yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Demikian penilaian Ketua Korps PMII Jatim, Athik Hidayatul Ummah, Selasa (2/9/2013). Menurunya, demi tegaknya demokrasi di Jawa Timur pihak-pihak terkait harus menindak tegas setiap pelaku pelanggaran dan kecurangan Pilgub Jatim.
"Demi tegaknya demokrasi yang jujur dan adil, setiap pelaku kecurangan harus ditindak. Kalau dibiarkan, masa depan demokrasi di Jatim akan semakin suram. Demokrasi abal-abal akan melahirkan pemimpin yang dzalim," katanya melalui keterangan tertulis.
Dia mengungkapkan, tidak sedikit masyarakat yang mengeluhkan kinerja KPU. Mulai dari sosialisasi yang kurang, hingga distribusi C-6 (undangan memilih). "Banyak pemilih yang tak mendapat C-6. Ini merugikan pemilik hak pilih," tandasnya.
Lebih lanjut, aktivis perempuan ini menyayangkan ulah pasangan calon Cagub-Cawagub yang menghalalkan segala cara untuk menang. "Money politics sangat marak. Ada juga mobilisasi kades dan birokrasi. Parahnya penyelenggara Pemilu di tingkat bawah tidak bisa bertindak netral," katanya.
Dia menambahkan, ada laporan di sejumlah daerah C-6 ditukar mi instan oleh relawan salah satu pasangan. "Jadi, ada orang yang datang ke rumah pemilih dengan membawa mi instan. C-6 ditukar dengan mi instan serta janji uang Rp20 ribu. Kemiskinan dimanfaatkan untuk berbuat curang," ungkapnya.
Sebelum Pilgub digelar, jelas Athik, semua pasangan Cagub-Cawagub sudah mengikuti deklarasi Pemilu damai. Sayangnya, hal itu hanya jadi catatan di atas kertas, karena di lapangan kecurangan masih marak. "Logikanya, kalau masih ada yang curang, kekecewaan pasti muncul dari pihak yang dicurangi," katanya.
Dikatakannya, janji siap menang dan siap kalah, seharusnya diikuti dengan permainan yang di fair di lapangan. "Jangan pihak yang kalah karena dicurangi dibilang tak legowo. Sebab, pihak yang menang dengan curang, sebenarnya ia tidak siap kalah," pungkas peneliti muda ini.