Creationz
IndoForum Junior E
- No. Urut
- 6396
- Sejak
- 10 Sep 2006
- Pesan
- 1.516
- Nilai reaksi
- 261
- Poin
- 83
TAK ada kamus menyerah dalam benak Mahmoud Ahmadinejad. Setelah DK PBB resmi menjatuhkan Resolusi Nomor 1747, Presiden Iran itu malah menunjukkan keseriusan untuk mengembangkan program nuklir ke fase lebih tinggi. Sehari setelah mengumumkan program nuklirnya siap memproduksi bahan bakar nuklir skala industri, Ahmadinejad, menyatakan siap memasang 50.000 mesin sentrifugal. Selain itu, Iran juga bertekad membangun dua reaktor nuklir baru. Rencananya, dua reaktor baru itu digunakan sebagai pembangkit energi listrik.
Wakil Ketua Badan Energi Atom Iran Ahmad Fayyazbakhsh menyatakan, dua reaktor baru yang hendak dibangun tersebut merupakan fasilitas Light Water Reactor (LWR). Tidak seperti Heavy Water Reactor (HWR) yang memanfaatkan air berpartikel atom, reaktor jenis LWR menggunakan air biasa sebagai moderator (pengontrol kecepatan neutron).
Fayyazbakhsh yang didaulat sebagai penanggung jawab proyek tersebut menambahkan, dana yang dibutuhkan untuk membangun dua reaktor itu tidak sedikit. Masing-masing reaktor membutuhkan USD1,4 miliar (Rp12,7 triliun) hingga USD1,7 miliar (Rp15,4 triliun).
"Setidaknya dibutuhkan waktu sembilan hingga 11 tahun untuk membangun dua reaktor tersebut," ujarnya. Nanti, 36 persen proyek itu dikerjakan ilmuwan dalam negeri Iran.
Rencananya, dua fasilitas nuklir baru Iran tersebut didirikan tak jauh dari Reaktor Bushehr yang dikerjakan kontraktor Rusia. Sayangnya, tahap akhir pembangunan reaktor itu terbengkelai hingga kini. Kendati demikian, pemerintah Iran tidak kapok menawarkan tender pembangunan reaktor baru itu kepada Rusia.
Sementara mesin sentrifugal tersebut untuk pengayaan uranium di Reaktor Natanz. "Tujuan utama Republik Islam Iran tidak hanya memasang 3.000 mesin sentrifugal di Reaktor Natanz. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menginstal sekitar 50.000 mesin sentrifugal di sana," tegas Kepala Badan Energi Iran, Gholam Reza Aghazadeh.
Namun Aghazadeh beralasan tidak ingin menciptakan keambiguan atas tujuan nuklir Iran. "Saya tidak ingin masyarakat luas beranggapan program nuklir Iran berakhir dengan pemasangan 3.000 mesin sentrifugal di Reaktor Natanz," katanya menanggapi isu yang disebarluaskan media asing belakangan. Aghazadeh menegaskan, Iran tidak akan berhenti memasang mesin sentrifugal sebelum jumlahnya mencapai 50.000 buah.
Mesin sentrifugal yang sejak akhir tahun lalu dilaporkan mulai beroperasi di reaktor bawah tanah tersebut digunakan untuk memurnikan gas uranium. Dalam proses pengayaan, gas uranium dipompakan ke mesin sentrifugal untuk dimurnikan. Gas dari bijih uranium itu dipisahkan dari partikel-partikel asing yang masih melekat. Dalam tingkat rendah, hasil gas uranium murni tersebut bisa digunakan sebagai bahan bakar. Namun, dalam tingkat kemurnian tinggi, hasil pengayaan itu berpotensi menciptakan hulu ledak nuklir.
Pengumuman Aghazadeh tentang mesin sentrifugal itu dinilai sejumlah pihak sebagai wujud ketidakpatuhan Iran terhadap Resolusi Nomor 1747.
Menanggapi perlawanan Ahmadinejad itu, Departemen Luar Negeri Jerman dalam pernyataan tertulisnya mengatakan, "Sepertinya, Iran benar-benar salah langkah." Sebaliknya, mantan pengawas nuklir IAEA asal Amerika Serikat (AS) David Albright tidak yakin Iran bisa mengoperasikan mesin sentrifugal sebanyak itu.
