Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Menarik untuk kembali menelusuri ruang beririsan antara kepercayaan & seni kebudayaan yg melingkupi kehidupan. Dalam gerak estetik tarian, misalnya. Di Sulawesi Selatan, masyarakat Makassar masih dapat menyaksikan tarian Pepe-pepeka ri Makka. Tidak sering, namun pada seremonial tertentu, tarian ini seringkali jadi suguhan. Masyarakat Paropo di Makassar adalah sedikit komunitas yg masih merawat kesenian ini.
Tarian Pepe-pepeka ri Makka adalah tarian yg mengpakai api sebagai properti utama. Nampak serupa dengan Fire Dance di Hawaii ataupunTarian Apidi Bali. Namun, aspek historis tarian Pepe-pepeka ri Makka menarik untuk ditelusuri.
Lebih dari sekadar pemaknaan kultural, tarian ini berelasi dengan sejarah awal penyebaran Islam di tanah Sulawesi. Di berbagai literatur, narasi awal mula masuknya Islam di Sulawesi Selatan dapat ditarik hingga ke zaman 17 M. Saat itu, sama dengan tahap awal penyebaran Islam di berbagai wilayah di nusantara, jalan sunyi yg dipilih untuk menyebarkan Islam adalah lewat seni ataupun pada kebiasaan sederhana yg jadi keseharian masyarakat setempat. Sebuah jalan yg sangat halus.
Relasi tarian ini dengan aspek keislaman terkonfirmasi dari pengertian secara harfiah tarian Pepe-pepeka ri Makka,pepeberarti api,riberarti di yg merujuk pada keterangan,Makkaberarti Mekah yg menegaskan fungsi di sebagai penunjukan tempat & secara simbolik merujuk pada Islam. Sehingga, Pepe-pepeka ri Makka adalah tarian yg mengpakai api & memiliki rekanan dengan simbol keislaman. Sedikit gambaran, definisi ini dapat merujuk pada syair lagu yg dilantunkan oleh penari. Bunyinya:
Pepe-pepeka ri Makka
Lanterayya ri Madina
Ayya Allah parombasai natakabbere dunia
Api di tanah suci Mekkah,
Lentera di tanah Madinah,
Ya Allah kobarkanlah hingga seluruh dunia bertakbir
Lanterayya ri Madina
Ayya Allah parombasai natakabbere dunia
Api di tanah suci Mekkah,
Lentera di tanah Madinah,
Ya Allah kobarkanlah hingga seluruh dunia bertakbir
Potongan syair yg mengiringi tarian Pepe-pepeka ri Makka di atas juga diyakini sebagai sumber kekuatan para penari. Terminologi kekuatan pun merujuk pada aspek historis yg melingkupi tarian ini. Konon, ritme-ritme estetik dari gerak hingga syair yg dilantunkan adalah upaya mengilustrasikan kisah Nabi Ibrahim AS, yg atas kehendak Allah, dapat berdamai dengan api, tak terlahap sama sekali.
Penelitian Pesan Dakwah dalam Tari Pepe-pepeka ri Makka pada Masyarakat Kampung Paropo, Kota Makassar mengulas aspek historis hingga simbolik tarian ini dengan menemui informan yg kredibel juga menelusuri banyak literatur.
Penelitian ini menarasikan rekanan gerak estetik Pepe-pepeka ri Makka & agama mayoritas yg dianut masyarakat Sulawesi Selatan dengan membaca keseluruhan atribut yg dipakai oleh penari & narasi historis yg membangunnya.
Hasilnya, gerak tubuh para penari Pepe-pepeka ri Makka berelasi dengan upaya pengungkapan perasaan, maksud, & pikiran orang-orang Makassar terdahulu yg kompak & bersemangat dalam memperjuangkan kedaulatan bersama & dalam upaya menyebarkan agama islam. Tarian Pepe-pepeka ri Makka cukup berbeda dengan tarian-tarian pada umumnya. Tarian ini pada dasarnya tidak memiliki pola gerakan & pola lantai yg paten atau baku dalam setiap penampilannya. Pola teratur yg ditampilkan cuma ditemukan di awal ketika muncul perdana kali lalu berputar-putar sambil bersenandung indah dalam bahasa Makassar.
Metamorfosa tarian Pepe-pepeka ri Makka yg tadinya lebih banyak besingungan dengan ritual-ritual sakral misalnya dalammaudu lompoa(Maulid Nabi Muhammad S.A.W) juga dapat dimaknai sebagai ruang alternatif kreatifitas masyarakat untuk terus menghidupkan bukti diri kultural mereka. Meski tarian ini adalah bagian dari pergolakan sejarah kebudayaan di Sulawesi Selatan, namun upayanya untuk terus eksis sudah mengonfirmasi narasi kekayaan bahasa keseniaan di Indonesia.
Hari ini 19:47