Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Tradisi di masyarakat kita adalah memberi sumbangan saat diundang pada sebuah acara kondangan. Nominal dari sumbangan ini pun tak ada patokan. Bisa menyesuaikan standar pada saat itu, atau bergantung pada siapa yg mengundang. Misal kalau yg mengundang adalah kerabat atau teman dekat, biasanya kita akan menyumbang sedikit lebih kalau dibandingkan dengan kondangan di tempat teman yg sekedar kenal.
Nah, uang tersebut biasanya kita masukan ke dalam amplop putih kemudian dimasukan ke dalam kotak yg sudah tersedia di tempat kondangan. Bukan kotak amal loh ya!
Bisa juga langsung diserahkan pada yg punya hajatan, misal pasangan mempelai kalau acara pernikahan.
Masalahnya, ada beberapa orang di masyarakat kita yg biasa menuliskan nama dirinya pada amplop sumbangan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai piutang yg kelak harus dikembalikan oleh orang yg punya hajatan. Lah, bukan sumbangan dong namanya kalau berharap kembali?
Sebagian lain membiarkan amplop mereka tanpa nama. Orang-orang ini berdalih bahwa yg namanya sumbangan ya harus ikhlas. Berapapun yg diberikan, tak perlu lah menunjukkan pada si empunya hajatan dengan cara menuliskan nama. Lagipula, kalau menjadikannya piutang, dapat menimbulkan dosa kalau tidak dikembalikan. Bisa saja yg punya hajatan lupa atau memang sengaja tak datang saat si pemberi sumbangan balik mengundang mereka. Terlebih kalau si pemberi sumbangan tak ikhlas karena uangnya tak kembali, alhasil munculah omongan-omongan negatif di belakang. Bisa dosa dua-duanya tuh!
Namun, yg namanya tradisi ya mau diapakan lagi. Kita tak dapat memaksakan kebiasaan kita pada orang atau daerah lain, kan?
Namun, AganSis! Tahukah bahwa ternyata tradisi menuliskan nama pada amplop kondangan ini ada fungsinya loh! Yang pertama, sebagai penanda kehadiran kita. Yang namanya kondangan pasti banyak orang & si pemilik acara terkadang lupa atau tak tahu kita datang memenuhi undangan mereka. Nah, setidaknya dengan menuliskan nama pada amplop, mereka dapat tahu bahwa kita datang pada acara tersebut.
Kedua, adalah untuk menghindari fitnah atau oknum nakal. Oknum nakal itu seperti apa? Ya misalnya saja ada orang yg datang membawa amplop tetapi tak ada isinya, atau isinya recehan. Menyumbang memang seikhlasnya, tetapi kalau berisi recehan kan jadi tak etis. Si pemilik hajatan pasti menduga-duga siapa kira-kira yg mengirim amplop iseng tersebut. Nah, dengan menuliskan nama, setidaknya dapat meminimalisir akibat dari kejadian ini.
Nah, dengan melihat kenyataan di atas, kembali pada pertanyaan awal, baiknya amplop kondangan diberi nama atau tidak?
Kalau menurut ane, mungkin perlu diberi nama, tetapi jangan menjadikannya piutang. Dengan begitu kita dapat mengatasi permasalahan tanpa harus menanggung dosa & fitnah.
Nah, bagaimana dengan tradisi di tempat AganSis? Ceritakan di kolom komentar yah!
Demikian thread kali ini! Terima kasih sudah membaca.
Opini Pribadi
Penulis : @YenieSue101
Ilustrasi : 1, 2, 3, 4
Hari ini 18:37