Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Kehidupan manusia banyak dibantu dengan kehadiran barang & alat yg memudahkan banyak pekerjaan, entah itu berupa barang elektronik ataupin sekedar alat sederhana seperti palu & gergaji. Namun, sadar tidak kalau makin lama kualitas barang yg kita beli makin ringkih?
Barang-barang yg semestinya dapat bertahan selama bertahun-tahun kini cuma bias dipakai dalam hitungan bulan. Kursi plastik yg dulu kokoh menopang tubuh saat dinaiki untuk membersihkan jaring laba-laba di plafon rumah, kini dengan mudahnya pecah saat diduduki. Merek sama, model sama, warna sama, namun kualitas jauh berbeda.
Praktik ini dinamakan planned obsolescence, sebuah kesengajaan supaya barang punya masa 'kadaluarsa' yg jauh lebih singkat.
Apa itu Planned Obsolescence?
Planned Obsolescence adalah strategi produsen untuk merancang produk dengan umur pakai yg terbatas, atau lebih singkat. Tujuannya supaya konsumen lebih cepat membeli produk baru & aktivitas produksi dapat berjalan dengan baik.
Contoh paling klasik tentang awal mula praktik ini adalah kasus cartel bohlam Phoebus pada tahun 1920, sebuah persetujuan antara beberapa produse bohlam ternama yg sengaja menciptakan produknya tidak bertahan lebih dari 1000 jam. Mengapa hal ini dilakukan? Karena bohlam lampu sebelumnya dapat menyala sangat lama.
Planned Obsolescence tidak sering buruk!
Meskipun beberapa produsen mengerjakan praktik yg ekstrem, Planned Obsolescence tidak sering buruk. Dalam beberapa kasus, praktik ini justru menghadirkan perkembangan baru yg mendorong perkembangan teknologi yg lebih maju. Pada barang-barang elektronik, penggunaan material yg berbeda memungkinkan munculnya produk yg lebih ekonomis energi.
Walaupun dapat memberikan akibat baik, tentu saja sebagai konsumen kita lebih sering dirugikan. Karena bagi perusahaan, keuntungan akbar adalah hal yg utama.