Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
tanggal 28 agustus saya pergi ke Malang untuk menjemput isrti & anak saya. di Malang saya tinggal di rumah kakak ipar saya. di rumah itu kakak ipar saya & salah satu anaknya (keponakan saya) kebetulan sedang sakit. kakak ipar saya sakit demam lemas & muntah-muntah. kemudian keponakan saya demam tidak enak badan & kehilangan indra perasa & pembau.
siang hari, ibu mertua saya datang. kondisi sehat & masih sempat bantu-bantu pekerjaan rumah. malam harinya kakak ipar saya & anaknya yg sakit ini pergi periksa ke dokter. hasilnya mreka berdua didiagnosa mengalami asam lambung, versi dokter itu. & di malam itu juga ibu mertua saya ikut sakit, lemas, demam, & tidak mau makan. alhamdulillah anggota keluarga yg lain tidak tertular.
esoknya 29 agustus kondisi ibu mertua & kakak ipar saya makin memburuk. hilang nafsu makan, lemas, panas & cuma berbaring saja. ponakan saya meski merasa tidak enak badan & kehilangan indra perasa & pembau, tetapi masih merasa fit, masih kuat pergi keluar rumah. tanggal 30 agustus saya berangkat pulang kembali ke madura bersama anak & istri mengpakai bis.
selama perjalanan pulang & pergi kami sekeluarga sudah mematuhi protokol kesehatan yg direkomendasikan pemerintah, apa lagi karena saya khawatir sama anak saya yg masih usia 2tahun. masker, jaket, hand sanitizer, desinfektan spray sudah kami pakai. termasuk minum jamu herbal supaya imun terjaga.
hari senin tanggal 1 september saya kembali masuk kantor seperti biasa. di kantor tiba-tiba saya terserang flu, bersin-bersin & hidung saya pilek. akhirnya saya cuma masuk setengah hari & pulang duluan untuk istirahat, di rumah saya minum obat flu & tidur. & dapat kabar dari malang bahwa kakak ipar saya akhirnya dirawat di RS, dengan diagnosa yg sama, asam lambung. kabar ibu mertua saya pun masih sakit terbaring di rumah.
hari selasa alhamdulillah saya sembuh, sehat kembali seperti biasa & masuk kantor. tetapi tiba-tiba hari rabu pagi saya terbangun degan kondisi badan yg sakit semua, pegal-pegal seluruh badan, persendian seperti engsel karat, ditambah sakit kepala & pusing. saya putuskan tidak masuk kantor hari itu. malamnya setelah isya', sakit saya bertambah demam, badan panas tinggi hingga-hingga saya menggigil merasakan suhu lingkungan sekitar saya. indra perasa & pembau saya juga hilang. mulai malam itu saya tidur di kamar terpisah. obat flu, jamu herbal flu, suplemen vitamin pegal-pegal, jahe hangat, lemon hangat, antibiotik saya konsumsi semua hingga hari sabtu tanggal 5 september tidak ada perubahan kondisi dengan tubuh saya.
makan pun saya paksakan telan karena makan cuma serasa minum air putih, sudah pasti kehilangan nafsu makan. Saya tambahkan roti & susu, saya juga cobamenu-menu lain yg mungkin enak di lidah. Alhamdulillah rasa gado-gado & soto ayam sedkit membantu. Tak lupa saya juga mengikuti tips berjemur tiap pagi.
dapat kabar dari malang, kakak ipar saya sudah pulang dari RS & sembuh. & hingga hari sabtu ini juga kondisi ibu mertua saya tidak kunjung membaik, akhirnya ibu dirujuk ke RS. di RS ibu saya di rawat di ruang isolasi. lalu keponakan saya, masih tidak dapat merasakan apapun di lidahnya & tidak dapat membau. karena tidak ada keluhan yg berarti, keponakan saya tidak memeriksakannya ke dokter, padahal dia setiap hari jaga ibunya selama di RS. Kakak ipar saya sekeluarga diperintah untuk isolasi berdikari di rumahnya, termasuk kakak ipar saya yg lain yg mengantar ibu mertua ke rumah sakit.
hari pekan tangal 6 september kondisi badan saya mulai membaik, pegal-pegal & demam mulai hilang, indera perasa sedikit mulai kembali. Tapi malah batuk-batuk. Pikiran saya langsung buruk, ini covid. Saya bersikukuh untuk isolasi berdikari di rumah karena saya tidak harap stress kalau saya dirawat di RS.
