Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Perempuan Penghayat Menulis
IJIR-November 4, 2019
kami sebagai penganut Penghayat Kepercayaan dianggap sebagai orang kafir, tidak beragama, kumpul kebo, akhirnya hingga juga ke telingaku, sekalipun secara tidak langsung.
Itulah sepenggal kisah Rela Susanti yg diabadikannya dalam tulisan berjudul Ketika Perkimpoian Terganjal Peraturan. Rela adalah penganut Budi Daya yg pernah berjuang enam tahun lamanya untuk sekadar mendapatkan Akta Perkimpoian karena keteguhannya dalam mempertahankan identitasnya sebagai Penghayat Kepercayaan.
Bersama suaminya ia memperjuangkan perkimpoian menurut adat Sunda, dapat dicatatkan di Dinas Kependudukan & Catatan Sipil Kabupaten Bandung. Pemerintah rupanya menolak. Proses ini lalu memaksa kedua mempelai tersebut mengerjakan gugatan, menjalani sidang demi sidang seperti tak berujung, hingga perkara tersebut harus diselesaikan oleh Mahkamah Agung.
Bukan cuma urusan Pengadilan yg memojokan mereka. Selama periode itu pula, 2001-2006, keduanya terus jadi target olokan & teror masyarakat. Itulah harga yg harus mereka bayar karena keteguhan mempertahankan bukti diri sebagai Penghayat.
Perjuangan Rela bersama keluarganya adalah kisah inspiratif. Meski sudah terendap lama, ketika ditulis, kisah tersebut tetap mengundang haru biru. Tidak berlebihan bila Rela Susanti kemudian ditetapkan sebagai pemenang lomba menulis yg dihelat oleh Perempuan Penghayat Indonesia (Puanhayati).
Perspektif Pelaku
Sayembara menulis untuk perempuan Penghayat sendiri, merupakan inisiatif Dian Jennie Tjahjawati, Ketua Puanhayati Pusat, untuk mendorong lahirnya narasi yg merepresentasi suara perempuan Penghayat. Inisiatif tersebut bermula dari keprihatinan tentang keberadaan perempuan Penghayat yg sering direpresentasikan secara salah & dipenuhi oleh stigma.
Pemberitaan & pewacanaan kepada perempuan Penghayat memang mulai melibatkan lebih banyak kelompok akademisi & CSO, meski begitu, Dian Jennie berpandangan bahwa representasi yg dilakukan oleh kalanganoutsidersaja, tidak cukup sanggup menampilkan kedalaman & kompleksitas pengalaman perempuan Penghayat.
Atas dasar inilah, pada Agustus 2019, Puanhayati lalu mengundang semua anggotanya untuk jadi bagian lomba menulis dengan tema Perempuan Penghayat Kepercayaan Menembus Batas Diskriminasi. Melampaui urusan perlombaan, sayembara menulis tersebut sesungguhnya dimaksudkan melahirkan lebih banyak narasi tentang pengalaman perempuan Penghayat yg ditulis oleh pelakunya sendiri.
Meski sayembara ini cuma berhasil menarik dua puluh partisipan, akan tetapi kisah-kisah yg berhasil dituliskan oleh para perempuan Penghayat, sudah jadi sarana yg penting untuk menampilkan suara mereka, di samping kisah-kisah itu sendiri tentu saja jauh lebih berwarna, lebih dalam, lebih kompleks dari narasi yg sudah ditampilkan oleh para penulis-akademisi yg menjadikan kalangan Penghayat sebagai obyek kajiannya.
Tulisan-tulisan diseleksi & dinilai tiga orang dewan juri yg ditunjuk oleh Puanhayati. Tiga orang dewan juri tersebut adalah: [1] Drs. KRT Sulistiyo Tirto Kusumo, MM (Mantan Direktur Penghayat Kepercayaan); [2] Akhol Firdaus (DirekturInstitute for Javanese Islam ResearchIAIN Tulungagung), dan; [3] Dian Jennie Tjahjawati, S.Sos (Ketua Puanhayati Pusat).
