Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Hasil uji coba salah satu vaksin virus Corona yg diberikan kepada relawan berjalan dengan baik.
Data ini jadi pijakan bagi peneliti untuk terus mengembangkan vaksin covid-19
Diperkirakan kalau segala sesuatunya berjalan dengan baik vaksin virus Corona dapat tersedia mulai Januari 2021.
Dilansir CNN, vaksin tersebut merupakan buatan perusahaan biotek, Moderna, yg bermitra dengan National Institutes of Health.
Kepala petugas medis Moderna, Dr. Tal Zaks, mengatakan, kalau studi di masa depan berjalan dengan baik, vaksin akan dapat tersedia untuk biasa pada awal Januari 2021.
"Ini benar-benar berita baik & kami pikir banyak yg sudah menunggu kabar ini selama beberapa waktu," ujar Zaks.
Data awal ini berasal dari uji klinis Tahap 1.
Tahap ini mempelajari sejumlah kecil peserta & berfokus pada apakah vaksin itu kondusif & memunculkan respons kekebalan.
Meskipun begitu, hasil penelitian belum ditinjau atau dipublikasikan oleh jurnal medis.
Diketahui, Moderna yg berbasis di Cambridge, Massachusetts, adalah satu dari delapan pengembang vaksin di dunia yg mengerjakan uji klinis pada manusia dengan vaksin Covid-19.
Dua pengembang lainnya adalah Pfizer & Inovio, yg juga berlokasi di Amerika Serikat.
Satu pengembang berada di Universitas Oxford, Inggris, & empat lainnya di China.
Moderna sudah memvaksinasi lusinan peserta penelitian & mengukur antibodi pada delapan peserta.
Kedelapan peserta menunjukkan antibodi penetral kepada virus pada tingkat yg dapat mencapai atau melebihi orang yg secara alami pulih dari Covid-19.
Antibodi penetral mengikat virus, & melumpuhkannya untuk tidak menyerang sel manusia.
"Kami sudah menunjukkan bahwa antibodi ini, respons kekebalan ini, sebenarnya dapat memblokir virus," mengatakan Zaks.
"Saya pikir, ini adalah langkah perdana yg sangat penting dalam perjalanan kami menuju vaksin," imbuhnya.
Pemerintah Sebut New Normal Bukan Pelonggaran PSBB, Kegamangan Tenaga Medis, Pesimis Akhir Pandemi
Perawat Status PDP Meninggal dalam Kondisi Hamil dr Tirta: Bendera Setengah Tiang Khofifah: Pahlawan
Sementara itu, spesialis vaksin yg tidak terlibat dalam pengembangan yg dilakukan Moderna, mengakui kinerja yg luar biasa dari perusahaan tersebut.
"Ini menunjukkan bahwa antibodi tidak cuma berikatan dengan virus, tetapi juga mencegah virus menginfeksi sel," ucap Dr. Paul Offit, anggota NIH yg menetapkan kerangka kerja untuk studi vaksin di AS.
Kapan Pengembangan Vaksin Selesai?
Sementara vaksin memiliki hasil yg menjanjikan di lab, tidak diketahui apakah vaksin tersebut akan berhasil di dunia nyata.
Perusahaan akan melanjutkan uji coba pada Tahap 2, yg biasanya melibatkan beberapa ratus orang.
Moderna berencana untuk memulai uji klinis skala besar, yakni uji coba Tahap 3 pada Juli mendatang.
Uji coba ini biasanya melibatkan puluhan ribu peserta.
Offit mengatakan, pengembang vaksin biasanya akan menguji produk mereka pada ribuan orang sebelum memulai Tahap 3.
Namun, Moderna dianggap masih jauh dari tahap itu.
Sebab, mereka baru memvaksinasi lusinan peserta hingga saat ini.
Meskipun begitu, Offit mengungkapkan, sangat mungkin bagi Moderna untuk masuk ke Tahap 3 tanpa memvaksinasi banyak orang, mengingat Covid-19 membunuh ribuan orang setiap hari.
"Ini waktu yg berbeda," ujarnya.
Studi Moderna
Dalam studi Moderna, tiga peserta mengalami demam & gejala mirip flu lainnya ketika mereka menerima vaksin dengan takaran 250 mikrogram.
Nantinya, pada Tahap 2, takaran akan diberi antara 25 & 100 mikrogram.
Sejauh ini, subjek penelitian Moderna yg divaksinasi pada takaran 23 & 100 mikrogram mencapai tingkat antibodi yg serupa, atau bahkan lebih tinggi daripada orang yg secara alami terinfeksi virus corona.
China Akhirnya Akui Hancurkan Sampel Virus Corona di Awal Wabah, tetapi Bukan Seperti Tudingan Amerika
Bacaan Niat Zakat Fitrah untuk Keluarga, Orang Lain, & Diri Sendiri, Lengkap Bahasa Arab & Artinya
Namun, tidak jelas apakah infeksi alami memberikan kekebalan dari terinfeksi ulang.
Begitu pula dengan vaksinasi.
"Itu pertanyaan yg bagus, & kenyataannya, kita belum tahu itu," mengatakan Zaks.
"Kita harus mengerjakan uji efikasi formal, di mana banyak orang divaksin & akan dipantau selama berbulan-bulan untuk memastikan mereka tidak sakit," jelasnya.
Hari ini 07:35