Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
POTRET USANG
Nenek Pembawa Kardus yang Qonaah
Setiap antar anak sekolah, gue sering ketemu nenek-nenek pembawa kardus bekas. Lantaran terlalu sering ketemu, gue sama si nenek akhirnya akrab.
Suatu hari, si nenek lagi duduk di pinggir jalan, merapihkan kardus bekas. Terus gue samperin & duduk di sebelah dia. Jika kalian bertanya ke gue ....
Emang enggak malu duduk di pinggir jalan? Alhamdulillah enggak.
TIDAK ada alasan buat malu. Sebab gue bukan siapa-siapa! Anak raja? Bukan.
Orang kaya? Bukan juga.
Pintar? Kagak.
Cakep? Kagak juga.
Nah, saat duduk berdua sama si nenek. Gue iseng tanya.
"Nek, emang anaknya kemana, kok Nenek kerja kayak gini?"
"Anak, mah ada, Neng. Tapi pada punya keluarga masing-masing. Punya kebutuhan sendiri juga. Ngasih sih ngasih, tetapi ga banyak. Nenek juga ga mau ngerepotin anak."
Salut mendengar jawaban si nenek, karena gue pernah dengar ada orang tua yg menjelekkan anak sendiri. Apalagi kalau si anak terlalu merepotkan orang tua.
Menurut teman gue. Anak adalah produk orang tua, jadi orang tua yg menjelekkan anak, secara tidak langsung menjelekkan diri sendiri. Bisa dibilang gagal dalam mendidik.
Sementara menurut gue, setiap anak yg bekerja, di penghasilannya ada beberapa rezeki untuk orang tua. Ketika anak memberi sedikit, lalu orang tua menghilangkan pemberian anak, dengan menyebut pemberian anak cuma sedikit kepada orang lain. Tanpa disadari, orang tua tidak bersyukur.
Sikap seperti itu dapat mematikan rezeki anak. Sesuai firman Allah :
Wa i ta`aana rabbukum la`in syakartum la`azdannakum wa la`ing kafartum inna 'ab lasyadd Terjemah
Arti: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya kalau anda bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, & kalau anda mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Bisa saja Allah tidak suka dengan sikap orang tua seperti itu, DIA ambil sedikit rezeki dari anaknya. Allah jadikan si anak pengangguran. Sehingga benar-benar tidak dapat memberi lagi kepada orang tua.
Wallahu alam bis shawab.
Sumber : Opini Pribadi
Sumber Gambar :
*https://images.app.goo.gl/AqsYEATVEnQSUP8V7
*//s.kaskus.id/images/2020/04/23/10771823_202004231023510098.jpg
*Koleksi Pribadi Hari ini 10:04
Nenek Pembawa Kardus yang Qonaah
Setiap antar anak sekolah, gue sering ketemu nenek-nenek pembawa kardus bekas. Lantaran terlalu sering ketemu, gue sama si nenek akhirnya akrab.
Suatu hari, si nenek lagi duduk di pinggir jalan, merapihkan kardus bekas. Terus gue samperin & duduk di sebelah dia. Jika kalian bertanya ke gue ....
Emang enggak malu duduk di pinggir jalan? Alhamdulillah enggak.
TIDAK ada alasan buat malu. Sebab gue bukan siapa-siapa! Anak raja? Bukan.
Orang kaya? Bukan juga.
Pintar? Kagak.
Cakep? Kagak juga.
Nah, saat duduk berdua sama si nenek. Gue iseng tanya.
"Nek, emang anaknya kemana, kok Nenek kerja kayak gini?"
"Anak, mah ada, Neng. Tapi pada punya keluarga masing-masing. Punya kebutuhan sendiri juga. Ngasih sih ngasih, tetapi ga banyak. Nenek juga ga mau ngerepotin anak."
Salut mendengar jawaban si nenek, karena gue pernah dengar ada orang tua yg menjelekkan anak sendiri. Apalagi kalau si anak terlalu merepotkan orang tua.
Menurut teman gue. Anak adalah produk orang tua, jadi orang tua yg menjelekkan anak, secara tidak langsung menjelekkan diri sendiri. Bisa dibilang gagal dalam mendidik.
Sementara menurut gue, setiap anak yg bekerja, di penghasilannya ada beberapa rezeki untuk orang tua. Ketika anak memberi sedikit, lalu orang tua menghilangkan pemberian anak, dengan menyebut pemberian anak cuma sedikit kepada orang lain. Tanpa disadari, orang tua tidak bersyukur.
Sikap seperti itu dapat mematikan rezeki anak. Sesuai firman Allah :
Wa i ta`aana rabbukum la`in syakartum la`azdannakum wa la`ing kafartum inna 'ab lasyadd Terjemah
Arti: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya kalau anda bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, & kalau anda mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Bisa saja Allah tidak suka dengan sikap orang tua seperti itu, DIA ambil sedikit rezeki dari anaknya. Allah jadikan si anak pengangguran. Sehingga benar-benar tidak dapat memberi lagi kepada orang tua.
Wallahu alam bis shawab.
Sumber : Opini Pribadi
Sumber Gambar :
*https://images.app.goo.gl/AqsYEATVEnQSUP8V7
*//s.kaskus.id/images/2020/04/23/10771823_202004231023510098.jpg
*Koleksi Pribadi Hari ini 10:04