Dewan juri lalu menetapkan tiga penulis terbaik. Juara perdana adalah Rela Susanti dengan tulisan berjudul Ketika Perkimpoian Terjagal Peraturan. Juara kedua adalah Timih Himayati (Aliran Kebatinan Perjalanan) dengan tulisan berjudul Kenangan Perjalanan Hidup Kami. Juara ketiga adalah Dwi Setyani (Kerokhanian Sapta Darma) dengan tulisan berjudul Refleksi Hidup Perempuan Penghayat.
Pemenang lomba menulis ini kemudian diumumkan secara resmi pada 22 Oktober 2019, bersamaan dengan Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan, di Hotel Grand Pasundan, Bandung.
Menurut Dian Jennie, lomba menulis tersebut hanyalah tahap awal untuk membangun narasi tentang perempuan Penghayat. Puanhayati sendiri tengah mengagendakan program penguatan kapasitas, yg salah satunya berupa pelatihan menulis sehingga diproyeksikan sanggup melahirkan lebih banyak lagi penulis dari kalangan perempuan Penghayat sendiri. Program tersebut akan diwujudkan pada 2020.
Perempuan Penghayat memang harus menulis. Hal ini karena mereka adalah kelompoksubalternyang mengalami beragam peminggiran & diskriminasi. Hampir tidak ada telinga yg sanggup mendengarkan bahasa mereka. Bahkan, seandainya ada sekalipun, tidak tersedia bahasa konseptual yg benar-benar dapat mewakili pengalaman mereka. Selama ini, keberadaan mereka dianggap tidak ada, & suara mereka pun seakan-akan terbungkam.
Beruntunglah karena Puanhayati hadir sebagai organisasi payung bagi perempuan Penghayat, sekaligus mengambil inisiatif yg penting untuk membangkitkan pencerahan perempuan untuk menuliskan kisah mereka sendiri. Inilah tonggak penting untuk membangun narasi tentang perempuan Penghayat yg dikisahkan menurut sudut pandang mereka sendiri. []
Akhol Firdaus
https://ijir.iain-tulungagung.ac.id/...ayat-menulis/
Hari ini 11:11
IJIR-November 4, 2019
kami sebagai penganut Penghayat Kepercayaan dianggap sebagai orang kafir, tidak beragama, kumpul kebo, akhirnya hingga juga ke telingaku, sekalipun secara tidak langsung.
Itulah sepenggal kisah Rela Susanti yg diabadikannya dalam tulisan berjudul Ketika Perkimpoian Terganjal Peraturan. Rela adalah penganut Budi Daya yg pernah berjuang enam tahun lamanya untuk sekadar mendapatkan Akta Perkimpoian karena keteguhannya dalam mempertahankan identitasnya sebagai Penghayat Kepercayaan.
Bersama suaminya ia memperjuangkan perkimpoian menurut adat Sunda, dapat dicatatkan di Dinas Kependudukan & Catatan Sipil Kabupaten Bandung. Pemerintah rupanya menolak. Proses ini lalu memaksa kedua mempelai tersebut mengerjakan gugatan, menjalani sidang demi sidang seperti tak berujung, hingga perkara tersebut harus diselesaikan oleh Mahkamah Agung.
Bukan cuma urusan Pengadilan yg memojokan mereka. Selama periode itu pula, 2001-2006, keduanya terus jadi target olokan & teror masyarakat. Itulah harga yg harus mereka bayar karena keteguhan mempertahankan bukti diri sebagai Penghayat.
Perjuangan Rela bersama keluarganya adalah kisah inspiratif. Meski sudah terendap lama, ketika ditulis, kisah tersebut tetap mengundang haru biru. Tidak berlebihan bila Rela Susanti kemudian ditetapkan sebagai pemenang lomba menulis yg dihelat oleh Perempuan Penghayat Indonesia (Puanhayati).
Perspektif Pelaku
Sayembara menulis untuk perempuan Penghayat sendiri, merupakan inisiatif Dian Jennie Tjahjawati, Ketua Puanhayati Pusat, untuk mendorong lahirnya narasi yg merepresentasi suara perempuan Penghayat. Inisiatif tersebut bermula dari keprihatinan tentang keberadaan perempuan Penghayat yg sering direpresentasikan secara salah & dipenuhi oleh stigma.
