.
Banyak yg beranggapan, kalau hasil dari usaha atau berdagang diniatkan cuma untuk beribadah, maka kebutuhan keluarga tidak akan terpenuhi. Perlu diketahi bahwa dalam Islam ada dua tipe ibadah, yakni Ibadah Mahdhah & Ibadah Ghairu Mahdhah.
Ibadah Maghdhah adalah ibadah yg tata caranya diatur dalam syariat Islam, seperti sholat, zakat, puasa, & haji. Sedangkan ibadah Ghairu Maghdhah adalah ibadah yg tata caranya tidak diatur dalam syariat Islam, seperti menafkahi keluarga, membahagiakan orang tua, berbagi dengan tetangga, membiayai pendidikan anak, dll.
Dengan demikian, kalau ada seorang muslim yg bekerja atau berdagang dengan niat untuk menafkahi keluarga atau untuk membahagiakan orang tua, maka niat tersebut sudah termasuk kedalam kategori berdagang dengan niat beribadah kepada Allah.
Rasulullah SAW bersabda:
:
Sesungguhnya setiap perbuatantergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yg dia niatkan (HR: Imam Bukhari)
2. SELALU BERSIKAP JUJUR
Jujur merupakan salah satu sikap yg wajib dimiliki oleh seseorang yg berdagang. Pedagang yg memiliki sikap jujur akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari konsumen, sehingga konsumen akan membeli secara berulang kepada penjual yg memiliki kredibilitas tinggi.
Sebelum jadi seorang Nabi, Rasulullah sendiri merupakan seorang pedagang. Baik dalam kehidupan sehari-hari maupun ketika berdagang, Rasulullah diketahui sebagai seseorang yg sangat jujur.
Ketika berdagang, Rasulullah tidak pernah mengurangi takaran timbangan seperti yg kala itu lumrah dilakukan oleh masyarakat Suku Quraisy. Rasulullah bahkan kerap menambahkan takaran timbangan untuk menyenangkan konsumennya.
Perintah untuk berdagang secara jujur sudah disinggung oleh Allah dalam Al-Quran diantaranya dalam ayat berikut:
(181) (182) (183)
Sempurnakanlah takaran & janganlah kalian termasuk orang-orang yg merugikan; & timbanglah dengan timbangan yg lurus. Dan janganlah kalian merugikan manusia pada hak-haknya & janganlah kalian merajalela di muka bumi dengan menciptakan kerusakan. (AS-Syuara:181-183)
Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil & janganlah anda mengurangi neraca itu.( QS: Ar-Rahman:9)
Dalam sebuah Hadits Shohih dijelaskan bahwa seorang pedagang yg jujur akan dikumpulkan dengan para Syuhada pada hari kiamat kelak. Rasulullah SAW bersabda:
: : :
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhu bahwa Rasuluillah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Seorang pedagang muslim yg jujur & amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang shiddiq & orang-orang yg mati syahid pada hari kiamat (nanti). (HR: Ibnu Majah, Imam Hakim, Darru Qutni)
3. MENJUAL BARANG DENGAN KUALITAS YANG BAGUS
Prinsip berdagang ala Rasulullah yg ketiga adalah menjaga kualitas barang & cuma menjual barang dengan kualitas yg bagus. Rasulullah Muhammad SAW sering menjual barang dengan kualitas yg baik. Rasulullah sering menjelaskan kepada pembeli apabila ada barang dagangan yg cacat.
Seorang pedagang muslim hendaknya menyontoh prinsip berdagang Rasulullah, dengan sering menunjukkan & menjelaskan apabalia ada barang yg cacat atau memiliki kualitas yg kurang baik, serta tidak menutup-nutupi kekurangan barang dagangan.
