roughtorer
IndoForum Senior A
- No. Urut
- 44416
- Sejak
- 24 Mei 2008
- Pesan
- 6.755
- Nilai reaksi
- 175
- Poin
- 63
PONTIANAK, SENIN- Harga jual karet yang terus merosot sangat memukul petani karet di Kalimantan Barat. Jika sebelumnya harga jual karet bisa mencapai Rp 13.000 tiap kilogram, sejak dua pekan terakhir anjlok hingga Rp 2.000 tiap kilogram.
"Petani cukup terpukul dengan anjloknya harga karet. Jika sebelumnya dengan menjual satu kilogram karet bisa digunakan untuk membeli 1,5 kilogram beras, saat ini dengan harga jual serendah itu hanya bisa digunakan untuk membeli setengah kilogram beras," kata Ika (29), petani karet di Kecamatan Jongkong, Kabupaten Kapuas Hulu, Senin (20/10) .
Menyikapi anjloknya harga karet, Paulus Said (41), petani karet di Desa Kepayang, Kecamatan Anjungan, Kabupaten Pontianak , menyatakan, ia dan puluhan petani di desanya memilih untuk tidak menoreh karet.
"Jika harga karet seperti sekarang ini, sayang tanaman ditoreh terus. Kalaupun terus ditoreh, hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Saya memilih tidak menoreh karet untuk sementara waktu agar tanaman karet juga mempunyai kesempatan untuk pemulihan," kata Said.
Langkah yang berbeda dilakukan oleh Ika dan sebagian petani di Jongkong. Mereka tetap menoreh karet, namun hasilnya tidak langsung dijual. Karet hasil torehan itu disimpan dan akan dijual saat harga karet membaik.
"Saya mencari ikan di danau dan menjual hasil tangkapan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kalau memang tidak terpaksa sekali karena tidak ada penghasilan apapun, saya tidak akan menjual karet yang harganya masih anjlok ini. Petani lain juga melakukan hal yang sama," katanya.
65.000 Ton Bokar Diselundupkan Ke Malaysia
PONTIANAK, MINGGU — Sekitar 65.000 ton bahan olah karet (bokar) hasil produksi petani di Kalimantan Barat diduga diselundupkan ke Malaysia setiap tahunnya.
Ketua Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Kalbar Leo Abam mengatakan, pada 2007, 13 pabrik karet anggota Gapkindo Kalbar hanya mengekspor 185.000 ton karet. "Semua karet yang dibeli dari petani untuk kebutuhan ekspor. Kalaupun ada untuk pasar dalam negeri, jumlahnya amat sedikit," katanya.
Data dari Dinas Perkebunan Kalbar, produksi petani karet pada 2007 diperkirakan mencapai 250.000 ton. Luas areal kebun karet 500.000 hektare. Kapasitas produksi semua pabrik karet di Kalbar mampu mencapai 400.000 ton. "Namun, bokar yang diolah kembali di pabrik hanya 185.000 ton. Sisanya ke mana," kata Leo Abam.
Ia tidak menampik kemungkinan bokar-bokar tersebut dijual ke Malaysia. Kalbar berbatasan darat dengan Sarawak, Malaysia. Entikong (Sanggau), Jagoi Babang (Bengkayang), Sajingan (Sambas), Senaning (Sintang), dan Badau (Kapuas Hulu) merupakan jalur ke Sarawak. "Tinggal pengawasan di perbatasan bagaimana," katanya setengah bertanya.
Pemerintah Malaysia memberi insentif hingga 80 ringgit Malaysia untuk setiap 1 ton karet yang diolah petani Malaysia. Namun, asal-usul bokar tidak mendapat pengawalan yang ketat.
Indonesia masih berada di nomor urut kedua produsen karet terbesar di dunia setelah Thailand. Produksi karet Indonesia 2,2 juta ton per tahun, sedangkan Thailand 3 juta ton dan Malaysia 1 juta ton.
Kepala Dinas Perkebunan Kalbar Idwar Hanis mengakui, kemungkinan adanya Bokar Kalbar yang dijual ke Malaysia. "Mungkin saja ’merembes’," kata Idwar Hanis.
Namun, tutur dia, kemungkinan pula tidak semua bokar dari petani dijual ke pabrik, tetapi disimpan untuk beberapa waktu.
Karet merupakan salah satu komoditas unggulan di Kalbar selain kelapa sawit dan kayu. Pengelolaan kebun karet di Kalbar masih bersifat tradisional yang dilakukan oleh petani, bukan perusahaan perkebunan.
