yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Payung pusaka jatuh belum diubah, begitu juga pecahan kendi yang hancur masih dibiarkan apa adanya, belum dibersihkan. Papan yang terdapat bunga kantil juga belum ditata meski dalam kondisi miring tersangga tembok.
Begitu juga maisan -batu kecil yang menempel diatas nisan ujung utara dan selatan- belum ditempatkan pada batu nisan. Kondisinya masih utuh meski tidak pada tempatnya karena di bawah lantai.
Rencananya, proses perbaikan makam itu akan dilakukan pada Minggu, 22 September besok. Sebelum proses perbaikan, pengelola makam akan mengadakan doa selamatan atau yang biasa disebut kenduri.
"Besok pagi akan diperbaiki, sebelum perbaikan akan dilakukan kenduri terlebih dahulu," kata Nurdiyanto (66), pengelola makam, Sabtu (21/9/2013).
Satu alasan selama ini belum diperbaiki, ternyata masih dalam upaya penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian, baik dari Polresta Yogyakarta maupun dari Polda DIY. Sebab, barang-barang yang dirusak itu sedang diselidiki untuk mencari siapa perusaknya.
"Kemarin malam sudah diperbolehkan Kasat Reskrim Polresta (Kompol Dodo Hendro Kusumo) untuk diperbaiki, karena olah TKP sudah cukup, makanya pada Minggu besok itu dilakukan perbaikan," jelas pria yang suka nenepi ini.
Nurdiyanto mengaku untuk perbaikan dan pembersihan, tidak sulit. Sebab, kerusakan fisik hanya beberapa barang dijatuhkan sehingga tidak tepat pada posisinya. Begitu juga tulisan dari cat semprot sangat mudah dibersihkan dengan minyak atau bensin. "Ya sebenarnya mudah menata kembali, tetapi orang jawa kalau ngijing (membangun batu nisan) ada cara-cara, minimal kenduri," kata bapak tiga anak ini.
Nurdiyanto juga mencontohkan kenduri 'surtanah'. Kenduri itu dilakukan setelah ada orang dikubur di makam. "Namanya adat (kebiasaan) ya harus dilestarikan, kalau adat yang jelek sudah tentu ditinggalkan," jelas pria yang masih memiliki trah darah biru itu.