Pemberitaan & pewacanaan kepada perempuan Penghayat memang mulai melibatkan lebih banyak kelompok akademisi & CSO, meski begitu, Dian Jennie berpandangan bahwa representasi yg dilakukan oleh kalanganoutsidersaja, tidak cukup sanggup menampilkan kedalaman & kompleksitas pengalaman perempuan Penghayat.
Atas dasar inilah, pada Agustus 2019, Puanhayati lalu mengundang semua anggotanya untuk jadi bagian lomba menulis dengan tema Perempuan Penghayat Kepercayaan Menembus Batas Diskriminasi. Melampaui urusan perlombaan, sayembara menulis tersebut sesungguhnya dimaksudkan melahirkan lebih banyak narasi tentang pengalaman perempuan Penghayat yg ditulis oleh pelakunya sendiri.
Meski sayembara ini cuma berhasil menarik dua puluh partisipan, akan tetapi kisah-kisah yg berhasil dituliskan oleh para perempuan Penghayat, sudah jadi sarana yg penting untuk menampilkan suara mereka, di samping kisah-kisah itu sendiri tentu saja jauh lebih berwarna, lebih dalam, lebih kompleks dari narasi yg sudah ditampilkan oleh para penulis-akademisi yg menjadikan kalangan Penghayat sebagai obyek kajiannya.
Tulisan-tulisan diseleksi & dinilai tiga orang dewan juri yg ditunjuk oleh Puanhayati. Tiga orang dewan juri tersebut adalah: [1] Drs. KRT Sulistiyo Tirto Kusumo, MM (Mantan Direktur Penghayat Kepercayaan); [2] Akhol Firdaus (DirekturInstitute for Javanese Islam ResearchIAIN Tulungagung), dan; [3] Dian Jennie Tjahjawati, S.Sos (Ketua Puanhayati Pusat).
Dewan juri lalu menetapkan tiga penulis terbaik. Juara perdana adalah Rela Susanti dengan tulisan berjudul Ketika Perkimpoian Terjagal Peraturan. Juara kedua adalah Timih Himayati (Aliran Kebatinan Perjalanan) dengan tulisan berjudul Kenangan Perjalanan Hidup Kami. Juara ketiga adalah Dwi Setyani (Kerokhanian Sapta Darma) dengan tulisan berjudul Refleksi Hidup Perempuan Penghayat.
Pemenang lomba menulis ini kemudian diumumkan secara resmi pada 22 Oktober 2019, bersamaan dengan Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan, di Hotel Grand Pasundan, Bandung.
Menurut Dian Jennie, lomba menulis tersebut hanyalah tahap awal untuk membangun narasi tentang perempuan Penghayat. Puanhayati sendiri tengah mengagendakan program penguatan kapasitas, yg salah satunya berupa pelatihan menulis sehingga diproyeksikan sanggup melahirkan lebih banyak lagi penulis dari kalangan perempuan Penghayat sendiri. Program tersebut akan diwujudkan pada 2020.
Perempuan Penghayat memang harus menulis. Hal ini karena mereka adalah kelompoksubalternyang mengalami beragam peminggiran & diskriminasi. Hampir tidak ada telinga yg sanggup mendengarkan bahasa mereka. Bahkan, seandainya ada sekalipun, tidak tersedia bahasa konseptual yg benar-benar dapat mewakili pengalaman mereka. Selama ini, keberadaan mereka dianggap tidak ada, & suara mereka pun seakan-akan terbungkam.
Beruntunglah karena Puanhayati hadir sebagai organisasi payung bagi perempuan Penghayat, sekaligus mengambil inisiatif yg penting untuk membangkitkan pencerahan perempuan untuk menuliskan kisah mereka sendiri. Inilah tonggak penting untuk membangun narasi tentang perempuan Penghayat yg dikisahkan menurut sudut pandang mereka sendiri. []
Akhol Firdaus
https://ijir.iain-tulungagung.ac.id/...ayat-menulis/
Hari ini 11:11