Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Personal Branding Itu Wajar, Tetapi Jangan Berkamuflase
Di era digital yg kian menjamur seperti sekarang ini, fenomena membangun citra diri supaya mendapat rating positif dimata publik sudah jadi asupan yg ditemukan hampir tiap saat. Di mana-mana orang berlomba mempublikasikan dirinya, entah itu untuk kepentingan komersial atau mungkin sekedar kebutuhan "pengakuan eksistensial" pribadi. Kenyataan ini dilakukan oleh mereka dengan latar belakang beragam, mulai dari kalangan masyarakat biasa hingga kepada entertainer & bahkan politisi atau pejabat. Lalu sepenting apa sih pencitraan itu? Apakah perlu mengkampanyekan kebolehan diri, semisal prestasi, kebaikan-kebaikan atau bahkan kehidupan privat supaya di ketahui oleh khalayak ramai? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat dari beberapa sudut pandang yg berbeda.
Mencitrakan diri atau lebih populer diketahui dengan personal branding sebenarnya lebih merujuk pada suatu produk komersial berupa barang yg akan dijual atau dipasarkan. Produk ini, supaya mendapat kepercayaan & minat dari konsumen, oleh produsennya (baik berupa korporasi atau individu) kemudian mengemasnya sedemikian rupa. Pada mulanya orang mengonsumsi sesuatu berupa barang atau jasa karena pertimbangan kebutuhan & urgensi. Tetapi lambat laun, dewasa ini kecenderungan konsumen sudah berubah jadi bukan cuma sekedar kebutuhan, tetapi juga soal keharapan & hegemoni keduniaan. Dalam perkembangannya, perilaku yg cenderung minim substansi ini kemudian dilihat sebagai suatu peluang yg dapat mendatangkan benefit atau keuntungan secara komersial.
Secara nyata, mari kita ambil contoh barang-barang mewah berupa tas, sepatu atau jam tangan. Pada awalnya ketiga barang ini memiliki fungsi sederhana. Tas untuk menyimpan barang bawaan, sepatu untuk dipakai melindungi kaki atau sebagai alas kaki saat bepergian & jam tangan untuk menentukan waktu. Tetapi belakangan, penggunaan ketiga barang ini bergeser jadi untuk gaya-gayaan, & itu salah satu bentuk personal branding. Seseorang yg mengenakan tas, sepatu atau jam tangan yg biasa-biasa saja akan memiliki branding yg berbeda kalau dibandingkan dengan mereka yg mengpakai barang yg sama tetapi brand yg populer. Jadi, pada akhirnya yg di jual bukan lagi barang secara fungsional atau kebutuhan penggunaannya, tetapi brandingnya atau merknya. Lalu muncul pertanyaan, apakah perlu atau harus? Jawabannya dapat iya, dapat juga tidak. Secara personal orang akan mengatakan "aku nyaman-nyaman saja pakai barang yg nggak branded". Di level pribadi its fine, namun tidak dalam level komunitas. Kecenderungan untuk menjustifikasi kelas sosial berdasarkan personal branding sudah mengakar & dianggap suatu keharusan di masyarakat. Paling tidak, dalam beberapa dekade terakhir di era berkembang pesatnya teknologi & informasi.
Dari sisi personifikasi karakter, beberapa orang memilih jalan instan untuk membangun citra. Dalam dunia politik misal, seorang figur yg akan bertarung dalam kontestasi tertentu tidak perlu mengeluarkan effort yg banyak untuk membranding dirinya. Cukup tampil di depan kamera & menunjukan empati pada orang miskin, semisal bagi-bagi sembako atau blusukan ke kampung-kampung pesisir saja, dalam waktu yg cepat akan jadi pembeda mindset khalayak pada personalnya. Ini tidak berarti buruk, ada sisi positifnya juga. Mungkin saja yg bersangkutan memang benar-benar tulus dalam mengerjakannya. Tetapi sisi negatifnya adalah, semua hal jadi bercitra baik cuma kalau di viralkan. Dan dianggap buruk atau tidak bermasyarakat kalau tidak ditemukan tampil didepan kamera atau di layar kaca media-media massa.
Well, pada akhirnya personal branding sudah jadi budaya yg mengakar di dalam masyarakat. Tidak ada yg salah dalam hal ini. Yang terpenting adalah jangan hingga personal branding cuma sebagai kamuflase untuk membangun citra, apalagi cuma sekedar gimick untuk kepentingan sesaat saja. Pelajaran pentingnya adalah, personal branding kalau dilakukan untuk membangun public recognize & transparency puproses adalah baik. Tetapi jangan hingga dilakukan malah untuk mengelabuhi & membohongi khalayak. Thats an owfull habit!
