Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Dunia politik.....
Hidup di dunia politik itu bak hidup di sebuah alam yg penghuninya kebanyakan terobsesi untuk jadi juara.
Bercita-cita harap pemenang adalah hal yg wajar & tentu di barengi usaha yg keras & wajar.
Namun di dunia politik, hal tersebut sangatlah susah tuk di tekuni.
Kebanyakan mereka harap mengambil jalan pintas & praktis yaitu memilih politik identitas.
Tinggal menjual semboyan & berprilaku religius dalam drama diri sendiri demi menarik simpati masyarakat.
Di Indonesia politik bukti diri merupakan jalan praktis & mudah tuk di tempuh demi mencapai tujuan akhir sebagai juara.
Bisa jadi Wakil Rakyat, Pemimpin Daerah ataupun Presiden.
Kebanyakan mereka menjual spirit religiusnya bukan program yg jelas & masuk akal yg berguna plus bermanfaat bagi rakyat.
Makanya beberapa dekade, Partai pengusung politik bukti diri tidak lagi jadi idola banyak masyarakat.
Penyebab utamanya adalah yg terpilih karena spirit religiusnya, kinerjanya sangat mengecewakan & jauh dari asa masyarakat.
Yang katanya amanah malah korupsi.
Yang katanya adil malah arogan.
Yang katanya religius malah kelakuaannya tidak bermoral.
Berbeda dengan partai yg berbasis kerakyatan.
Walaupun banyak juga yg mengecewakan namun tidaklah double combo kecewanya di banding partai religius.
Di era Pemilu 2014 mulai terasa gaungnya politik bukti diri yg berbasis agama.
Namun lagi-lagi ulah beberapa kelompok orang justru menistakan nilai-nilai agamanya sendiri.
Di tahun 2017 di sebuah acara pemilihan kepala daerah di satu wilayah.
Politik bukti diri berbasis agama meraih kemenangan.
Namun banyak catatan hitam,prilaku yg jauh dari nilai-nilai ajaran agama sendiri, mereka praktekan dengan kesombongan .
Di tempat-tempat ibadah terpampang banyak poster yg menurut ane sangatlah menjijikan.
Mereka dengan gagah & sombongnya mengikut sertakan orang-orang yg tidak bersalah & bukan pelaku penistaan yg di tuduhkan kepada satu orang di dalam satu wadah dengan semena-mena.
Padahal di ajaran agama tersebut, orang yg tidak mengerti bukanlah pendosa.
Seiring waktu dengan terpilihlah satu orang yg mereka gadang-gadang bakal jadi pemimpin terbaik mulai di uji kinerjanya.
Maka mereka sedang bertaruh dengan opsi mereka atas nama agama.
Bila kinerjanya minus maka agama mereka ikut terseret dalam kritikan maupun hinaan.
Sampaikah pemikiran mereka yg menjadikan agama sendiri sebagai alat politik bahwasannya kelak agama mereka yg mereka anut akan ikut terseret saat opsi mereka gagal dalam memimpin?.
Apakah pantas mereka marah karena agama mereka ikut terseret dalam pusaran opini publik yg kadang komentarnya tanpa tedeng aling-aling justru menghina agama mereka?.
Politik dengan mengpakai agama hanyalah bakal menyisakan sebuah penistaan bagi agama yg di anut mereka.
Ketika baik maka nama orang tersebut yg naik & di puja-puji.
Ketika buruk maka nama orang tersebut beserta agamanya bakal di hina atau di kritik.
Ane sebagai kaum muslim justru menentang agama ane ikut di ranah politik secara berlebihan.
Jauh dari porsi yg semestinya.
Karena resiko agama ane kena bulian sangatlah besar.
Ajaran agama secara umumnya,harusnya di pakai sebagai dasar evaluasi tabiat manusia itu sendiri.
Sesuai kah dengan ajaran agamanya, dengan prilakunya sehari-hari.
Ajaran agama dalam konteks yg lain, cukup di sebarkan di ruang-ruang pribadi kaum sendiri tanpa perlu di suarakan di publik.
Karena kita tidak tau isi hati & kepala orang-orang yg harap jadi pejabat publik.
Terlebih bila manusia itu terobsesi.
Maka dia akan mengerjakan segala cara supaya tujuannya tercapai.
Manusia tetaplah manusia.
Manusia bukanlah malaikat yg tidak punya nafsu duniawi.
Manusia itu sendiri adalah ciptaanNYA yg sudah di gariskan sebagai tempatnya salah & dosa.
Tiada manusia yg sempurna.
Tempatkan ajaran agamamu sesuai porsi & tempatnya khusus.
Agama bukanlah alat politik tetapi agama jadikan sebagai tuntunan diri dalam berpolitik di dunia politik yg rentan akan dosa-dosa akbar khususnya korupsi alias maling danang rakyat Indonesia.
Jangan teriak memuliakan agama tetapi diri sendiri justru sedang memperjelek nilai agamanya sendiri.