• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

penuaan super dini

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. byakuya
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

byakuya

IndoForum Activist C
No. Urut
46894
Sejak
25 Jun 2008
Pesan
14.460
Nilai reaksi
288
Poin
83
2wVI0MiqGw.jpg-pvdc11a99b41f71643

Hidup Ita Susilawati (19), sontak berubah dalam dua tahun terakhir ini. Penyakit aneh yang diderita membuat fisiknya tak beda dengan perempuan berusia 70 tahun.

Seluruh kulit warga Dusun IX Desa Sido Keno, kecamatan Pulau Bandring, Kabupaten Asahan, ini mengeriput. Kantung matanya jatuh dan di perut muncul benjolan sebesar kepalan tangan.

“Kami sudah mengobatkanya ke mana-mana, tapi tidak ada hasil,” ujar ibunya, Ramlia (44), sambil menangis. Ita yang ditinggal pergi begitu saja oleh suami, Hendra Effendi (33), asal Binjai, kini benar-benar menjadi nenek-nenek.

Puteri Ramlia dan Durrahman (50), ini tak mampu berbuat banyak. Seluruh aktivitasnya terhenti total disebabkan oleh penyakit aneh. Tangan dan kedua kakinya kaku tak bisa digerakkan, padahal dulu semasa sehatnya, perempuan ini dikenal lincah dan pintar mencari uang, untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarganya. Ramlia mengaku, untuk mengobatkan Ita, segala macam usaha telah mereka tempuh.

Mulai dari penanganan medis hingga pengobatan alternatif. Namun, hasilnya tetap sia-sia. “Sudah lima puluh dukun (paranormal) yang kami datangi untuk mengobatkannya, tapi nggak berhasil,” kata dia. Penyakit aneh yang menimpa perempuan yang dulu bertubuh sintal dan cantik ini hingga kini tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Berbagai macam, hipotesis dilontarkan oleh paranormal dan dokter. Ramlia mengungkapkan, penyakit Ita divonis oleh tim medis Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Pirngadi Medan karena disebabkan alergi lingkungan. Penuaan dini yang terjadi dengan proses cepat menimpa anak kedua dari tiga bersaudara ini terjadi di pertengahan 2007 silam, atau enam bulan setelah pernikahannya dengan Hendra Effendi.

Ita membeberkan, diawali dengan gejala bintik-bintik merah di sekujur tubuh disertai rasa panas. Pada leher belakang dan paha kedua kakinya terdapat bekas telapak tangan manusia. Seminggu kemudian gejala ini diirigi pula dengan mulai melepuhnya kulit tubuhnya di sejumlah titik, terutama daerah sekitar dada dan perut. Bahkan, kini timbul benjolan di perutnya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Ita menyebutkan, penuaan dini ini terjadi tiga bulan setelah suaminya, Hendra pergi merantau meninggalkannya, di saat pernikahan mereka memasuki usia tiga bulan.

“Sampai sekarang dia tak pernah pulang menjenguk saya,” katanya. Menurut Ramlia, selain di RSU Dr Pirngadi Medan, awalnya Ita di rawat di RSU Kartini Kisaran. Namun, karena enam bulan dirawat tak jua sembuh, dia pun di rujuk ke Pirngadi. Hasilnya tetap sama, tak ada solusi yang ditawarkan tim medis untuk mengobati penyakit anehnya ini

Saya Sering Dipanggil Nenek

Kesedihan semakin mendalam dialami perempuan ini. Ita mengaku tak dapat menahan rasa sedih, apalagi setiap ada tamu yang datang ke rumah kelurganya. Sedih bercampur dengan perasaan lainnya, membuat airmatanya tak terbendung lagi. Lebih sedihnya, ungkap dia, sering orang menyangka dia sudah berusia lanjut. ”Saya sering dipanggil nenek. Sedih kali rasanya,” kata perempuan kelahiran 1991 itu. Boleh percaya atau tidak, tapi serangan penyakit aneh ini menyisakan cerita di luar akal manusia.

Ita mengaku, derita yang dideritanya selama dua tahun ini diawali dari mimpi yang berkepanjangan. Dia mengaku, setiap malam terus menerus mimpi dikejar tiga ekor ular kobra hingga akhirnya mimpi ini pun terwujud di alam nyata. Satu hari sebelum dia diserang gejala awal penyakit aneh itu, tiga ekor ular masuk ke rumah orang tuanya, yang akhirnya mati dibunuh saudaranya.

Besoknya, kaki dan tangannya mulai sakit dan kaku. Ita yang dulu berdagang pakaian di kampungnya kini hanya dapat pasrah.Tak ada yang bisa dilakukannya kini, selain menangis. Kulitnya pun makin hari makin mengeriput tanpa sebab yang diketahui secara pasti.


update
Ita Susilawati yang mengalami penuaan dini telah berpulang, Minggu 28 Februari siang. Kemarin, menjelang dimakamkan,wajahnya berubah total seperti sebelum dia menderita penyakit misterius ini.

