yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
SUKOHARJO- Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, membenarkan bila Farhan Mujahid dan Muchsin Tsani adalah alumnus ponpes tersebut. Namun, dua terduga teroris yang ditembak anggota Densus 88 Antiteror di Jalan Veteran, Solo, Jawa Tengah, tidak satu angkatan.
Direktur Ponpes Al Mukmin Ngruki, Ustaz Wahyudin, mengatakan, Farhan Mujahid tidak bisa melanjutkan pendidikannya di Ponpes Al Mukmin disebabkan tidak bisa melunasi biaya pendidikan, sedangkan Muchsin Tsani baru masuk ke Ngruki pada jenjang pendidikan SMA.
“Namun, keduannya tidak bisa mengambil ijazahnya hingga kini, karena seluruh biaya administrasinya bermasalah,” kata Wahyudin saat jumpa pers, Senin (3/9/2012).
Menyangkut keterlibatan keduannya dalam aksi teror, Wahyuddin mengatakan pihaknya tidak tahu-menahu.
“Kami tidak lagi bertanggung jawab dengan kegiatan keduanya setelah keluar dari pesantren,” tuturnya.
Menurut Wahyudin, bisa saja selama bergaul di luar pesantren mereka menjalin komunikasi dengan banyak orang dan mempunyai bermacam pengalaman dari pergaulan itu.
"Ada yang menyebut saat itu bahwa setelah keluar dari pesantren kami, dia (Farhan) kembali ke Kalimantan di Pulau Sebttik. Ada pula yang mengatakan dia menyeberang ke Filipina bergabung di wilayah konflik di Mindanao, tapi kami tidak tahu secara pasti," ujarnya.
Menyangkut Bayu Setiono yang ditangkap hidup-hidup di Karanganyar, Jawa Tengah, Wahyuddin memastikan Bayu bukan alumnus Ponpes Al Mukmin.
Direktur Ponpes Al Mukmin Ngruki, Ustaz Wahyudin, mengatakan, Farhan Mujahid tidak bisa melanjutkan pendidikannya di Ponpes Al Mukmin disebabkan tidak bisa melunasi biaya pendidikan, sedangkan Muchsin Tsani baru masuk ke Ngruki pada jenjang pendidikan SMA.
“Namun, keduannya tidak bisa mengambil ijazahnya hingga kini, karena seluruh biaya administrasinya bermasalah,” kata Wahyudin saat jumpa pers, Senin (3/9/2012).
Menyangkut keterlibatan keduannya dalam aksi teror, Wahyuddin mengatakan pihaknya tidak tahu-menahu.
“Kami tidak lagi bertanggung jawab dengan kegiatan keduanya setelah keluar dari pesantren,” tuturnya.
Menurut Wahyudin, bisa saja selama bergaul di luar pesantren mereka menjalin komunikasi dengan banyak orang dan mempunyai bermacam pengalaman dari pergaulan itu.
"Ada yang menyebut saat itu bahwa setelah keluar dari pesantren kami, dia (Farhan) kembali ke Kalimantan di Pulau Sebttik. Ada pula yang mengatakan dia menyeberang ke Filipina bergabung di wilayah konflik di Mindanao, tapi kami tidak tahu secara pasti," ujarnya.
Menyangkut Bayu Setiono yang ditangkap hidup-hidup di Karanganyar, Jawa Tengah, Wahyuddin memastikan Bayu bukan alumnus Ponpes Al Mukmin.