Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Perilaku Suka Nyinyir, Apakah Wajar ?
Hari-hari ini dengan adanya perkembangan dunia digital yg semakin pesat, masalah hidup juga seakan semakin banyak. Hal ini karena batas pergaulan masyarakat jadi semakin lebar, jarak & waktu seakan tak lagi jadi masalah yg harus dirisaukan.
Perkembangan media sosial yg sangat masif dewasa ini, juga mengubah perilaku sosial masyarakat jadi sangat individual & terkesan abai kepada norma & nilai-nilai sosial yg selama ini dianggap sebagai batasan etika yg "haram" untuk di lewati.
Percakapan-percakapan di media sosial yg seakan tak pernah ada habisnya, bahkan melintasi ruang & waktu. Tak ada lagi hal yg dianggap wajar atau tidak wajar. Batas antara hal privat & publik jadi samar & tak menentu.
Tak jarang, beberapa orang malah mengpakai ranah kehidupan privatnya untuk di konsumsi publik. Bahkan percakapan yg harusnya dilakukan di dalam kamar tertutup pun sudahpun diumbar juga di ruang publik. Alhasil, beragam reaksi sebagai bentuk tanggapan dari netizen pun berseliweran, sebanding dengan jumlah postingan yg mereka konsumsi. Bahkan, tak jarang tanggapan-tanggapan tersebut sudah diluar batas kewajaran & terkesan melecehkan. Satu sisi hal tersebut adalah pelanggaran etika, namun di sisi lain itu juga adalah konsekuensi atau akibat yg harus di terima. Terlebih bagi mereka yg berlabel publik figur.
Sebagai orang yg jadi pusat perhatian, sudah barang tentu mereka yg berlabel influencer atau pegiat media sosial bakal tidak akan pernah luput dari incaran netizen. Meski kesan yg didapat terkadang berimbang dari sisi negatif maupun positifnya, terkadang ada juga yg bahkan jadi bahan olok-olokan & itu jadi kenikmatan tersendiri bagi beberapa orang.
Prilaku nyinyir sebagai contoh. Kebanyakan masyarakat kita adalah orang dengan tabiat "senang melihat orang susah, susah melihat orang senang". Perilaku tersebut berimplikasi pada perlakuan mereka kepada sesama. Stigmatisasi & judgment seolah jadi tren untuk menentukan kebenaran kepada informasi. Kebenaran orang banyak & berulang-ulang dianggap sebagai kebenaran yg sesungguhnya tanpa peduli & berusaha mengecek hal tersebut berdasarkan data & fakta yg terverifikasi keabsahannya.
Jadi, apakah ini adalah kebiasaan baik atau buruk, kembali lagi kepada masyarakat kita. Batas kewajaran & etika memang sepatutnya dijadikan pedoman supaya pada akhirnya tak ada hal yg benar-benar bebas untuk dilakukan atau diikuti.
Kemarin 23:35
Hari-hari ini dengan adanya perkembangan dunia digital yg semakin pesat, masalah hidup juga seakan semakin banyak. Hal ini karena batas pergaulan masyarakat jadi semakin lebar, jarak & waktu seakan tak lagi jadi masalah yg harus dirisaukan.
Perkembangan media sosial yg sangat masif dewasa ini, juga mengubah perilaku sosial masyarakat jadi sangat individual & terkesan abai kepada norma & nilai-nilai sosial yg selama ini dianggap sebagai batasan etika yg "haram" untuk di lewati.
Percakapan-percakapan di media sosial yg seakan tak pernah ada habisnya, bahkan melintasi ruang & waktu. Tak ada lagi hal yg dianggap wajar atau tidak wajar. Batas antara hal privat & publik jadi samar & tak menentu.
Tak jarang, beberapa orang malah mengpakai ranah kehidupan privatnya untuk di konsumsi publik. Bahkan percakapan yg harusnya dilakukan di dalam kamar tertutup pun sudahpun diumbar juga di ruang publik. Alhasil, beragam reaksi sebagai bentuk tanggapan dari netizen pun berseliweran, sebanding dengan jumlah postingan yg mereka konsumsi. Bahkan, tak jarang tanggapan-tanggapan tersebut sudah diluar batas kewajaran & terkesan melecehkan. Satu sisi hal tersebut adalah pelanggaran etika, namun di sisi lain itu juga adalah konsekuensi atau akibat yg harus di terima. Terlebih bagi mereka yg berlabel publik figur.
Sebagai orang yg jadi pusat perhatian, sudah barang tentu mereka yg berlabel influencer atau pegiat media sosial bakal tidak akan pernah luput dari incaran netizen. Meski kesan yg didapat terkadang berimbang dari sisi negatif maupun positifnya, terkadang ada juga yg bahkan jadi bahan olok-olokan & itu jadi kenikmatan tersendiri bagi beberapa orang.
Prilaku nyinyir sebagai contoh. Kebanyakan masyarakat kita adalah orang dengan tabiat "senang melihat orang susah, susah melihat orang senang". Perilaku tersebut berimplikasi pada perlakuan mereka kepada sesama. Stigmatisasi & judgment seolah jadi tren untuk menentukan kebenaran kepada informasi. Kebenaran orang banyak & berulang-ulang dianggap sebagai kebenaran yg sesungguhnya tanpa peduli & berusaha mengecek hal tersebut berdasarkan data & fakta yg terverifikasi keabsahannya.
Jadi, apakah ini adalah kebiasaan baik atau buruk, kembali lagi kepada masyarakat kita. Batas kewajaran & etika memang sepatutnya dijadikan pedoman supaya pada akhirnya tak ada hal yg benar-benar bebas untuk dilakukan atau diikuti.
Kemarin 23:35