Guratan kecantikan semasa hidup terlihat jelas saat jenazah perempuan yang tutup usia pada umur 19 tahun ini dimandikan.Wajahnya yang dulu menua dengan alis dan kelopak mata turun hingga ke pipi, terlihat kembali seperti sedia kala. Yang lebih mengherankan, wajahnya tampak kembali muda. Lekuk-lekuk wajahnya yang sempat rusak kembali normal hampir sempurna. Kejadian ini sempat menjadi perhatian ratusan pelayat.

“Kami sempat terkejut. wajahnya kembali sempurna.Bahkan, kelopak matanya yang jatuh hampir tidak terlihat lagi,” ungkap Halimah (38), aktivis Kajian Informasi Perempuan Asahan (KIPAS) Asahan, yang ikut melaksanakan fardu kipayah almarhumah.

Suasana duka juga terasa kuat ketika jenazah perempuan malang ini disemayamkan di rumah orangtuanya di Dusun IX,Kampung Sido Keno, Desa Suka Damai Barat, Asahan, hingga dimakamkan. Ayah dan ibunya, Durrahman, 50, dan Ramlia (44), bahkan menangis di sisi jenazah. Ramlia yang terlihat sangat terpukul sempat meraung saat jenazah putri satu-satunya itu diberangkatkan ke Masjid Nurul Iman, tak jauh dari rumahnya untuk disalatkan.

“Ita jangan tinggalkan Mamak,” ujarnya. Bagi Ramlia, kepergian Ita menghadap Sang Khalik membawa duka dan kenangan yang sangat dalam. Dari tiga anaknya, semasa hidup, Ita bukan saja anak perempuan satu-satunya, juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Ita dikenal perempuan cekatan untuk mencari uang membantu kebutuhan keluarga. Segala macam usaha dijalankan demi membantu orangtua. Bahkan terakhir, walau dalam kondisi sakit, Ita masih tetap berusaha mencari nafkah. Di rumahnya, dengan kondisi fisiknya yang mendadak tua renta seperti nenek- nenek berusia 70-an tahun itu, dia tetap berusaha dengan membuka rental PlayStation.

Ramlia menuturkan, semasa hidup, Ita tidak pernah bersikap manja meskipun sebagai anak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Di mata Durrahman maupun Ramlia, Ita merupakan anak perempuan yang tangguh.

“Saya memang berbakat jadi pedagang, karena itu saya tak mau sekolah lagi, hanya sampai kelas 6 SD, itu pun tidak tamat,” ujar almarhumah dalam satu wawancara kepada harian Seputar Indonesia (SI) semasa hidupnya beberapa waktu lalu. Derita perempuan kelahiran 1991 semasa hidup menaruh simpati warga.

Sejak menderita penyakit misterius,dia tak pernah didampingi suaminya, Hendra Effendy, yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya.

Maka itu, ratusan warga memenuhi rumah duka untuk melepas jenazah ke peristirahatan terakhir, termasuk sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan dan anggota DPRD Asahan. Wakil Ketua DPRD Asahan Dahrun Hutagaol turut menyampaikan rasa berduka atas berpulangnya Ita.

“Saya kemari untuk menyampaikan ungkapan belasungkawa dan rasa keprihatinan terhadap nasib yang menimpa almarhumah,” ungkapnya. Memang politikus dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini tak sempat menyampaikan ucapan belasungkawa secara resmi dalam acara prosesi pemakaman karena datang terlambat.

Dahron tiba di rumah duka sesaat menjelang prosesi pemakaman selesai dilaksanakan. Hal serupa disampaikan Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Kecamatan Pulau Bandring Ali Mughofar, yang datang mewakili Pemkab Asahan. Seperti diberitakan, Ita meninggal tanpa diketahui penyakit yang mendera dan mengubah jalan hidupnya selama dua tahun terakhir. Selama delapan hari, dia menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Abdul Manan Simatupang. Serangkaian pemeriksaan pun dilakukan tim dokter yang berasal dari berbagai bidang kesehatan.

Dokter ahli paru menyimpulkan diagnosis sementara bahwa Ita mengalami radang paru (pneumonia). Dokter ahli kandungan menilai menopause prekoks (menopause dini) dan dokter ahli bedah menyatakan menderita hernia. Sementara itu, ahli kulit dan kelamin menilai Ita mengalami pruritus (gatal pada kulit) serta divonis mengalami kelainan hormon oleh dokter ahli penyakit dalam.

Keluarga Minta Kasus Hukum Tetap Dilanjutkan

Sepeninggal Ita, keluarganya tetap mendorong agar kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya, Hendra Effendy, tetap dituntaskan. Keluarga telah memberikan kuasa kepada LBH Medan (Pos Asahan-Tanjungbalai). Saat ini, kuasa hukum tengah mempelajari apakah sepeninggal Ita, kasus itu masih bisa diproses atau tidak. Koordinator LBH Medan (Pos Asahan-Tanjungbalai) Imam Syahtria menyatakan, somasi terhadap Ita memang belum sempat dikirim, masih dalam proses.

Keterlambatan pengiriman somasi karena pihaknya tersita dalam mengurusi pelayanan medis bagi Ita dan memelopori kegiatan Gerakan Seribu Cinta Untuk Ita (Gebu Cinta untuk Ita) bersama PWI Reformasi Asahan dan KIPAS.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.