• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

PERINGATAN DARURAT

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Ini penjelasan paling sederhana tentang PERINGATAN DARURAT yg sedang panas dalam 30 jam terakhir.
Klarifikasi awal, ini bukan tulisan saya. Saya mengutip langsung. Kredit kepada pak Teguh, thx Pak

PERINGATAN DARURAT


Balik lagi ke Pilpres 2024 kemarin dimana ada aturan bhw capres/cawapres minimal harus berusia 40 tahun. Tp oleh Mahkamah Konstitusi (MK) diubah/dikasih tambahan 'kecuali pernah jd kepala daerah'. Imbasnya Gibran yg baru berusia 38 dapat maju.

Masalahnya bukan di Gibrannya, melainkan masyarakat bertanya2 kok dapat aturan hukum MK diubah demi kepentingan politik perseorangan tertentu? Kemudian krn ketua MK adalah Anwar Usman yg notabene ipar Pak Jokowi/Pamannya Gibran, maka timbul dugaan nepotisme.
But still Prabowo-Gibran menang, but that's okay.

Tinggal skrg Pilkada. Capres 01 Pak Anies masih dapat maju di Pilkada DKI, tp aturannya harus didukung parpol dgn kursi minimal 20% diDPRD DKI. Tp parpol2 yg dulu dukung 01 kek Nasdem, PKB, PKS, kali ini mrk dukung Ridwan Kamil.

Tinggal satu partai tersisa yakni PDIP yg cuma punya 14% kursi, aka gk cukup buat dukung Anies. Maka jadilah Abah gagal maju. RK akan lawan kotak kosong.
Masalahnya, survey menunjukkan Anies masih jd calon terkuat gubernur DKI. JD ada kemungkinan RK kalah klo lawan kotak kosong.

Eh tiba2 muncul calon independen di Pilkada DKI. Maka masyarakat mau gak mau harus pilih antara RK atau calon yg sama sekali gak diketahui ini, alhasil RK hampir pasti akan menang. Maka muncul dugaan kalo calon independen ini cuma settingan, ya tujuannya supaya RK menang.
Masalahnya, untuk maju sbg calon independen maka si calon harus mengumpulkan KTP warga DKI sebanyak sekian sbg bentuk dukungan. Dan tiba2 saja dia dapet KTP banyak banget, padahal warga DKI tidak merasa pernah memberikan izin supaya KTP mrk dicatut.
Ini jelas kejanggalan.

Kemudian sebelum itu Mahkamah Agung (MA) jg tiba2 saja mengubah aturan bhw calon kepala daerah harus berusia minimal 30 pada saat dilantik, bukan pada saat pendaftaran. Imbasnya Kaesang dapat maju pilkada.

Jd sekali lagi aturan hukum diubah demi kepentingan politik.

And at this point, it's not okay anymore..

Masalahnya sekali lg bukan di Gibran-Kaesangnya, tp gmn bs aturan hukum diubah2 demi kepentingan politik?

Kemudian gmn dgn hak politik warga DKI yg sebenarnya jauh lebih harap Anies jd gubernur ketimbang RK atau calon lain manapun?
Membaca keresahan itu, dua parpol yakni Partai Gelora Fahrihamzah : & Partai Buruh mengajukan uji materi ke MK. Hasilnya MK mngubah aturan dmn parpol cuma butuh 7.5% kursi DPRD untuk mngajukan cagub, & bhw batas usia calon minimal 30 tahun pada saat pendaftaran tetap berlaku.

Fahrihamzah : Imbasnya Anies dapat maju di Pilkada DKI, krn PDIP dgn 14% kursi gak butuh tambahan kursi dr partai lain. Kemudian Kaesang jg gagal nyalon. Masyarakat happy krn masih dapat mengpakai hak pilihnya.

Tapi apakah ceritanya selesai? Belum!

Fahrihamzah : Sehari kemudian (tgl 21 Agustus), DPR RI menggelar rapat mendadak yg intinya membatalkan putusan MK. Maka kembali Anies gagal maju, sedangkan Kaesang dapat maju (di pilkada Jateng).

Akhirnya kesabaran masyarakat habis samsek, & muncullah 'peringatan darurat' di medsos.

Fahrihamzah : Implikasinya kalau hasil rapat DPR yg menganulir putusan MK kemarin resmi jd Undang-Undang:
Mau itu Parpol, MK, MA, DPR dst udah gak ada wibawanya samsek, krn mrk harus nurut apapun mengatakan penguasa. Tidak ada lg aturan hukum di Indonesia krn semuanya dapat diubah2 sesuai kebutuhan.

Fahrihamzah : Trus ngaruhnya apa ke masyarakat? Ya jelas ngaruh lah! Krn skrg Pemerintah gak ada kontrol samsek, maka kalo nanti mrk bikin aturan yg merugikan rakyat misal pajak naik dll, maka kalian gak dapat protes, udah terima aja!

Dan kalo begini trs, endingnya dapat seperti Bangladesh.

This is Not a Drill, Wake UP​


Fahrihamzah : Terakhir tentu kita semua berharap, Indonesia tidak berakhir akan seperti itu.






Rezim Jokowi ini pada akhirnya ga jauh beda dengan Soeharto ya?
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.