• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Premium Turun Jadi Rp 5.500 Per Liter

roughtorer

IndoForum Senior A
No. Urut
44416
Sejak
24 Mei 2008
Pesan
6.755
Nilai reaksi
175
Poin
63
201048p.jpg


Kamis, 6 November 2008 | 16:54 WIB

Laporan Wartawan Kompas Wisnu Nugroho A

JAKARTA, KAMIS - Pemerintah memutuskan mengambil kebijakan populis untuk menurunkan harga premium, dari Rp 6.000 per liter menjadi Rp 5.500 per liter.

Keputusan itu diambil di Kantor Presiden Jakarta, Kamis (6/11). "Keputusan berlaku per 1 Desember 2008," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam jumpa pers di Kantor Presiden.

Untuk BBM bersubsidi lain, yaitu minyak tanah dan solar, tidak diturunkan karena masih jauh dari harga keekonomiannya.

Hore... BBM Turun Hari Ini

Kamis, 6 November 2008 | 16:36 WIB

Laporan Wartawan Kompas Wisnu Nugroho A

JAKARTA, KAMIS — Pemerintah akan memutuskan penurunan harga bahan bakar minyak bersubsidi pada hari ini. Penurunan harga BBM bersubsidi akan berada di bawah Rp 1.000.

"Sore ini akan diumumkan. Menteri Keuangan dan Menteri ESDM sedang diterima Presiden," ujar Ketua Umum Kadin MS Hidayat di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (6/11).

Kadin semula mengusulkan penurunan harga premium Rp 1.000 dari harga Rp 6.000. "Dulu saya minta Rp 1.000, tetapi sepertinya tidak diterima. Penurunan akan dilakukan, tetapi besarannya di bawah Rp 1.000," ujarnya.


===========================================

Entah kapan ada kebijakan pemerintah yang memihak rakyat kecil. Minyak tanah yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat justru tidak diturunkan.... sementara premium yang cenderung ke pemakaian konsumen di kota-kota besar justru yang diturunkan. Lalu solar untuk industri juga tidak turun. Pemerintah tidak berpihak pada rakyat kecil. :(
 
Premium Turun Rp 500, Hanya Basa-basi Politik

2695161p.jpg


Kamis, 6 November 2008 | 18:56 WIB

JAKARTA, KAMIS - Anggota DPR RI Drajad Wibowo menilai penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium sebesar Rp 500 per liter terlalu kecil dan lebih mirip hanya sebagai basa-basi politik untuk merespon tuntutan masyarakat dan DPR RI.

"Dampak positifnya bagi daya beli masyarakat dan sektor riil kurang maksimal. Padahal sektor riil kita terutama eksportir terpukul oleh anjloknya permintaan ekspor, pembayaran yang seret dari pembeli, dan harga jual yang anjlok. Mereka perlu penurunan harga BBM yang lebih besar supaya daya saing terjaga," kata Drajad, Kamis (6/11).

Menurut dia pemerintah sebenarnya sanggup menurunkan harga premium hingga 20-25 persen (Rp 4.500-Rp 5.000 per liter) kalau mengacu ke APBN 2008 karena hanya tersisa satu setengah bulan lagi dengan tambahan beban subsidinya sangat kecil. "Realisasi konsumsi BBM bersubsidi hingga September 2008 hanya sekitar 29,7 juta kilo liter. Jadi masih 10 juta kilo liter lebih sisa dari target," kata ekonom Indef ini.

Drajad melanjutkan, dengan konsumsi seperti itu dan dengan harga minyak dunia sekitar 65-70 dolar AS per barrel berarti tambahan beban subsidi 2008 hanya sekitar Rp 5 triliun.
"Pemerintah bisa menutup tambahan ini dengan realokasi belanja karena pada faktanya realisasi belanja negara masih banyak sisanya," katanya.

Sementara untuk APBN 2009, lanjut Drajad, subsidi BBM hanya Rp 57,6 triliun dengan asumsi harga minyak dunia 80 dolar AS per barrel dan konsumsi BBM bersubsidi 40 juta kilo liter. "Dibanding target subsidi dalam RAPBN, pemerintah sebenarnya sudah menghemat Rp 43,7 triliun. Pemerintah masih bisa menambah subsidi sekitar Rp 20-25 triliun untuk turunkan harga BBM lebih besar. Apalagi kalau harga pokok BBM bisa ditekan melalui efisiensi sistem migas," ujarnya.

Pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga premium dari Rp 6.000 per liter menjadi Rp 5.500 per liter. Keputusan itu diambil di Kantor Presiden Jakarta, Kamis (6/11) dan dijelaskan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Untuk BBM bersubsidi jenis solar dan minyak tanah tidak diturunkah harganya karena masih jauh dari harga keekonomiannya.
 
Turun Lima Ratus Perak, Nggak Pengaruh

Kamis, 6 November 2008 | 18:44 WIB

JAKARTA, KAMIS - Kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium bersubsidi senilai Rp500 per liter dinilai tidak berdampak pada rakyat kecil.

Pengamat ekonomi Aviliani usai menghadiri rapat tim panelis ekonomi di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/11), mengatakan penurunan harga BBM yang hanya berlaku untuk jenis premium akan dinikmati oleh kelas menengah yang memiliki kendaraan bermotor. "Efek terhadap masyarakat miskin yang seharusnya mendapat dampak dari subsidi BBM tidak terlalu signifikan," ujarnya.

Pemerintah memutuskan penurunan harga premium bersubsidi senilai Rp500 per liter yang mulai berlaku 1 Desember 2008, tidak berlaku untuk jenis BBM lain seperti solar dan minyak tanah.

Aviliani mengatakan kebijakan penurunan harga premium itu juga tidak akan berdampak kepada daya beli masyarakat karena industri tidak akan menurunkan harga barang-barang.

Biaya transportasi, lanjut dia, juga tidak akan mengalami penurunan setelah kenaikan harga BBM pada Mei 2008. "Jadi, penurunan harga premium ini tidak akan berdampak apa-apa kepada harga barang-barang dan transportasi," ujarnya.

Aviliani menilai penurunan harga premium yang mulai berlaku pada 1 Desember 2008 terlalu cepat dilakukan oleh pemerintah. Ia berpendapat seharusnya pemerintah terlebih dahulu melakukan sosialisasi selama dua bulan, dan baru menurunkan harga pada awal 2009.

Aviliani berharap pemerintah sudah siap dengan instrumen untuk merespon fleksibilitas harga minyak mentah dunia yang bergerak naik-turun. Apabila pemerintah harus kembali menaikkan harga premium setelah menurunkannya, Aviliani mengkhawatirkan ongkos sosial yang harus ditanggung masyarakat.

"Masalahnya, harga naik turun itu kan tergantung dengan harga minyak dunia. Pemerintah harus siap dengan itu," ujarnya.

Pemerintah memutuskan menurunkan harga premium bersubsidi dari Rp6.000 per liter menjadi Rp5.500 per liter dengan dalih untuk meringankan beban masyarakat yang selama ini menanggung kenaikan harga komoditi akibat kenaikan harga minyak mentah dan krisis keuangan dunia.

Karena saat ini harga minyak mentah dunia sudah turun di kisaran 65 dollar AS, pemerintah menurunkan harga premium bersubsidi.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.