Pertemuan Bersejarah Para Mantan Presiden AS
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat George W Bush melakukan pertemuan singkat dengan Barack Obama, Rabu waktu setempat. Mereka juga mengadakan pertemuan dengan mantan presiden AS yang masih hidup.
Sebelumnya Bush memberikan briefing kepada Obama sebelum makan siang bersama di Gedung Putih bersama seluruh mantan Presiden AS yang masih hidup kemarin waktu setempat atau dini hari tadi WIB.
Pertemuan itu dihadiri mantan Presiden AS dari Partai Demokrat Jimmy Carter (1977-1981), ayah Bush dari Partai Republik George HW Bush (1989-1993), dan Bill Clinton dari Demokrat (1993-2001).
"Pertemuan dengan pemimpin AS di masa lalu dan masa kini itu merupakan yang pertama digelar sejak 1981 dan menjadi 'momen berserajah'," ujar danang Perino juru bicara Gedung Putih kemarin. Sebelum makan siang berlangsung, Obama dan Bush atau presiden AS ke-43 dan 44 itu menggelar pertemuan setengah jam di Ruang Oval, 13 hari sebelum Obama dilantik sebagai presiden.
Obama akan dilantik sebagai Presiden AS keturunan Afro-Amerika pertama pada 20 Januari dengan berbagai pekerjaan berat, termasuk dua perang di Afghanistan dan Irak, konflik Timur Tengah, dan krisis ekonomi. "Saya kira mereka akan sedikit membicarakan berbagai masalah tersebut," kata Perino tanpa menjelaskan lebih lanjut. Perino menjelaskan, Bush dan Obama sering menggelar pembicaraan rutin. "Presiden dan presiden terpilih bercakap-cakap melalui telepon pada tahun baru. Mereka melakukan kontak telepon secara teratur.
Jadi mereka telah melakukan pembicaraan mengenai berbagai isu tersebut. Itu merupakan percakapan pribadi," tegasnya. Belum dapat dipastikan apakah para mantan presiden dan presiden yang akan datang itu akan mendiskusikan eskalasi konflik di Timur Tengah. Jika mereka membahasnya, tentu akan sangat menarik karena setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Pemerintahan Carter pada 1978 berhasil menciptakan kesepakatan damai Camp David.
Namun tidak dapat dipungkiri, semua presiden di meja makan siang itu akan membicarakan situasi di Jalur Gaza di mana Israel yang merupakan aliansi terdekat AS sedang melakukan agresi yang menewaskan lebih dari 600 warga Gaza. "Semua dari kita akan tertarik untuk naik ke atas tembok dan membicarakan percakapan itu. Tapi para pemimpin ini hanya memahami apa yang sepertinya ada di tiap sepatu orang lain dan tidak satu pun dari kita dapat menempatkan diri di dalam sepatu-sepatu mereka," ujar Perino menjelaskan dengan perumpamaan.