al_hudzaifah
IndoForum Junior A
- No. Urut
- 18915
- Sejak
- 16 Jul 2007
- Pesan
- 3.389
- Nilai reaksi
- 60
- Poin
- 48
Perang Tarif Selular Masuk Tahap II
17 Januari 2009
Gebrakan tarif hemat Esia pada 2006 lalu, memicu gelombang perang tarif antar operator. Di awal 2009, Esia kembali melakukan gebrakan tarif diskon 25%, kali ini untuk pembicaraan ke semua operator. Bakal terjadi perang tarif tahap kedua?
Bakrie Telecom memberikan diskon 25% untuk pembicaraan ke lain operator atau off net. Penurunan tarif itu untuk mendorong penambahan jumlah pelanggan. Selain itu, tarif turun juga untuk memberikan nilai tambah pada pelanggan yang sudah ada.
Wakil Presiden PT Bakrie Telecom Erik Meijer mengatakan dalam situasi krisis ekonomi seperti sekarang, operator harus mampu melakukan langkah strategis. Konsumen akan cenderung memperhitungkan tarif operator yang hemat. “Kondisi krisis, konsumen akan mencari solusi lebih murah,” katanya.
Erik mengatakan, tarif diskon yang diberikan Esia kemungkinan akan diikuti oleh operator lain. Dan perang tarif bisa saja terjadi untuk percakapan off net atau percakapan antaroperator.
Tapi, kemungkinan tidak semua operator bisa memberikan tarif diskon untuk pembicaraan off net terutama operator GSM. “Selama ini tidak ada GSM yang melakukannya. Kalau mereka mampu, pasti mereka sudah melakukan dari dulu?,” tegasnya
Perang tarif antar operator beberapa tahun terakhir dipicu iklan Esia pada 2006 lalu. Termasuk iklan di harian ibu kota pada Juni 2006. Iklan itu mengundang banyak perhatian karena dinilai sangat unik dan cenderung menjengkelkan.
Esia mengungkap fakta, biaya telepon di negara lain sangat murah. Iklan itu mampu membuka mata banyak orang, selama ini Indonesia adalah salah satu negara dengan tarif telepon termahal.
Pengurus Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Mas Wigrantoro menilai, operator perlu mawas diri melihat permasalahan tarif. Hal itu disebabkan kompetisi yang makin ketat. Jika masih ada operator tidak efisien, tercermin dari mahalnya jasa yang ditawarkan, maka opertor tidak akan mampu bersaing.
“Operator yang suka mengurangi timbangan atau curang dalam penghitungan pulsa, maka lambat laun akan ditinggalkan oleh pelanggan,” katanya. Operator juga tidak ada alasan untuk mengeluh, perluasan cakupan menjadi terganggu karena tekanan tarif pembicaraan antaroperator yang makin murah.
“Jika ada yang mengeluh, ini pasti keluhan operator kecil, atau operator yang baru masuk ketika pasar sudah ramai dan kompetisi sudah marak. Bagi operator besar atau yang masuk di awal–awal kompetisi, isu semacam ini tidak dirasakan,” katanya.
Erik menilai ke depan operator harus menyediakan tarif murah. Sebagai buktinya sepertiga pengguna telepon di Jakarta telah menggunakan Esia. Hingga akhir 2009, Esia memproyeksikan jumlah pelanggan naik menjadi 10,5 juta. Untuk 2008 lalu, Esia menetapkan pelanggan 7 juta.
Program tarif diskon, kata Erik tidak akan mengurangi revenue operator. Karena jika jumlah pelanggan bertambah tinggi, maka revenue justru bisa melonjak. Sementara di lain pihak pelanggan bisa mendapat manfaat bisa menelepon dengan waktu lebih panjang.
Untuk saat ini, Esia membatasi tarif diskon hanya pada lima nomor dan harus didaftarkan terlebih dulu. Erik memberikan argumentasi, pada kenyataannya pelanggan hanya intensif melakukan telepon tidak lebih ke lima nomor.
Sedangkan diskon yang tidak lebih dari 25%, karena Esia harus memperhitungkan tarif interkoneksi. “Tidak mungkin memberikan tarif telepon di bawah tarif interkoneksi,” katanya.
Sumber: INILAH.COM