Hingga hari Rabu tanggal 9 september kondisi badan saya terasa lebih baik, lebih nyaman walau batuk-batuk masih mengganggu. Akhirnya sore hari saya pergi ke dokter biasa untuk periksa. Paru-paru saya di Xray, dokternya bilang memang ada Pneumonia tetapi dia tidak berhak memvonis karena bukan spesialis paru. Kemudian diperintahkan untuk ke dokter spesialis paru untuk hasil yg lebih valid.
Kamis pagi tanggal 10 september, innalillahiwainnailaihi rojiun. Ibu mertua meninggal. Istri saya langsung stress. Kondisi suami tidak baik-baik saja, ibu meninggal, & tidak dapat berkumpul bersama keluarga disana. selama di RS kondisi ibu mertua saya memang memburuk, tidak ada tanda kondisi membaik. Ibu mertua saya langsung ditangangi oleh pihak RS & dikebumikan dengan protocol covid. Pagi hari itu saya langsung bergegas berangkat sendiri menuju rumah sakit untuk periksa ke dokter paru. Tidak mungkin saya mengajak istri saya dengan keadaan sedang berduka seperti itu.
Doker memperbolehkan saya untuk isolasi berdikari di rumah. Saya tidak di-rapid atau pun di-swab karena dokter bilang 80-90% dapat dipastikan positif covid. Paru-paru saya memang menunjukkan pneumonia bilateral tetapi masih sedikit. Dan di oximeter menunjukkan nilai saya 99, oksigen dalam darah saya masih bagus. Masih termasuk pasien dengan gejala ringan. saya konsumsi 5 macam obat resep dari dokter paru hingga 6 hari ke depan & kembali control kondisi paru-paru saya, mudah-mudahan membaik, amin.
11 September, dua hari setelah saya konsumsi obat dari dokter paru ini, saya merasa sedikit lebih baik, frekuensi batuk juga berkurang. Namun tidak untuk batuk pagi hari sebangun tidur, masih batuk-batuk hingga mau muntah, memang proses mengeluarkan dahak & riak. Hingga hari ini saya mengamankan diri di dalam kamar, keluar kamar untuk makan, mandi, toilet & berjemur. Dan memaikai masker setiap kali saya keluar kamar.
mudah-mudahan dapat sembuh, amin. Hari ini 11:36
siang hari, ibu mertua saya datang. kondisi sehat & masih sempat bantu-bantu pekerjaan rumah. malam harinya kakak ipar saya & anaknya yg sakit ini pergi periksa ke dokter. hasilnya mreka berdua didiagnosa mengalami asam lambung, versi dokter itu. & di malam itu juga ibu mertua saya ikut sakit, lemas, demam, & tidak mau makan. alhamdulillah anggota keluarga yg lain tidak tertular.
esoknya 29 agustus kondisi ibu mertua & kakak ipar saya makin memburuk. hilang nafsu makan, lemas, panas & cuma berbaring saja. ponakan saya meski merasa tidak enak badan & kehilangan indra perasa & pembau, tetapi masih merasa fit, masih kuat pergi keluar rumah. tanggal 30 agustus saya berangkat pulang kembali ke madura bersama anak & istri mengpakai bis.
selama perjalanan pulang & pergi kami sekeluarga sudah mematuhi protokol kesehatan yg direkomendasikan pemerintah, apa lagi karena saya khawatir sama anak saya yg masih usia 2tahun. masker, jaket, hand sanitizer, desinfektan spray sudah kami pakai. termasuk minum jamu herbal supaya imun terjaga.
hari senin tanggal 1 september saya kembali masuk kantor seperti biasa. di kantor tiba-tiba saya terserang flu, bersin-bersin & hidung saya pilek. akhirnya saya cuma masuk setengah hari & pulang duluan untuk istirahat, di rumah saya minum obat flu & tidur. & dapat kabar dari malang bahwa kakak ipar saya akhirnya dirawat di RS, dengan diagnosa yg sama, asam lambung. kabar ibu mertua saya pun masih sakit terbaring di rumah.
