yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Kepala Humas Basarnas, Gagah Prakoso mengatakan helikopter pencari telah menemukan pesawat Sukhoi Superjet-100 yang hilang, Kamis 10 Mei 2012.
"Tim di helikopter melihat ada tanda-tanda pesawat, itu masih pantauan udara," kata Gagah saat berbincang dengan VIVAnews.
Gagah menambahkan, berdasarkan pantauan itu, terlihat pesawat itu pada ketinggian 2.500 meter. "Kami masih mempersiapkan tim darat untuk menuju ke lokasi," katanya.
Sementara itu, Koordinator pencarian pesawat, I Ketut Purwa, mengatakan pesawat itu ditemukan pada koordinat 0642612 dan 10644412 pada ketinggian 2.500 kaki, 3,5 kilometer dari Cijeruk.
"Ditemukan di situ," kata Ketut. Setelah informasi di lapangan, tim pencarian pesawat langsung mengadakan rapat tertutup.
Sukhoi SSJ-100 itu hilang kontak sejak Rabu 9 Mei 2012 pukul 14.33 WIB. Pesawat itu hilang setelah meminta izin turun dari ketinggian 10.000 kaki ke 6.000 kaki. Koordinat terakhir saat hilang kontak berada pada koordinat 06.43.08 S dan 106.43.15 BSN.
Deputi Operasi Badan SAR Nasional (Basarnas) Mayjen TNI Hadi L menyatakan, pesawat jatuh dari ketinggian sekitar 5.200-6.000 kaki.
“Posisinya di puncak Gunung Salak. Kalau dari jauh melalui udara, pesawat kelihatan utuh, padahal sudah hancur,” ujar Hadi di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis 10 Mei 2012. Titik jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 itu ada di lereng Kawah Ratu, Gunung Salak, Kabupaten Bogor.
Hadi mengatakan, Basarnas belum menerima laporan mengenai korban jiwa hingga saat ini. “Kami belum tahu apa masih ada yang hidup. Kalau jatuh dari ketinggian 6.000 kaki, Saudara tahu kan seperti apa? Ya mudah-mudahan masih ada yang selamat,” kata dia.
Hadi mengakui medan tempat jatuhnya pesawat begitu sulit ditempuh melalui darat sehingga pemantauan dari udara masih terus diupayakan.
Kepala Basarnas Marsekal Madya Daryatmo dalam konferensi pers di Bandara Halim Perdanakusuma memperlihatkan gambar serpihan pesawat di lereng Gunung Salak.
“Serpihan-serpihan ini di tebing 5.800 kaki dari permukaan laut. Kalau saya lihat di gambar ini, kondisi pesawat crash, ada impact yang besar,” ujar Daryatmo.
Menurutnya, tim Basarnas sulit melakukan evakuasi karena posisi pesawat berada di lereng. “Helikopter Superpuma dan tim darat sedang menuju ke sana, di Kampung Batu Tapak,” terang Daryatmo. Ia menambahkan, jarak sebetulnya tidak jauh, namun medannya berat.
"Tim di helikopter melihat ada tanda-tanda pesawat, itu masih pantauan udara," kata Gagah saat berbincang dengan VIVAnews.
Gagah menambahkan, berdasarkan pantauan itu, terlihat pesawat itu pada ketinggian 2.500 meter. "Kami masih mempersiapkan tim darat untuk menuju ke lokasi," katanya.
Sementara itu, Koordinator pencarian pesawat, I Ketut Purwa, mengatakan pesawat itu ditemukan pada koordinat 0642612 dan 10644412 pada ketinggian 2.500 kaki, 3,5 kilometer dari Cijeruk.
"Ditemukan di situ," kata Ketut. Setelah informasi di lapangan, tim pencarian pesawat langsung mengadakan rapat tertutup.
Sukhoi SSJ-100 itu hilang kontak sejak Rabu 9 Mei 2012 pukul 14.33 WIB. Pesawat itu hilang setelah meminta izin turun dari ketinggian 10.000 kaki ke 6.000 kaki. Koordinat terakhir saat hilang kontak berada pada koordinat 06.43.08 S dan 106.43.15 BSN.
Kondisi Pesawat Sukhoi Hancur
Deputi Operasi Badan SAR Nasional (Basarnas) Mayjen TNI Hadi L menyatakan, pesawat jatuh dari ketinggian sekitar 5.200-6.000 kaki.
“Posisinya di puncak Gunung Salak. Kalau dari jauh melalui udara, pesawat kelihatan utuh, padahal sudah hancur,” ujar Hadi di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis 10 Mei 2012. Titik jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 itu ada di lereng Kawah Ratu, Gunung Salak, Kabupaten Bogor.
Hadi mengatakan, Basarnas belum menerima laporan mengenai korban jiwa hingga saat ini. “Kami belum tahu apa masih ada yang hidup. Kalau jatuh dari ketinggian 6.000 kaki, Saudara tahu kan seperti apa? Ya mudah-mudahan masih ada yang selamat,” kata dia.
Hadi mengakui medan tempat jatuhnya pesawat begitu sulit ditempuh melalui darat sehingga pemantauan dari udara masih terus diupayakan.
Kepala Basarnas Marsekal Madya Daryatmo dalam konferensi pers di Bandara Halim Perdanakusuma memperlihatkan gambar serpihan pesawat di lereng Gunung Salak.
“Serpihan-serpihan ini di tebing 5.800 kaki dari permukaan laut. Kalau saya lihat di gambar ini, kondisi pesawat crash, ada impact yang besar,” ujar Daryatmo.
Menurutnya, tim Basarnas sulit melakukan evakuasi karena posisi pesawat berada di lereng. “Helikopter Superpuma dan tim darat sedang menuju ke sana, di Kampung Batu Tapak,” terang Daryatmo. Ia menambahkan, jarak sebetulnya tidak jauh, namun medannya berat.