roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
Senin, 1 Desember 2008 | 12:34 WIB
SURABAYA, SENIN - Krisis global mulai menuai dampak buruk bagi ketenagakerjaan. Belum ada order dari pembeli asing, dan lesunya pasar domestik, mendorong pelaku industri padat karya di Jawa Timur, mulai mengurangi jam kerja.
"Sudah ada beberapa perusahaan Korea dari 400 perusahaan yang beroperasi di Jatim, mengurangi jam kerja karyawan. Belum sampai mengurangi pekerja, tetapi jika order dari luar negeri tidak ada, PHK (pemutusan hubungan kerja) sulit dihindari," kata Ketua Asosiasi Korea di Jatim, Lim Taek Seon.
Pendapat serupa juga diungkap, Wakil Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jatim, Shahputra. "Memang belum ada PHK, tetapi akan ke arah situ, karena order sepi," ujarnya.
Kesulitan pelaku usaha sektor kayu olahan, semakin meningkat karena harga bahan baku terutama kayu jati terus melambung. Sekarang harga kayu jati per meter kubik sekitar 15 juta hingga Rp 20 juta. "Dengan harga bahan baku, ditambah biaya produksi lain termasuk ongkos kirim, produk tidak mungkin diserap pasar lokal," ujar Direktur Utama CV Sekarjati, di Sidoarjo.
Beban pelaku usaha terus bertambah, karena kebutuhan bahan baku saja tidak pernah sesuai permintaan pelaku usaha. Saat ini, kebutuhan bahan baku industri perkayuan di Jatim hanya terpenuhi 10 persen. Ketersediaan hanya 300.000 kubik dari kebutuhan 3 juta kubik kayu.
Sementara, Ketua Asosiasi Industri Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jatim, Sutan RP Siregar menyebutkan, krisis global mulai berdampak. "Saat ini perusahaan mulai pusing, karena setelah Desember tidak ada order," ujarnya.
"Padahal, Tahun 2007 nilai ekspor alas kaki dari Jatim sebesar 185 juta dollar AS, dan tahun 2008 diperkirakan mencapai 238 juta dollar AS. Nilai ekspor terus naik rata-rata 15 persen per tahun. Bahkan tahun 2008 kenaikan nilai ekspor mencapai 25 persen," ujarnya sembari menambahkan, di provinsi ini ada 150 perusahaan alas kaki, dengan tenaga kerja mencapai 150.000 orang.
Sementara, Ketua Kamar Dagang dan industri (Kadin) Jatim, Erlangga Satriagung menyebutkan, dampak krisi global memaksa 9.400 pekerja di beberapa sektor menjalani proses PHK. Pengurangan pekerja tidak bisa dihindarin karena, banyak order ditunda, bahkan dibatalkan. Alasan lain pembayaran dari pembeli asing tak jelas padahal barang sudah dikirim ke negara tujuan.
Ia menambahkan, bukan hanya pengusaha lokal saja yang kehilangan order, terapi juga investor asing seperti perusahaan Korea. Penamam modal asing juga umumnya ekspor produk ke Amerika Serikat dan Eropa, dan kini semua berhenti. "Pengurangan karyawan sudah tinggal tunggu waktu, karena ada perusahaan memilih berhenti berproduksi di tengah situasi serba tak jelas," ujarnya.
===============================
SURABAYA, SENIN - Krisis global mulai menuai dampak buruk bagi ketenagakerjaan. Belum ada order dari pembeli asing, dan lesunya pasar domestik, mendorong pelaku industri padat karya di Jawa Timur, mulai mengurangi jam kerja.
"Sudah ada beberapa perusahaan Korea dari 400 perusahaan yang beroperasi di Jatim, mengurangi jam kerja karyawan. Belum sampai mengurangi pekerja, tetapi jika order dari luar negeri tidak ada, PHK (pemutusan hubungan kerja) sulit dihindari," kata Ketua Asosiasi Korea di Jatim, Lim Taek Seon.
Pendapat serupa juga diungkap, Wakil Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jatim, Shahputra. "Memang belum ada PHK, tetapi akan ke arah situ, karena order sepi," ujarnya.
Kesulitan pelaku usaha sektor kayu olahan, semakin meningkat karena harga bahan baku terutama kayu jati terus melambung. Sekarang harga kayu jati per meter kubik sekitar 15 juta hingga Rp 20 juta. "Dengan harga bahan baku, ditambah biaya produksi lain termasuk ongkos kirim, produk tidak mungkin diserap pasar lokal," ujar Direktur Utama CV Sekarjati, di Sidoarjo.
Beban pelaku usaha terus bertambah, karena kebutuhan bahan baku saja tidak pernah sesuai permintaan pelaku usaha. Saat ini, kebutuhan bahan baku industri perkayuan di Jatim hanya terpenuhi 10 persen. Ketersediaan hanya 300.000 kubik dari kebutuhan 3 juta kubik kayu.
Sementara, Ketua Asosiasi Industri Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Jatim, Sutan RP Siregar menyebutkan, krisis global mulai berdampak. "Saat ini perusahaan mulai pusing, karena setelah Desember tidak ada order," ujarnya.
"Padahal, Tahun 2007 nilai ekspor alas kaki dari Jatim sebesar 185 juta dollar AS, dan tahun 2008 diperkirakan mencapai 238 juta dollar AS. Nilai ekspor terus naik rata-rata 15 persen per tahun. Bahkan tahun 2008 kenaikan nilai ekspor mencapai 25 persen," ujarnya sembari menambahkan, di provinsi ini ada 150 perusahaan alas kaki, dengan tenaga kerja mencapai 150.000 orang.
Sementara, Ketua Kamar Dagang dan industri (Kadin) Jatim, Erlangga Satriagung menyebutkan, dampak krisi global memaksa 9.400 pekerja di beberapa sektor menjalani proses PHK. Pengurangan pekerja tidak bisa dihindarin karena, banyak order ditunda, bahkan dibatalkan. Alasan lain pembayaran dari pembeli asing tak jelas padahal barang sudah dikirim ke negara tujuan.
Ia menambahkan, bukan hanya pengusaha lokal saja yang kehilangan order, terapi juga investor asing seperti perusahaan Korea. Penamam modal asing juga umumnya ekspor produk ke Amerika Serikat dan Eropa, dan kini semua berhenti. "Pengurangan karyawan sudah tinggal tunggu waktu, karena ada perusahaan memilih berhenti berproduksi di tengah situasi serba tak jelas," ujarnya.
===============================