hari selasa alhamdulillah saya sembuh, sehat kembali seperti biasa & masuk kantor. tetapi tiba-tiba hari rabu pagi saya terbangun degan kondisi badan yg sakit semua, pegal-pegal seluruh badan, persendian seperti engsel karat, ditambah sakit kepala & pusing. saya putuskan tidak masuk kantor hari itu. malamnya setelah isya', sakit saya bertambah demam, badan panas tinggi hingga-hingga saya menggigil merasakan suhu lingkungan sekitar saya. indra perasa & pembau saya juga hilang. mulai malam itu saya tidur di kamar terpisah. obat flu, jamu herbal flu, suplemen vitamin pegal-pegal, jahe hangat, lemon hangat, antibiotik saya konsumsi semua hingga hari sabtu tanggal 5 september tidak ada perubahan kondisi dengan tubuh saya.
makan pun saya paksakan telan karena makan cuma serasa minum air putih, sudah pasti kehilangan nafsu makan. Saya tambahkan roti & susu, saya juga cobamenu-menu lain yg mungkin enak di lidah. Alhamdulillah rasa gado-gado & soto ayam sedkit membantu. Tak lupa saya juga mengikuti tips berjemur tiap pagi.
dapat kabar dari malang, kakak ipar saya sudah pulang dari RS & sembuh. & hingga hari sabtu ini juga kondisi ibu mertua saya tidak kunjung membaik, akhirnya ibu dirujuk ke RS. di RS ibu saya di rawat di ruang isolasi. lalu keponakan saya, masih tidak dapat merasakan apapun di lidahnya & tidak dapat membau. karena tidak ada keluhan yg berarti, keponakan saya tidak memeriksakannya ke dokter, padahal dia setiap hari jaga ibunya selama di RS. Kakak ipar saya sekeluarga diperintah untuk isolasi berdikari di rumahnya, termasuk kakak ipar saya yg lain yg mengantar ibu mertua ke rumah sakit.
hari pekan tangal 6 september kondisi badan saya mulai membaik, pegal-pegal & demam mulai hilang, indera perasa sedikit mulai kembali. Tapi malah batuk-batuk. Pikiran saya langsung buruk, ini covid. Saya bersikukuh untuk isolasi berdikari di rumah karena saya tidak harap stress kalau saya dirawat di RS.
Hingga hari Rabu tanggal 9 september kondisi badan saya terasa lebih baik, lebih nyaman walau batuk-batuk masih mengganggu. Akhirnya sore hari saya pergi ke dokter biasa untuk periksa. Paru-paru saya di Xray, dokternya bilang memang ada Pneumonia tetapi dia tidak berhak memvonis karena bukan spesialis paru. Kemudian diperintahkan untuk ke dokter spesialis paru untuk hasil yg lebih valid.
Kamis pagi tanggal 10 september, innalillahiwainnailaihi rojiun. Ibu mertua meninggal. Istri saya langsung stress. Kondisi suami tidak baik-baik saja, ibu meninggal, & tidak dapat berkumpul bersama keluarga disana. selama di RS kondisi ibu mertua saya memang memburuk, tidak ada tanda kondisi membaik. Ibu mertua saya langsung ditangangi oleh pihak RS & dikebumikan dengan protocol covid. Pagi hari itu saya langsung bergegas berangkat sendiri menuju rumah sakit untuk periksa ke dokter paru. Tidak mungkin saya mengajak istri saya dengan keadaan sedang berduka seperti itu.
Doker memperbolehkan saya untuk isolasi berdikari di rumah. Saya tidak di-rapid atau pun di-swab karena dokter bilang 80-90% dapat dipastikan positif covid. Paru-paru saya memang menunjukkan pneumonia bilateral tetapi masih sedikit. Dan di oximeter menunjukkan nilai saya 99, oksigen dalam darah saya masih bagus. Masih termasuk pasien dengan gejala ringan. saya konsumsi 5 macam obat resep dari dokter paru hingga 6 hari ke depan & kembali control kondisi paru-paru saya, mudah-mudahan membaik, amin.
11 September, dua hari setelah saya konsumsi obat dari dokter paru ini, saya merasa sedikit lebih baik, frekuensi batuk juga berkurang. Namun tidak untuk batuk pagi hari sebangun tidur, masih batuk-batuk hingga mau muntah, memang proses mengeluarkan dahak & riak. Hingga hari ini saya mengamankan diri di dalam kamar, keluar kamar untuk makan, mandi, toilet & berjemur. Dan memaikai masker setiap kali saya keluar kamar.
mudah-mudahan dapat sembuh, amin. Hari ini 11:36