Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Gara-gara BBM naik, imbasnya sudah mulai terasa banyak pengusaha transportasi darat khususnya bus, angkot & sejenisnya mulai menaikan harga seenak perutnya.
Ada sedikit cerita dari TS sebelum masuk ke dalam inti pembahasan, jadi kebetulan saudara TS ada yg hajatan di daerah Sumatera Selatan. Maka untuk mengerjakan perjalanan karena tiket pesawat mahal, dipakailah bus AKAP.
Harga tiket bus Rp 375 ribu, saat itu BBM belum naik namun setelah itu pemerintah mengerjakan serangan siang menjelang sore dengan naiknya BBM, maka dihari keberangkatan pihak bus meminta tambahan ongkos sebesar Rp 50 ribu dikarenakan kenaikan BBM. Itu baru bus AKAP, belum angkot, bus reguler, bahkan tukang ojek minta tips lebih akibat naiknya BBM.
Harga-harga dipasar juga secara perlahan mulai naik, mereka anggap hal itu efek dari kenaikan BBM. Padahal logikanya itu adalah mencari untung di moment yg tepat, kalau BBM turun apa mereka mau menurunkan harga? Tentu jawabannya tidak, karena akan ada alasan & seribu jawaban bila hal itu ditanyakan kepada para pengusaha tersebut.
Dari sini sudah terlihat efek domino kenaikan BBM ternyata cukup berpengaruh, tetapi ini semua tak lepas dari politikus yg nemanfaatkan peran BBM ini sebagai sesuatu yg cukup penting untuk di subsidi.
Politisi ini mencari untung dari subsidi BBM apalagi dikalangan oposisi yg demo kenaikan BBM namanya akan terkatrol naik & jadi pahlawan kaum miskin, BBM murah maka harga transportasi & bahan sembako di pasar juga dapat murah. Padahal itu semua, adalah semu.
Petahana juga mempermainkan subsidi BBM untuk menciptakan namanya harum di masyarakat, jadi ketika mereka korup masyarakat tak perduli karena tuntutan rakyat yg sering jadi landasan demo itu adalah harga murah, lapangan kerja yg banyak, & solusinya adalah Subsidi.
Ketika subsidi ini dipenuhi maka masyarakat tutup mata dengan politisi yg korup, hukum yg tak adil, yg penting pendapatan cukup untuk hidup esok hari dengan gaji tinggi.
Sedangkan kita tahu subsidi adalah beban bagi ekonomi negara, tetapi jurus subsidi ini adalah jurus ampuh supaya dipilih oleh rakyat.
Padahal kalau kita pikirkan kembali dengan logika, BBM di subsidi siapa yg untung?
Tentu masyarakat yg membeli kendaraan pribadi, hingga memaksa pemerintah membuka lahan baru untuk pembangunan jalan.
Dengan adanya pembangunan & pelebaran jalan, otomatis semakin banyak masyarakat yg harap membeli kendaraan ujungnya macet & polusi udara yg berdampak pada kesehatan. Lalu kesehatan juga minta disubsidi oleh pemerintah, maka keuangan negara dapat saja hancur lebur. Tak heran pajak digalakkan, kalau tak cukup ujungnya berhutang.
Tapi kita fokus ke subsidi BBM, siapa yg akhirnya diuntungkan?
Jelas politisi, pengusaha & yg mempunyai kendaraan pribadi, bahkan mobil bagus juga sibuk antri BBM bersubsidi.
Padahal kalau subsidi BBM dicabut, sebenarnya malah lebih bagus, tak ada lagi pengusaha apapun itu bentuknya menaikkan harga seenak perutnya sendiri, tak ada lagi politisi yg memainkan isu BBM hingga harus nangis-nangis di depan media.
Bahkan tak ada lagi masyarakat membeli kendaraan pribadi cuma untuk gengsi, kalau secara hitungan buntung di pengeluaran bulanan, maka para pekerja lebih baik memakai transportasi umum.
Tapi hal itu tidak mungkin karena subsidi BBM adalah permainan elite politik, mengerakkan massa dengan isu BBM akan lebih mudah karena ada efek domino di dalamnya dimana semua harap mencari untung.
Lalu yg buntung siapa? Orang yg tak punya kendaraan, cuma pekerja serabutan ketika hendak berbelanja atau naik angkutan umum, ternyata harga pada terkoreksi naik, sedangkan pendapatannya tidak ikut naik.
Maka kalau dilihat dari kacamata ane yg untung adalah orang-orang mampu, kenapa subsidi BBM tidak dicabut saja mengikuti harga pasar.
Biarkan juga pihak swasta membangun pom-pom mereka hingga ke pelosok tanah air, dengan harga pasar yg mereka mainkan.
Toh transportasi biasa yg dikembangkan pemerintah lebih banyak mengpakai bahan bakar gas & listrik. Ini kalau perlu yg disubsidi dengan membuka proyek transportasi biasa murah di semua wilayah Indonesia, baik itu bus, kereta, kapal laut & sebagainya.
Subsidi itu masih perlu namun tidak untuk BBM, apalagi anggaran & tunjangan pejabat kalau memang pro rakyat juga dihapuskan, dialokasikan dananya ke yg lebih membutuhkan dengan subsidi menciptakan big data supaya sensus penduduk lebih akurat. Jadi kalau ada BLT dapat tepat sasaran, sebenarnya program sudah bagus tetapi pelaksanaannya banyak tikus yg bermain. Kalau tikus rumah biasanya diracun & dihukum mati, tetapi tikus kantor kenapa di puja & dipuji apa lingkungan hukumnya juga sudah kotor?
Tapi tentu pendapat ini bukanlah hal yg pasti benar, karena agan pastinya punya pendapat yg berbeda.
Terima kasih yg sudah membaca thread ini hingga akhir, bila ada kritik silahkan dihinggakan & semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat & merdeka. Ane c4punk pamit undur diri, See u next thread.
"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
Tulisan : c4punk@2022
referensi : 1
Pic : google