Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Cangkeman.net -Belakangan ini, saya agak tertarik membaca karya-karya ke-kuno-an buatan masyarakat Jawa masa lalu. Barangkali bagi yg newbie seperti saya, saat mengerjakannya akan terkejut. Tak jarang ditemukan berbagai konsep, tokoh dalam suatu cerita, & sebagainya yg tidak sesuai dengan aslinya. Pastinya, bagi seseorang yg berjiwa puritan akan membantah keras. Namun, saya pikir hal ini dapat saja di maklumi dalam sudut pandang multiverse.
Multiverse atau multisemesta dapat dikatakan suatu konsep yg memungkinkan adanya sekumpulan alam semesta, termasuk di mana kita tinggal, yg secara keseluruhan berbagai aspeknya tetap ada, misal: ruang, waktu, energi, & sebagainya. Konsep multiverse erat kaitannya dengan dunia alternatif.
Misal, di dunia ini kita mengenal Kolonel Sanders sebagai pencipta waralaba KFC. Namun di dunia alternatif belum tentu demikian. Seperti yg diandaikan Haruki Murakami. Penulis asal Jepang tersebut menciptakan sang kolonel sebagai gigolo dalam novelnya yg berjudul Dunia Kafka. Konsep multiverse juga dipakai oleh dunia Marvel & DC. Menariknya, dalam karya sastra Jawa, multiverse pun diterapkan hingga-hingga pembaca dapat saja mengalami kebingungan lantaran tidak sesuai dengan realita di dunia ini.
Contohnya dalam Kidung Sudamala dikisahkan sang bungsu Pandawa, yakni, Sadewa, mengerjakan aksi menyelamatkan Batari Durga yg sebelumnya berwujud serupa iblis perempuan, kembali jadi sosok dewi yg cantik. Sebuah kisah yg tidak dapat ditemukan dalam naskah Mahabharata asal India. Ternyata, kisah tersebut tidak hingga di situ saja. Kita akan menemukan sekuelnya dalam Lontar Sri Tanjung yg jadi landasan dari legenda asal-usul Banyuwangi. Dikisahkan, Sri Tanjung merupakan cucu dari Sadewa.
Masih agak berkaitan dengan contoh sebelumnya karena menyinggung Batari Durga. Terdapat suatu konsep sang shakti Batara Guru ini yg dapat dikatakan cukup ekstrim. Misalkan, masih dalam sumber yg sama, yakni, Kidung Sudamala, dikisahkan sang Dewi bermain serong dengan Dewa Brahma yg menciptakan Dewa Siwa murka. Dikutuklah sang Dewi jadi Durga Ra Nini. Sosok serupa iblis yg memimpin bala tentara setan bertempat tinggal di istana bernama Setra Gandamayu atau juga diketahui sebagai Setra Gandamayit. Tidak cuma dalam karya sastra, ini juga ditemukan dalam bentuk relief di Candi Sukuh & Candi Tegowangi.
Masih dengan sosok yg sama, dalam kitab Tantu Panggelaran, dikisahkan Dewi Uma, bentuk lain dari Durga, murka dengan Kartikeya atau Kumara, lantaran tersinggung dengan ucapan sang anak kandung. Kumara berkata bahwa sang dewi tidak lebih dari saluran. Di robek tubuh Kumara, diminum darahnya, & dihisap sumsum anaknya oleh sang Dewi. Melihat insiden ini, Sang Rajadewa jadi jijik. Dikutuklah Dewi Uma jadi Durga Ra Nini.
Dalam Kakimpoi Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa, yg hidup pada masa kerajaan Kahuripan, Diceritakan bahwa Arjuna bertapa di gunung Mahameru. Para dewa mengujinya, hingga pada akhirnya, Arjuna diberi tugas untuk melawan Niwatakawaca, sosok raksasa yg memporak-porandakan suralaya atau kayangan. Setelah mengalami kemenangan, Arjuna mendapatkan kesempatan untuk tinggal di kayangan selama beberapa waktu & menikahi tujuh bidadari. Sebuah kisah yg tidak dapat kita temukan dalam naskah Mahabharata versi India.
Contoh terakhir, terdapat sebuah legenda berasal dari gunung Nglanggeran, Yogyakarta, yg ada kaitannya dengan sosok Ongkowijoyo. Tokoh ini merupakan sebutan lain dari Angkawijaya, alias Abimanyu, anak dari Arjuna, merupakan bagian dari Pandawa. Masyarakat setempat juga meyakini bahwa Ongkowijoyo & para punakawan tinggal di sekitar gunung tersebut. Terdapat suatu larangan keras untuk tidak boleh mementaskan lakon berisi kekalahan yg dialami Ongkowijoyo. Kalau menebak, dapat jadi lakon yg dimaksud adalah saat Abimanyu dikepung lalu mengantarkannya pada kematian. Sengaja atau tidak sengaja mengerjakannya, diwajibkan rajapati: menumbalkan manusia.
