• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Persekusi & Hal-hal yg Tak Kunjung Usai

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Sebelumnya saya menulis sebuah thread yg berjudul: "Kuliah & Hal-hal yg Belum Selesai". Tanggapannya beragam. Ada yg setuju, setengah setuju, agak kurang setuju, tidak setuju. Bagi saya tidak masalah. Tujuan saya menulis adalah memancing orang mengemukakan gagasannya. Umpan supaya orang memberdayakan isi pikirannya. Entah dalam bentuk ketidaksetujuan ataupun persetujuan.

Yang saya hendak bangun adalah, argumen yg menopang ketidaksetujuan ataupun persetujuan itu apakah anggapan asal jeplak, ataukah produk berpikir runtut. Lebih mantep lagi kalau ada dukungan data. Selama tanggapannya itu tidak bersifat menyerang pribadi, tidak mengandung unsur ancaman kekerasan, bagi saya semua pendapat itu keren adanya.

Sementara yg terjadi belakangan ini, meski kita hidup dalam samudera informasi, kebebasan berpendapat, di mana itu semua berada di bawah sendi negara yg bernama demokrasi. Masih ada saja segelintir orang yg belum sanggup memahami arti disparitas pendapat. Dalam bayangan mereka, semua ide harus satu suara. Bagi saya itu adalah hil yg mustahal.

Ambil contoh kasus persekusi yg marak belakangan ini. Apa yg yang mendasari seseorang atau sekelompok orang untuk mengerjakan persekusi? Dugaan saya, pertama: tidak sanggup menerima perbedaan. kedua, tiadanya kemampuan untuk melawan argumen yg berseberangan dengan gagasan. Karena lemahnya skill ini, maka dilakukan tindakan pengecut dengan mengerjakan ancaman kekerasan supaya orang lain kembali sependapat. Lebih pengecut lagi, itu dilakukan secara keroyokan.

Saya tidak berharap banyak bahwa semua akan jadi baik-baik saja. Di mana kita kembali bersepakat kepada kesepakatan untuk tidak sering sepakat. Minimal saya harap hinggakan satu hal: manakala ada orang yg tidak sependapat & kita tidak sepakat. Dengarkan saja dulu orang itu mau bicara hingga mana. Ketika dia jeda bicara, boleh jadi karena capek & kehadapatn bahan, kita pancing lagi dengan pertanyaan: Eh, sori tadi gue ada istilah (sebut saja istilah apapun yg dia ucapkan sebelumnya), itu maksudnya apa ya, gue kurang paham. Udah, setelah itu anda tinggal diam, duduk manis, dengerin dia ngoceh. Gak usah didebat.

Hari ini 08:17
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.