Nemesis
IndoForum Activist E
- No. Urut
- 55724
- Sejak
- 26 Okt 2008
- Pesan
- 9.732
- Nilai reaksi
- 503
- Poin
- 113
Kegigihan menemukan penakluk flu burung mulai membuahkan titik terang. Periset Jepang mengumumkan, mereka bisa mengembangkan vaksin flu yang bisa melawan berbagai jenis virus. Termasuk menaklukkan wabah flu burung. Indonesia sangat berkepentingan terhadap penemuan vaksin flu burung. Sebab, Indonesia termasuk negara yang paling menderita karena flu maut itu.
Vaksin temuan baru itu telah dicobakan kepada tikus yang ditanami gen manusia. Hasilnya, vaksin mutakhir tersebut bisa mengatasi mutasi virus flu. Keberhasilan itu disampaikan Tetsuya Uchida, periset pada Lembaga Nasional Penyakit Infeksi, di Tokyo Kamis lalu (29/1).
Vaksin flu saat ini memanfaatkan protein yang membungkus permukaan virus. Namun, ketika protein itu mengalami mutasi, vaksin itu menjadi tak mempan lagi.
Sedangkan vaksin temuan baru tersebut memanfaatkan protein di dalam virus. ''Protein yang berada di dalam virus itu jarang berubah,'' kata Uchida.
Virus-virus yang digunakan dalam riset tersebut adalah virus yang disebut Soviet-A, Hongkong A, dan juga virus maut flu burung H5N1. Jenis virus flu yang biasa menjangkiti manusia adalah Soviet-A, Hongkong A dan B. Uchida mengatakan, bila eksperimen efektif pada virus Hongkong A, itu juga akan efektif pada tipe B. ''Kami juga berharap agar vaksin ini akan efektif pada varian-varian baru (virus H5N1),'' katanya.
Menurut Uchida, riset untuk menemukan vaksin yang bisa menyerang bagian dalam virus bukan pada permukaannya juga sedang dikembangkan di Universitas Oxford, Inggris.
Di Jepang, saat musim dingin, orang banyak dijangkiti flu dari virus Soviet-A. Mereka mengatasinya dengan Tamiflu, yang juga populer untuk melawan flu burung. Belakangan, Tamiflu menjadi kontroversial karena dilaporkan banyak anak terjun dari gedung tinggi atau berlari ke jalan raya yang ramai setelah minum Tamiflu. Tetapi, pemerintah menegaskan, tak ada kaitan antara minum Tamiflu dan perilaku nyeleneh itu.
Penemuan vaksin baru tersebut merupakan harapan besar, termasuk bagi Indonesia. Menurut WHO, 250 orang tewas di seluruh dunia karena flu burung sejak 2003. Korban terbesar diketahui berasal dari Indonesia, yakni 115 orang. WHO juga memperingatkan, jutaan orang terancam karena virus flu burung bisa bermutasi ke dalam bentuk yang mudah ditularkan antarmanusia. Kelompok risiko tinggi adalah peternak unggas atau lingkungan yang membiarkan unggas berkeliaran di dekat permukiman.
Vaksin temuan baru ini merupakan hasil kerja bareng periset dari Lembaga Nasional Penyakit Infeksi, Universitas Hokkaido, Universitas Medis Saitama, dan NOF Corp, sebuah perusahaan kimia di Tokyo. Setelah penemuan vaksin ini, harga saham NOF melejit 20,79 persen ke JPY 366 di Bursa Tokyo.
Kapan vaksin itu bisa diproduksi secara masal untuk manusia? ''Kami masih meneliti berapa dosis yang aman dan efektif bagi manusia,'' kata Uchida. ''Kami berharap bisa diterapkan dalam waktu secepat mungkin.''
Sumber
Vaksin temuan baru itu telah dicobakan kepada tikus yang ditanami gen manusia. Hasilnya, vaksin mutakhir tersebut bisa mengatasi mutasi virus flu. Keberhasilan itu disampaikan Tetsuya Uchida, periset pada Lembaga Nasional Penyakit Infeksi, di Tokyo Kamis lalu (29/1).
Vaksin flu saat ini memanfaatkan protein yang membungkus permukaan virus. Namun, ketika protein itu mengalami mutasi, vaksin itu menjadi tak mempan lagi.
Sedangkan vaksin temuan baru tersebut memanfaatkan protein di dalam virus. ''Protein yang berada di dalam virus itu jarang berubah,'' kata Uchida.
Virus-virus yang digunakan dalam riset tersebut adalah virus yang disebut Soviet-A, Hongkong A, dan juga virus maut flu burung H5N1. Jenis virus flu yang biasa menjangkiti manusia adalah Soviet-A, Hongkong A dan B. Uchida mengatakan, bila eksperimen efektif pada virus Hongkong A, itu juga akan efektif pada tipe B. ''Kami juga berharap agar vaksin ini akan efektif pada varian-varian baru (virus H5N1),'' katanya.
Menurut Uchida, riset untuk menemukan vaksin yang bisa menyerang bagian dalam virus bukan pada permukaannya juga sedang dikembangkan di Universitas Oxford, Inggris.
Di Jepang, saat musim dingin, orang banyak dijangkiti flu dari virus Soviet-A. Mereka mengatasinya dengan Tamiflu, yang juga populer untuk melawan flu burung. Belakangan, Tamiflu menjadi kontroversial karena dilaporkan banyak anak terjun dari gedung tinggi atau berlari ke jalan raya yang ramai setelah minum Tamiflu. Tetapi, pemerintah menegaskan, tak ada kaitan antara minum Tamiflu dan perilaku nyeleneh itu.
Penemuan vaksin baru tersebut merupakan harapan besar, termasuk bagi Indonesia. Menurut WHO, 250 orang tewas di seluruh dunia karena flu burung sejak 2003. Korban terbesar diketahui berasal dari Indonesia, yakni 115 orang. WHO juga memperingatkan, jutaan orang terancam karena virus flu burung bisa bermutasi ke dalam bentuk yang mudah ditularkan antarmanusia. Kelompok risiko tinggi adalah peternak unggas atau lingkungan yang membiarkan unggas berkeliaran di dekat permukiman.
Vaksin temuan baru ini merupakan hasil kerja bareng periset dari Lembaga Nasional Penyakit Infeksi, Universitas Hokkaido, Universitas Medis Saitama, dan NOF Corp, sebuah perusahaan kimia di Tokyo. Setelah penemuan vaksin ini, harga saham NOF melejit 20,79 persen ke JPY 366 di Bursa Tokyo.
Kapan vaksin itu bisa diproduksi secara masal untuk manusia? ''Kami masih meneliti berapa dosis yang aman dan efektif bagi manusia,'' kata Uchida. ''Kami berharap bisa diterapkan dalam waktu secepat mungkin.''
Sumber