Mungkin pembaca lain juga akan menemukan berbagai dunia alternatif dalam naskah-naskah sastra antik buatan pujangga Jawa. Pertanyaannya, mengapa terdapat berbagai konsep atau kisah yg beragam namun dengan aspek yg sama, seperti yg sudah saya contohkan dalam berbagai paragraf sebelumnya. Misalkan, baik India maupun Jawa, mengenal tokoh-tokoh tersebut, namun terdapat kisah yg berbeda yg cuma ditemukan dalam karya sastra Jawa Kuno.
Pertama, dugaan termudah adalah penyebaran kisah-kisah tersebut tidak berjalan dengan baik pada awalnya. Sehingga, masyarakat pada masa itu cuma mendapatkan sepotong dari suatu kisah, kemudian mereka mengimajinasikan kelanjutan dari kisah tersebut. Apalagi ditambah dengan adanya fakta bahwa pendidikan pada masa itu bukan sebagai kewajiban seperti saat ini. Jika ada yg harap sekolah, yg pada masa itu berupa kadewaguruan & karesyan, mereka harus mencarinya sendiri kalau yg bersangkutan bukanlah dari kalangan istana. Tentu saja jumlah penduduk terbanyak bukanlah dari kalangan tersebut. Padahal, instansi pendidikan merupakan suatu badan yg sangat sanggup untuk menyamakan suatu konsep.
Dugaan kedua, terlepas mereka menjalankan atau tidak fase brahmacari, atau masa menuntut ilmu, terdapat kemungkinan adanya unsur kesengajaan. Bahasa mudahnya adalah menggubah. Apalagi ditambah dengan adanya Kitab Wertasancaya karangan Mpu Tan Akung yg hidup pada masa kerajaan Kediri. Kitab ini memuat nasihat & tata cara dalam menciptakan syair yg baik. Jadi, dengan ilmu yg berasal dari Kitab Wertasancaya, masyarakat Jawa Kuno menggubah berbagai cerita.
Masih berkaitan dengan dugaan sebelumnya, ada kemungkinan suatu karya merupakan pesanan dari kalangan sosial atas. Misalkan, Kakimpoi Arjunawiwaha merupakan permintaan dari Raja Airlangga kepada Mpu Kanwa untuk menciptakan suatu kisah yg mencerminkan keberhasilannya dalam peperangan yg terjadi pada masa tersebut.
Faktor lainnya adalah untuk memperkuat suatu aturan tertentu, seperti dalam legenda gunung Nglanggeran. Sejauh ini, saya tidak tahu siapa sosok yg sebenarnya yg dipersonifikasikan sebagai Ongkowijoyo. Dugaan saya, barangkali yg bersangkutan merupakan seorang pemimpin suatu wilayah, atau paling tidak pemimpin punggawa prajurit. Kemungkinan dia mengalami kekalahan telak & tidak harap masyarakat setempat mengingat hal itu. Maka, dibuatlah aturan dengan asa mematikan ingatan masyarakat tentang kejadian tersebut.
Terdapat dugaan lain yg menurut saya tak kalah menarik. Berbagai kisah dianggap sudah tidak sesuai dengan kondisi zaman. Misalkan, dalam Mahabharata, kita mengenal adanya sosok Drupadi yg bersuami lima, yakni, Pandawa. Konsep poliandri jelas tidak masuk dalam masa Islam. Hal inilah yg kemudian kisah Mahabharata di-islamisasi. Sehingga yg terjadi adalah, Drupadi cuma memiliki satu suami, yaitu, si sulung Pandawa; Yudhistira. Tujuannya tentu saja untuk menyebarkan pengaruh.
Dugaan terakhir, berbagai pujangga yg hidup pada masa Jawa Kuno menggubah berbagai cerita & disesuaikan dengan kondisi zaman sebagai bentuk kritik kepada penguasa. Pada saat yg sama, masyarakat, utamanya yg berasal dari kalangan bawah, tidak mau sepenuhnya untuk meninggalkan ajaran lama. Dengan kekuatan sinkretisme, akulturasi, mereka mengerjakan peleburan di setiap sudut, salah satunya yg terjadi dalam karya sastra. Sangat jelas bentuk perlawanannya adalah tidak memberikan kesetiaan suatu ajaran yg berasal dari luar, misalkan, dari sumber India, seperti ajaran Hindu & Budha. Adapun berbagai karya sastra yg terkenal adalah: Tantu Panggelaran, Pararaton, Serat Calonarang, Kidung Sudamala, & sebagainya. Jenis perlawanan ini pada masa mendatang pun juga terjadi, seperti saat periode Islam & masuknya agama Kristen. Kita mengenal salah satu produk mereka sebagai aliran Islam Kejawen, Kristen Kejawen, & seterusnya.
Terlepas apapun alasan yg sebenarnya, akibat yg terjadi adalah lahirnya berbagai kisah & suatu konsep yg tidak ditemukan dalam suatu kisah atau bahkan hingga ajaran murni. Hal inilah kemudian terlahir banyak semesta meski berbagai aspeknya yg digubah lantaran suatu faktor atau kepentingan tertentu namun tetap dapat ditemukan pada yg asli.
Tulisan ini ditulis oleh Angga Prasetyo di Cangkeman pada tanggal 5 Juli 2022 Hari ini 11:43