Handyplast
IndoForum Beginner D
- No. Urut
- 10814
- Sejak
- 29 Jan 2007
- Pesan
- 608
- Nilai reaksi
- 219
- Poin
- 43
Perang Antarkampung di Papua, Satu Tewas
PERANG ANTARKAMPUNG, Puluhan warga berjaga-jaga membawa senjata panah, tombak, parang, dan senapan angin di Kampung Sokori, Distrik Kemtuk, Kab Jayapura, Papua, kemarin. Perang antarkampung yang disulut perebutan wilayah di daerah ini telah menewaskan satu orang.
JAYAPURA (SINDO) – Sedikitnya seorang tewas dan 32 rumah hangus terbakar dalam aksi bentrok antara warga Kampung Sokori,Distrik Kemtuk,Kabupaten Jayapura, Papua, dan sekelompok orang dari tiga kampung di pesisir danau Sentani, Jayapura,Jumat (9/2) lalu.
Kapolres Kabupaten Jayapura AKBP Kalembang, saat dihubungi SINDO, mengatakan, konflik tersebut berawal dari perselisihan antara masyarakat Kampung Sokori, dengan warga Kampung Simporo, Babrongko, Sentani, Jumat (8/2) siang,saat peresmian kantor Kabupaten Griminawa,Papua.
”Saat itu, masyarakat Simporo mengklaim tanah yang dijadikan kantor kabupaten masih bagian dari wilayah Simporo. Namun, masyarakat Sokori tidak terima,”ujarnya. Karena tidak ada kata sepakat, lanjut Kapolres,bentrok pun tidak dapat dihindarkan. Akibatnya, seorang warga asal Ternate bernama Hasan,32, tewas. Dia sendiri mengaku tidak mendapat laporan berapa jumlah warga yang terlibat bentrok dan berapa jumlah korban luka-luka.
Dia hanya menyebutkan, hanya seorang warga yang tewas dalam insiden tersebut. Menurut Kalembang, persoalan batas wilayah tersebut telah lama terjadi,namun dia membantah bahwa kemarin terjadi bentrokan susulan. ”Rencananya, besok (hari ini) masyarakat Simporo dan Sokori dipertemukan untuk memusyawarahkan persoalan tanah tersebut,” ujar Kalembang.
Saat ini, lanjut Kalembang, kedua belah pihak yang bertikai telah sepakat menyelesaikan persoalan dengan menggelar pertemuan bersama. Kepala Distrik Tuka—wilayah yang berdekatan langsung dengan lokasi kejadian, Hasegem,saat dihubungi, telepon genggamnya tidak aktif.Sementara siang kemarin, sejumlah warga Kampung Sokori, terus berjagajaga dengan membawa senjata panah, tombak, parang, dan senapan angin untuk menghindari penyerangan susulan ke kampung mereka
sumber : sindo
PERANG ANTARKAMPUNG, Puluhan warga berjaga-jaga membawa senjata panah, tombak, parang, dan senapan angin di Kampung Sokori, Distrik Kemtuk, Kab Jayapura, Papua, kemarin. Perang antarkampung yang disulut perebutan wilayah di daerah ini telah menewaskan satu orang.
JAYAPURA (SINDO) – Sedikitnya seorang tewas dan 32 rumah hangus terbakar dalam aksi bentrok antara warga Kampung Sokori,Distrik Kemtuk,Kabupaten Jayapura, Papua, dan sekelompok orang dari tiga kampung di pesisir danau Sentani, Jayapura,Jumat (9/2) lalu.
Kapolres Kabupaten Jayapura AKBP Kalembang, saat dihubungi SINDO, mengatakan, konflik tersebut berawal dari perselisihan antara masyarakat Kampung Sokori, dengan warga Kampung Simporo, Babrongko, Sentani, Jumat (8/2) siang,saat peresmian kantor Kabupaten Griminawa,Papua.
”Saat itu, masyarakat Simporo mengklaim tanah yang dijadikan kantor kabupaten masih bagian dari wilayah Simporo. Namun, masyarakat Sokori tidak terima,”ujarnya. Karena tidak ada kata sepakat, lanjut Kapolres,bentrok pun tidak dapat dihindarkan. Akibatnya, seorang warga asal Ternate bernama Hasan,32, tewas. Dia sendiri mengaku tidak mendapat laporan berapa jumlah warga yang terlibat bentrok dan berapa jumlah korban luka-luka.
Dia hanya menyebutkan, hanya seorang warga yang tewas dalam insiden tersebut. Menurut Kalembang, persoalan batas wilayah tersebut telah lama terjadi,namun dia membantah bahwa kemarin terjadi bentrokan susulan. ”Rencananya, besok (hari ini) masyarakat Simporo dan Sokori dipertemukan untuk memusyawarahkan persoalan tanah tersebut,” ujar Kalembang.
Saat ini, lanjut Kalembang, kedua belah pihak yang bertikai telah sepakat menyelesaikan persoalan dengan menggelar pertemuan bersama. Kepala Distrik Tuka—wilayah yang berdekatan langsung dengan lokasi kejadian, Hasegem,saat dihubungi, telepon genggamnya tidak aktif.Sementara siang kemarin, sejumlah warga Kampung Sokori, terus berjagajaga dengan membawa senjata panah, tombak, parang, dan senapan angin untuk menghindari penyerangan susulan ke kampung mereka
sumber : sindo