yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Renggo Khadafi (11), bocah kelas V Sekolah Dasar Negeri (SDN) 09 Pagi Makasar, Jakarta Timur tewas diduga dianiaya kakak kelasnya berinisial SY (13). Renggo meregang nyawa usai menjalani perawatan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Yesy Puspadewi (31) kakak tiri korban, menuturkan penganiayaan berawal dari sikap tidak sengaja Renggo menyenggol SY (13). Sehingga membuat makanan yang dipegang seniornya terjatuh. SY yang tersulut emosi langsung memukul perut, wajah dan bokong korban.
"Kejadiannya di dalam kelas saat jam istirahat," kata Yesy, Minggu, 4 Mei 2014.
Menurut Yesy, pemukulan sendiri terjadi pada hari, Senin, 28 April 2014 yang lalu. Kemudian, pada saat itu juga korban langsung meminta maaf dan mengganti pisang goreng yang terjatuh. Tetapi permintaan maaf korban tidak meluluhkan hati SY. Usai diberikan uang pengganti untuk membeli pisang goreng, SY bersama dua rekannya membuntuti korban hingga masuk ke dalam kelasnya.
Di dalam kelas, SY memanggil korban dari belakang. Saat Renggo menengok ke belakang, SY langsung memukul perut, wajah dan bokong korban hingga akhirnya tersungkur. Sementara kedua rekan SY berjaga di luar kelas untuk mengawasi situasi. Setelah menganiaya, SY bersama rekannya meninggalkan korban di dalam kelas seorang diri.
"Setelah kejadian tidak ada hal yang mencurigakan. Tapi keesokan harinya. Korban tidak masuk sekolah dengan alasan sakit demam dan muntah," kata Yesy.
Karena alasan itu, kemudian korban dibawa ke dokter umum dekat rumahnya. Setelah diperiksa dan diberikan obat, penyakit yang diderita korban tidak kunjung sembuh. Keesokan harinya pada Rabu, 30 April 2014, keluarga kembali membawa Renggo ke dokter. Namun betapa kagetnya dokter dan keluarga korban, saat menemukan luka lebam di bagian tubuh Renggo. Padahal saat hari pertama diperiksa, belum ada luka lebam di tubuh Renggo.
"Saya sampai terkejut ada luka biru di perut Renggo. Saat itu dokter menduga, adik saya mengalami penganiayaan benda tumpul," kata Yesy.
Karena penasaran, kemudian, Yesy pun menanyakan luka yang dialami Renggo. Namun ia sempat berkilah luka lebam yang dialaminya itu akibat berkelahi dengan temannya.
"Tapi setelah dipaksakan, akhirnya dia (Renggo) mengaku bahwa luka itu akibat dipukul oleh temannya," kata Yesy.
Renggo meregang nyawa usai menjalani perawatan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur pada Sabtu, 3 Mei 2014 yang lalu.
Jumat 2 Mei 2014, pihak keluarga sudah melaporkan kejadian itu ke sekolah. Yesy juga bertemu dengan orangtua SY di sekolah dan sepakat berdamai dan tak melanjutkan kejadian itu ke ranah hukum.
"Awalnya saya pikir ini masalah anak-anak dan bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Kebetulan saat itu, luka yang dialami Renggo belum terlalu parah," kata Yesy.
Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Mulyadi Kaharni kepada VIVAnews mengatakan, sampai saat ini penyidikan kasus masih dilakukan. "Penyidik sedang di rumah duka sekarang," ujarnya.
Yesy Puspadewi (31) kakak tiri korban, menuturkan penganiayaan berawal dari sikap tidak sengaja Renggo menyenggol SY (13). Sehingga membuat makanan yang dipegang seniornya terjatuh. SY yang tersulut emosi langsung memukul perut, wajah dan bokong korban.
"Kejadiannya di dalam kelas saat jam istirahat," kata Yesy, Minggu, 4 Mei 2014.
Menurut Yesy, pemukulan sendiri terjadi pada hari, Senin, 28 April 2014 yang lalu. Kemudian, pada saat itu juga korban langsung meminta maaf dan mengganti pisang goreng yang terjatuh. Tetapi permintaan maaf korban tidak meluluhkan hati SY. Usai diberikan uang pengganti untuk membeli pisang goreng, SY bersama dua rekannya membuntuti korban hingga masuk ke dalam kelasnya.
Di dalam kelas, SY memanggil korban dari belakang. Saat Renggo menengok ke belakang, SY langsung memukul perut, wajah dan bokong korban hingga akhirnya tersungkur. Sementara kedua rekan SY berjaga di luar kelas untuk mengawasi situasi. Setelah menganiaya, SY bersama rekannya meninggalkan korban di dalam kelas seorang diri.
"Setelah kejadian tidak ada hal yang mencurigakan. Tapi keesokan harinya. Korban tidak masuk sekolah dengan alasan sakit demam dan muntah," kata Yesy.
Karena alasan itu, kemudian korban dibawa ke dokter umum dekat rumahnya. Setelah diperiksa dan diberikan obat, penyakit yang diderita korban tidak kunjung sembuh. Keesokan harinya pada Rabu, 30 April 2014, keluarga kembali membawa Renggo ke dokter. Namun betapa kagetnya dokter dan keluarga korban, saat menemukan luka lebam di bagian tubuh Renggo. Padahal saat hari pertama diperiksa, belum ada luka lebam di tubuh Renggo.
"Saya sampai terkejut ada luka biru di perut Renggo. Saat itu dokter menduga, adik saya mengalami penganiayaan benda tumpul," kata Yesy.
Karena penasaran, kemudian, Yesy pun menanyakan luka yang dialami Renggo. Namun ia sempat berkilah luka lebam yang dialaminya itu akibat berkelahi dengan temannya.
"Tapi setelah dipaksakan, akhirnya dia (Renggo) mengaku bahwa luka itu akibat dipukul oleh temannya," kata Yesy.
Renggo meregang nyawa usai menjalani perawatan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur pada Sabtu, 3 Mei 2014 yang lalu.
Jumat 2 Mei 2014, pihak keluarga sudah melaporkan kejadian itu ke sekolah. Yesy juga bertemu dengan orangtua SY di sekolah dan sepakat berdamai dan tak melanjutkan kejadian itu ke ranah hukum.
"Awalnya saya pikir ini masalah anak-anak dan bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Kebetulan saat itu, luka yang dialami Renggo belum terlalu parah," kata Yesy.
Kepala Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Mulyadi Kaharni kepada VIVAnews mengatakan, sampai saat ini penyidikan kasus masih dilakukan. "Penyidik sedang di rumah duka sekarang," ujarnya.