***
Hari ini 18:30
Di era digital yg kian menjamur seperti sekarang ini, fenomena membangun citra diri supaya mendapat rating positif dimata publik sudah jadi asupan yg ditemukan hampir tiap saat. Di mana-mana orang berlomba mempublikasikan dirinya, entah itu untuk kepentingan komersial atau mungkin sekedar kebutuhan "pengakuan eksistensial" pribadi. Kenyataan ini dilakukan oleh mereka dengan latar belakang beragam, mulai dari kalangan masyarakat biasa hingga kepada entertainer & bahkan politisi atau pejabat. Lalu sepenting apa sih pencitraan itu? Apakah perlu mengkampanyekan kebolehan diri, semisal prestasi, kebaikan-kebaikan atau bahkan kehidupan privat supaya di ketahui oleh khalayak ramai? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat dari beberapa sudut pandang yg berbeda.
Mencitrakan diri atau lebih populer diketahui dengan personal branding sebenarnya lebih merujuk pada suatu produk komersial berupa barang yg akan dijual atau dipasarkan. Produk ini, supaya mendapat kepercayaan & minat dari konsumen, oleh produsennya (baik berupa korporasi atau individu) kemudian mengemasnya sedemikian rupa. Pada mulanya orang mengonsumsi sesuatu berupa barang atau jasa karena pertimbangan kebutuhan & urgensi. Tetapi lambat laun, dewasa ini kecenderungan konsumen sudah berubah jadi bukan cuma sekedar kebutuhan, tetapi juga soal keharapan & hegemoni keduniaan. Dalam perkembangannya, perilaku yg cenderung minim substansi ini kemudian dilihat sebagai suatu peluang yg dapat mendatangkan benefit atau keuntungan secara komersial.
Secara nyata, mari kita ambil contoh barang-barang mewah berupa tas, sepatu atau jam tangan. Pada awalnya ketiga barang ini memiliki fungsi sederhana. Tas untuk menyimpan barang bawaan, sepatu untuk dipakai melindungi kaki atau sebagai alas kaki saat bepergian & jam tangan untuk menentukan waktu. Tetapi belakangan, penggunaan ketiga barang ini bergeser jadi untuk gaya-gayaan, & itu salah satu bentuk personal branding. Seseorang yg mengenakan tas, sepatu atau jam tangan yg biasa-biasa saja akan memiliki branding yg berbeda kalau dibandingkan dengan mereka yg mengpakai barang yg sama tetapi brand yg populer. Jadi, pada akhirnya yg di jual bukan lagi barang secara fungsional atau kebutuhan penggunaannya, tetapi brandingnya atau merknya. Lalu muncul pertanyaan, apakah perlu atau harus? Jawabannya dapat iya, dapat juga tidak. Secara personal orang akan mengatakan "aku nyaman-nyaman saja pakai barang yg nggak branded". Di level pribadi its fine, namun tidak dalam level komunitas. Kecenderungan untuk menjustifikasi kelas sosial berdasarkan personal branding sudah mengakar & dianggap suatu keharusan di masyarakat. Paling tidak, dalam beberapa dekade terakhir di era berkembang pesatnya teknologi & informasi.
Dari sisi personifikasi karakter, beberapa orang memilih jalan instan untuk membangun citra. Dalam dunia politik misal, seorang figur yg akan bertarung dalam kontestasi tertentu tidak perlu mengeluarkan effort yg banyak untuk membranding dirinya. Cukup tampil di depan kamera & menunjukan empati pada orang miskin, semisal bagi-bagi sembako atau blusukan ke kampung-kampung pesisir saja, dalam waktu yg cepat akan jadi pembeda mindset khalayak pada personalnya. Ini tidak berarti buruk, ada sisi positifnya juga. Mungkin saja yg bersangkutan memang benar-benar tulus dalam mengerjakannya. Tetapi sisi negatifnya adalah, semua hal jadi bercitra baik cuma kalau di viralkan. Dan dianggap buruk atau tidak bermasyarakat kalau tidak ditemukan tampil didepan kamera atau di layar kaca media-media massa.
Well, pada akhirnya personal branding sudah jadi budaya yg mengakar di dalam masyarakat. Tidak ada yg salah dalam hal ini. Yang terpenting adalah jangan hingga personal branding cuma sebagai kamuflase untuk membangun citra, apalagi cuma sekedar gimick untuk kepentingan sesaat saja. Pelajaran pentingnya adalah, personal branding kalau dilakukan untuk membangun public recognize & transparency puproses adalah baik. Tetapi jangan hingga dilakukan malah untuk mengelabuhi & membohongi khalayak. Thats an owfull habit!
***
Hari ini 18:30