Michael Levi, pakar nonproliferasi di New York, menilai pengumuman Aghazadeh cenderung berlatar politik. Dari sudut pandang politik, kata dia, lebih penting memiliki 3.000 mesin sentrifugal daripada mengoperasikannya.
Wakil Ketua Badan Energi Atom Iran Ahmad Fayyazbakhsh menyatakan, dua reaktor baru yang hendak dibangun tersebut merupakan fasilitas Light Water Reactor (LWR). Tidak seperti Heavy Water Reactor (HWR) yang memanfaatkan air berpartikel atom, reaktor jenis LWR menggunakan air biasa sebagai moderator (pengontrol kecepatan neutron).
Fayyazbakhsh yang didaulat sebagai penanggung jawab proyek tersebut menambahkan, dana yang dibutuhkan untuk membangun dua reaktor itu tidak sedikit. Masing-masing reaktor membutuhkan USD1,4 miliar (Rp12,7 triliun) hingga USD1,7 miliar (Rp15,4 triliun).
"Setidaknya dibutuhkan waktu sembilan hingga 11 tahun untuk membangun dua reaktor tersebut," ujarnya. Nanti, 36 persen proyek itu dikerjakan ilmuwan dalam negeri Iran.
Rencananya, dua fasilitas nuklir baru Iran tersebut didirikan tak jauh dari Reaktor Bushehr yang dikerjakan kontraktor Rusia. Sayangnya, tahap akhir pembangunan reaktor itu terbengkelai hingga kini. Kendati demikian, pemerintah Iran tidak kapok menawarkan tender pembangunan reaktor baru itu kepada Rusia.
Sementara mesin sentrifugal tersebut untuk pengayaan uranium di Reaktor Natanz. "Tujuan utama Republik Islam Iran tidak hanya memasang 3.000 mesin sentrifugal di Reaktor Natanz. Kami berusaha sekuat tenaga untuk menginstal sekitar 50.000 mesin sentrifugal di sana," tegas Kepala Badan Energi Iran, Gholam Reza Aghazadeh.
Namun Aghazadeh beralasan tidak ingin menciptakan keambiguan atas tujuan nuklir Iran. "Saya tidak ingin masyarakat luas beranggapan program nuklir Iran berakhir dengan pemasangan 3.000 mesin sentrifugal di Reaktor Natanz," katanya menanggapi isu yang disebarluaskan media asing belakangan. Aghazadeh menegaskan, Iran tidak akan berhenti memasang mesin sentrifugal sebelum jumlahnya mencapai 50.000 buah.
Mesin sentrifugal yang sejak akhir tahun lalu dilaporkan mulai beroperasi di reaktor bawah tanah tersebut digunakan untuk memurnikan gas uranium. Dalam proses pengayaan, gas uranium dipompakan ke mesin sentrifugal untuk dimurnikan. Gas dari bijih uranium itu dipisahkan dari partikel-partikel asing yang masih melekat. Dalam tingkat rendah, hasil gas uranium murni tersebut bisa digunakan sebagai bahan bakar. Namun, dalam tingkat kemurnian tinggi, hasil pengayaan itu berpotensi menciptakan hulu ledak nuklir.
Pengumuman Aghazadeh tentang mesin sentrifugal itu dinilai sejumlah pihak sebagai wujud ketidakpatuhan Iran terhadap Resolusi Nomor 1747.
Menanggapi perlawanan Ahmadinejad itu, Departemen Luar Negeri Jerman dalam pernyataan tertulisnya mengatakan, "Sepertinya, Iran benar-benar salah langkah." Sebaliknya, mantan pengawas nuklir IAEA asal Amerika Serikat (AS) David Albright tidak yakin Iran bisa mengoperasikan mesin sentrifugal sebanyak itu.
Michael Levi, pakar nonproliferasi di New York, menilai pengumuman Aghazadeh cenderung berlatar politik. Dari sudut pandang politik, kata dia, lebih penting memiliki 3.000 mesin sentrifugal daripada mengoperasikannya.
