Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Poligini
Mengingat perdebatan antara Bung Natsir & Bung Karno Perihal Poligami, & seperti kebanyakan masyarakat lain nya seringkali menitik kepada pendekatan Agama. Dan kita lupa bahwa secara antrophology pologami sendiri semestinya melibatkan pendekatan budaya.
Ada yg mengatakan poligami sebagai solusi untuk beberapa masalah sosial seperti pelacuran atau kesenjangan populasi pria & wanita, ada juga yg mengatakan poligami adalah sumber dari berbagai masalah seperti perceraian, KDRT, kenakalan remaja & yg lain nya. Mana yg benar? Yang pasti disparitas ini jangan hingga memulai peperangan saja.
Bung Karno sendiri dulu yg menolak adanya poligami tetapi kenyataannya mengerjakan poligami, begitu pula dengan Bung Natsir yg memperbolehkan tetapi tetap bertahan dengan satu istri. Jika begitu dengan ironi yg terjadi di kedua Tokoh akbar ini kita dapat belajar bahwa poligami sendiri itu bukan cuma tentang ideologi, agama, hak & kewajiban, diluar itu ada Hal yg melibatkan hasrat & gairah tentunya.
Kenapa harus di lihat dari sudut kebudayaan, memang dari kacamata antrophology poligami itu hasil ciptaan dari manusia. Dan lahirnya kebudayaan ini seperti mengatakan Arnold Toinb ini tidak terlepas Antara Manusia & Tantangan Alam yg ada ( pada masa lampau ). Maksudnya kondisi alam yg ada di suatu daerah menentukan apakah poligami adalah solusi atau masalah.
Seperti Pada saat itu terjadi pada masyarakat yg tinggal di lingkungan ekstrim layak nya gurun yg susah air & kebutuhan hidup lainnya, maka orang - orang akan berkumpul di sumber mata air yg jumlah nya sedikit itu, maka akan tercipta kelompok - kelompok yg rentan akan konflik suka akan peperangan guna mempertahankan diri & kelompok nya.
Maka yg di butuhkan dalam perang selain si laki - laki harus kuat, tentu memerlukan kelompok yg banyak tentunya di dapat dari perempuan. Ketergantungan yg muncul karena kondisi seperti ini, dimana laki - laki menjunjung tinggi ke tangkasan, kekuatan & kemampuan lainnya, si wanita karena kurang dapat berperan seperti laki - laki, yg di andalkan dari perempuan adalah reproduksi nya (pada masa lampau).
Maka dengan begitu poligami dalam kelompok masyarakat seperti itu jadi kewajaran, tidak sedikit juga wanita yg bahagia bukan cuma mau di poligami, bertukar pasangan pada kelompok seperti itu juga mempunyai peran untuk memperkuat kelompok. Tentu yg di nikahi adalah lelaki yg berkemampuan & punya banyak pendukung untuk mempertahankan diri & kelompoknya, & mungkin ini juga yg menyababkan muncul ungkapan banyak anak banyak rezeki.
Dalam konteks sosial seperti itulah yg terjadi, semakin akbar tantangan suatu wilayah, semakin akbar potensi masyarakat itu sendiri menjunjung poligami.
Setelah jadi budaya, masalah yg akan timbul adalah dimana pria sangat tergantung pada reproduksi & si wanita terlalu tergantung pada laki - laki, akan muncul kebiasaan baru dalam hal ini dominasi laki - laki. Selain urusan seks & reproduksi perempuan di remehkan (budak), dalam beberapa kasus misalnya wanita tidak boleh terlihat paras nya sama sekali, budak seks, pingitan, ada juga di wilayah tertentu ada janda yg mengharuskan di bunuh / bunuh diri, ini adalah tuntutan sosial yg terjadi karena masalah dominansi di masa lampau tadi yg melibatkan tantangan alam.
Sekarang kalau di tanya setuju atau tidak, karena di masa lampau & dalam kondisi tertentu poligami jadi solusi bahkan satu - satunya jalan kalau tidak berpoligami, masyarakat itu akan ter eliminasi dalam kelompok. Kita lihat di arab dimana perang adalah hobi mereka (hingga saat ini) yg menyebabkan banyak laki - laki yg meninggal, anak - anak kelaparan, perempuan tidak dapat apa - apa pada masa itu, kalau tidak terjadi poligami, mungkin tidak ada orang arab pada masa sekarang.
Poligami juga terjadi di wilayah yg sumber daya berlimpah yg di praktekan oleh raja, pejat, aristokrat, & orang - orang kalangan atas yg wilayah nya cukup akan makanan air & sumber daya lain dengan tujuan gengsi juga mempertahan kan & meneruskan kedudukan. Di china bahkan salah satu kaisarnya yg cuma punya 500 istri itu di tertawakan.
Di masa ini, alasan yg mengharuskan poligami mulai berguguran & tidak lagi relevan, kalau yg vocal di bicarakan oleh peminat poligami adalah masalah populasi perempuan yg banyak, faktanya yg banyak itu pada usia lanjut karena umur lelaki kebanyakan lebih pendek berdasarkan survei, singkat nya kalau memang berlandaska populasi untuk menjalankan poligami, silahkan nikahi perempuan yg umurnya di atas 70 tahun.
Ps : Untuk muslim kalau memang dalih di perbolehkan nya poligami, maka yg harus di penuni terlebih dahulu adalah konsep dari sakinah mawadah warohmah dulu, bahagiakan istrinya dulu, kalau istrinya tidak bahagia karena poligami ya jangan kekeuh, hukum yg di bawa juga kan sunnah yg tidak dapat di hadapkan dengan kewajiban.
Hari ini 17:15