Perlu Cari Alternatif Tujuan Ekspor Karet dan Kopi
Kamis, 16 Oktober 2008 | 17:25 WIB
PADANG, KAMIS - Pemerintah daerah Sumatera Barat perlu mencari alternatif lain negara tujuan ekspor komoditi karet . Selama ini, sebagian besar komoditi tersebut diekspor ke Amerika Serikat. Sementara, Amerika Serikat tengah dilanda krisis ekonomi.
Dari data Kantor bunk Indonesia (KBI) Padang, 88,76 persen karet dari Sumatera Barat diekspor ke Amerika Serikat. Total nilai ekspor ke Amerika Serikat lebih dari 20 juta dollar Amerika pada Juli 2008. Amerika Serikat merupakan negara tujuan kedua ekspor dari Sumatera Barat, setelah Asia, kata Peneliti Ekonomi Muda KBI Padang, Agung Bayu Purwoko, Kamis (16/10) dalam diskusi dengan wartawan.
Ketua Tim Ekonomi Mo neter KBI Padang, Budi Waluyo, mengatakan saat krisis ekonomi, Amerika kemungkinan besar akan mengurangi volume impor. Karena itu, pemerintah dan pengusaha perlu segera mencari alternatif negara t ujuan ekspor komoditi tersebut.
Harga Karet Jatuh, Kini Rp 3.500 per Kg
Selasa, 14 Oktober 2008 | 10:27 WIB
BANJARMASIN, SELASA — Kalangan petani dan penyadap karet di sentra perkebunan karet terbesar di Kalimantan Selatan di wilayah Banua Enam (Enam Kabupaten Utara Kalsel) belakangan ini kelabakan lantaran harga karet anjlok.
"Kami petani dan buruh penyadap karet merasa bingung kok tahu-tahu harga karet turun hingga 50 persen," kata beberapa petani karet melaporkan hal itu kepada Antara via telepon, Selasa.
Pihak petani dan penyadap karet tidak mengerti anjloknya harga karet yang begitu besar dalam sejarah perkaretan selama ini karena biasanya naik turunnya harga karet secara berangsur-angsur antara 5 hingga 10 persen saja.
Oleh karena itu, petani dan penyadap karet meminta kepada pemerintah daerah atau pemerintah pusat menelisik penyebab turunnya harga yang begitu besar apakah hal itu karena spekulan atau karena masalah lain.
Memang ada yang menyebutkan, turunnya harga karet tersebut menyusul terjadinya krisis ekonomi di berbagai negara, terutama Amerika Serikat. Namun, isu itu diperkirakan hanya diembuskan kalangan spekulan.
Mereka mencontohkan harga karet jenis lum yang tadinya Rp 7.000 per kilogram kini hanya Rp 3.500 per kilogram. Murahnya harga karet ini sekitar setengah bulan terakhir ini saja, padahal harga yang bertahan di atas hampir setahun terakhir ini.
Karet Indonesia Ikut Molor
Senin, 6 Oktober 2008 | 16:29 WIB
MEDAN, SENIN - Harga ekspor karet Indonesia jenis SIR 20 terus menurun dan tinggal 2,38 dollar AS per kilogram pada penutupan harga di pasar bursa tanggal 3 Oktober akibat pengaruh penurunan harga minyak mentah dan krisis global.
"Padahal pada closing tanggal 30 September harga ekspor SIR masih 2,57 dollar AS per kg. Ada dugaan harga masih akan turun lagi," kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, Edy Irwansyah, di Medan, Senin (6/10).
Dengan turunnya harga ekspor, harga bahan olah karet (bokar) di pabrikan Sumut juga ikut tertekan atau menjadi Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram dari sebelumnya sempat Rp23.000-an per kilogram.
"Syukurnya di tengah tren harga ekspor menurun nilai dollar AS menguat, sehingga nilai jual ekspor karet itu tidak terlalu tertekan," katanya.
Pabrikan karet di Sumut sendiri, kata dia, dewasa ini sudah lebih leluasa mendapatkan pasokan bahan baku karena produksi getah petani di berbagai sentra produksi di provinsi itu semakin banyak. "Musim trek juga sudah berlalu sehingga produksi getah petani semakin banyak dan itu membuat parikan tidak lagi kesulitan mendapatkan bahan baku," katanya.
Sementara itu, pedagang karet Sumut, M. Harahap, mengatakan, meski produksi mulai banyak, tapi sejak Idul Fitri pedagang kesulitan mendapatkan getah karena petani libur menderes.
Bahkan, pasokan getah semakin sulit karena sejak akhir pekan lalu di sentra produksi terjadi curah hujan yang tinggi sehingga penderesan semakin sulit dilakukan petani.
"Karena pasokan agak ketat, harga jual masih bisa bertahan agak mahal atau sekitar Rp22 ribu per kilogram," katanya.
