yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Kesepakatan bunk Indonesia dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara agar PT Pertamina dan PT PLN tidak membeli dollar AS di pasar uang, ditanggapi positif. Kebijakan itu diyakini akan efektif, meskipun hasilnya tidak sebaik pada tahun 2008 dan 2011.
Kepala ekonom bunk Mandiri Destry Damayanti menyatakan, cara serupa pernah dilakukan pada tahun 2008 dan 2011, saat nilai tukar rupiah melemah dan pasokan dollar AS terbatas. ”Namun, kondisi ekonomi saat ini berbeda. Ekspor berkurang, sedangkan impor meningkat,” katanya kepada Kompas di Jakarta, Kamis (17/1/2013)
PT Pertamina dan PT PLN hanya boleh mengadakan dollar AS melalui tiga bunk milik negara, yakni bunk BNI, bunk bro, dan bunk Mandiri. Ketiga bunk tersebut akan mendapatkan dollar AS dari BI.
Dengan demikian, baik Pertamina, PLN, maupun tiga bunk BUMN itu tidak boleh mencari dollar AS ke pasar uang. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pasokan valas di pasar uang yang tipis.
Destry memaparkan, transaksi harian valas di pasar uang bisanya mencapai sekitar 1 miliar dollar AS. Namun, sekarang rata-rata sebesar 500-600 juta dollar AS per hari.
Dari jumlah tersebut, sekitar sepertiganya untuk memenuhi kebutuhan Pertamina. Konsumsi bahan bakar minyak yang meningkat, telah menambah impor minyak. Kebutuhan dollar AS turut melonjak. ”Kebutuhan dollar AS Pertamina ini bisa mendorong pasar uang,” kata Destry.
Kurs tengah BI kemarin menunjukkan, nilai tukar rupiah sebesar Rp 9.690 per dollar AS, sama seperti pada Rabu (16/1/2013). Angka ini menguat dibandingkan Selasa (15/1/2013), yang mencapai Rp 9.740 per dollar AS.
Direktur Utama PT bunk Mandiri (Persero) Tbk Zulkifli Zaini yang ditanya perihal kesepakatan BI dan BUMN ini menyatakan, kebutuhan valas itu dipenuhi dari devisa hasil ekspor (DHE) yang masuk melalui bunk Mandiri. ”Kalau bisa dipenuhi dari devisa hasil ekspor. Kalau kurang, akan mengambil sedikit di pasar uang,” katanya.
Namun, bunk Mandiri siap memenuhi pasokan valasnya dari BI, yang harganya diperkirakan tidak jauh dari harga pasar.
Kepala ekonom bunk Mandiri Destry Damayanti menyatakan, cara serupa pernah dilakukan pada tahun 2008 dan 2011, saat nilai tukar rupiah melemah dan pasokan dollar AS terbatas. ”Namun, kondisi ekonomi saat ini berbeda. Ekspor berkurang, sedangkan impor meningkat,” katanya kepada Kompas di Jakarta, Kamis (17/1/2013)
PT Pertamina dan PT PLN hanya boleh mengadakan dollar AS melalui tiga bunk milik negara, yakni bunk BNI, bunk bro, dan bunk Mandiri. Ketiga bunk tersebut akan mendapatkan dollar AS dari BI.
Dengan demikian, baik Pertamina, PLN, maupun tiga bunk BUMN itu tidak boleh mencari dollar AS ke pasar uang. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah pasokan valas di pasar uang yang tipis.
Destry memaparkan, transaksi harian valas di pasar uang bisanya mencapai sekitar 1 miliar dollar AS. Namun, sekarang rata-rata sebesar 500-600 juta dollar AS per hari.
Dari jumlah tersebut, sekitar sepertiganya untuk memenuhi kebutuhan Pertamina. Konsumsi bahan bakar minyak yang meningkat, telah menambah impor minyak. Kebutuhan dollar AS turut melonjak. ”Kebutuhan dollar AS Pertamina ini bisa mendorong pasar uang,” kata Destry.
Kurs tengah BI kemarin menunjukkan, nilai tukar rupiah sebesar Rp 9.690 per dollar AS, sama seperti pada Rabu (16/1/2013). Angka ini menguat dibandingkan Selasa (15/1/2013), yang mencapai Rp 9.740 per dollar AS.
Direktur Utama PT bunk Mandiri (Persero) Tbk Zulkifli Zaini yang ditanya perihal kesepakatan BI dan BUMN ini menyatakan, kebutuhan valas itu dipenuhi dari devisa hasil ekspor (DHE) yang masuk melalui bunk Mandiri. ”Kalau bisa dipenuhi dari devisa hasil ekspor. Kalau kurang, akan mengambil sedikit di pasar uang,” katanya.
Namun, bunk Mandiri siap memenuhi pasokan valasnya dari BI, yang harganya diperkirakan tidak jauh dari harga pasar.