Rasulullah SAW bersabda:
Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yg lain, tidak halal bagi seorang muslim untuk menjual barang yg ada cacatnya kepada temannya, kecuali kalau dia jelaskan. (HR. Ibn Majah)
4. MENGAMBIL KEUNTUNGAN SEWAJARNYA
Di dalam Islam, tidak ada larangan bagi pedagang untuk mengambil keuntungan. Tidak ada pula aturan mengenai berapa banyak keuntungan yg boleh diambil. Namun sebagai seorang pedagang hendaknya mengambil keuntungan dengan sewajarnya.
Ketika berdagang, Rasulullah tidak pernah mengambil keuntungan secara berlebihan. Bahkan ketika ditanya mengenai modal barang dagangannya, beliau menjawab dengan sejujur-jujurnya. Hal tersebut dilakukan sebab Rasulullah berdagang bukan semata-mata cuma mencari keuntungan duniawi, akan tetapi juga mencari Ridho Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam QS. As-Syuara ayat 20:
Barang siapa yg menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya & barang siapa yg menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya beberapa dari keuntungan dunia & tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (QS: As-Syuara:20)
5. TIDAK MENJELEK-JELEKKAN DAGANGAN ORANG LAIN
Persaingan dalam usaha & perdagangan merupakan hal yg lumrah mengingat banyaknya pelaku usaha di era modern ini. Islam pun tidak melarang ketika seseorang menyamai bisnis atau usaha orang lain. Yang dilarang di dalam Islam adalah persaingan yg tidak sehat, seperti menjelek-jelekkan dagangan orang milik orang lain.
Rasulullah SAW bersabda:
Janganlah seseorang diantara kalian menjual dengan maksud untuk menjelekkan apa yg dijual orang lain (HR. Muttafaq Alaih)
6. TIDAK MENIMBUN BARANG
Menimbun barang merupakan aktivitas dimana seorang pedagang membeli barang stok dengan jumlah yg sangat banyak dari pasar, yg kemudian barang tersebut disimpan dalam kurun waktu yg relative lama & menjual barang-barang tersebut dengan harga yg sangat mahal.
Praktek penimbunan barang seperti ini banyak dilakukan oleh pedagang-pedagang curang di kala pandemi seperti ini. Ada beberapa pedagang curang yg menimbun stok masker ataupun desinfektan untuk dijual dengan harga yg sangat mahal.
Dalam Islam praktek menimbun barang merupakan perilaku yg dilarang karena termasuk kedalam perbuatan dzalim. Rasulullah SAW bersabda:
Tidaklah seseorang mengerjakan penimbunan melainkan dia adalah pendosa (HR: Muslim)
7. TIDAK MUDAH PUTUS ASA
Dalam menjalankan bisnis atau usaha seperti berdagang, seseorang pasti harus melewati segala proses & rintangan. Tak jarang seorang pebisnis akan mengalami kegagalan bahkan gulung tikar. Seorang yg berdagang hendaknya memiliki sikap pantang menyerah & tidak mudah putus asa. Sebab kunci dari keberhasilan adalah usaha yg tidak kenal letih & pantang menyerah.
Allah SWT berfirman:
Hai anak-anakku (Ucap Nabi Yaqub pada anak-anaknya), pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf & saudaranya & jangan anda berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yg kafir". (QS: Yusuf:87)
8. TIDAK MELALAIKAN IBADAH
Salah satu kunci utama keberhasilan suatu usaha atau perniagaan adalah dengan sering mengingat Allah & tidak melalaikan ibadah kepada Nya.
Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang yg beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah anda kepada mengingat Allah & tinggalkanlah jual beli. Yang begitu itu lebih baik bagimu kalau anda mengetahui. Apabila sudah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah anda di muka bumi; & carilah karunia Allah & ingatlah Allah banyak-banyak supaya anda beruntung. (QS.Al Jumuah :9-10)
Demikian 8 prinsip berdagang ala Rasulullah. Umat Islam hendaknya menyontoh segala perilaku Rasulullah baik dalam hal ibadah, perilaku keseharian, bahkan cara Rasulullah berdagang. Sebab Rasulullah merupakan uswatun hasanah yaitu suri tauladan yg mulia.
Sumber: https://karpetpersia.com/
Hari ini 14:53