facebookeb
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 210735
- Sejak
- 9 Jan 2013
- Pesan
- 7.471
- Nilai reaksi
- 100
- Poin
- 48
Dilansir dari surat kabar Mirror, Kamis (5/11), ahli bedah yang mencoba menyelamatkan nyawanya melalui operasi pengangkatan lemak menganjurkan pemerintah untuk menaikkan pajak makanan cepat saji.
Menurutnya, makanan tersebut menyebabkan kegemukan pada seseorang, dan contoh kasusnya adalah Keith Martin. Martin bisa memakan sejumlah besar makanan cepat saji, dari makanan tersebut, dia bisa mengkonsumsi 20.000 kalori setiap hari, bahkan bisa makan hingga 10 kali sehari.
Ia bisa memakan 6 telur goreng untuk sarapan, kemudian pizza, kebab, makanan China dan burger McDonals untuk makan siang, dan untuk makan malam ia minum enam cangkir kopi dan dua liter soda. Tak hanya itu, dia juga makan kudapan seperti roti isi, coklat, keripik, permen dan biskuit.
"Seperti beberapa orang, untuk meredakan emosi Keith merasa makanan dapat membuatnya nyaman. Kebiasaan itu bukan sesuatu yang baru di kalangan masyarakat untuk membeli makanan cepat saji yang banyak," ujar Kesava Manur, ahli bedah Keith Martin.
Keith meninggalkan dua saudara perempuannya, Sharon dan Tina yang selalu menjaganya hingga akhirnya ia meninggal dunia. Tina mengatakan masih tidak percaya dan merindukan saudara lelakinya itu.
Keith pernah menjalani serangkaian operasi dan yang terakhir adalah operasi pada lambungnya. Dia harus menghilangkan beratnya beberapa ratusan kilogram untuk dapat berjalan dan hidup normal.
Para dokter yang mengoperasinya menganjurkan pemerintah untuk menaikkan harga makanan cepat saji karena makanan tersebut bukanlah makanan yang sehat. Mereka berharap tidak ada lagi kasus seperti Martin ini.
"Semoga kasus ini menjadi kasus terakhir yang ada di dunia. Kasihan mereka yang memiliki berat melebihi batas normal, selain jadi tidak percaya diri mereka juga jadi tidak sehat. Kasus Martin ini membuat miris hati kami. Untuk itu kami imbau agar kita menjaga berat tubuh kita dengan makan makanan yang sehat," himbau Mannur, kepala ahli operasi Rumah Sakit Homerton, Inggris.