• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom



Tulisan ini merupakan sebentuk pengalaman pribadi. Apa tujuan saya menuliskannya disini? Saya cuma harap berbagi cerita tentang sebuah keadaan yg pernah saya hadapi, & mungkin pernah atau sedang dihadapi oleh beberapa kecil para pembaca, terlepas ada tidaknya hikmah atau pelajaran yg dapat diambil dari cerita tersebut. Saya tidak bermaksud untuk menyudutkan atau menghina siapapun atau pihak manapun. Lokasi & nama tokoh yg terdapat dalam cerita akan disamarkan.

**************************************************

Apa itu Toxic Workplace?

Menurut artikel yg saya baca, Toxic Workplace atau tempat kerja toxic adalah suatu kondisi di dalam sebuah tempat kerja dimana budaya perusahaan, rekan kerja, keadaan kerja, atau kombinasi dari ketiga hal tersebut menciptakan seseorang merasa terganggu sehingga berpengaruh kepada kondisi kesehatan mental.

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Mengapa tempat saya bekerja mencari nafkah saya sebut sebagai tempat kerja toxic? Saya memiliki banyak alasan. Beberapa diantaranya adalah, Bapak & Ibu Bos cenderung akan meremehkan kondisi hidup para karyawannya sendiri. Bapak & Ibu Bos cenderung memiliki sikap untuk mengadu domba para karyawannya sendiri. Bapak & Ibu Bos cenderung akan mengerjakan tuduhan pencurian kepada para karyawannya sendiri. Para karyawan akan saling mengadukan perilaku karyawan lainnya pada Bapak & Ibu Bos. Dan para karyawan akan cenderung saling menjatuhkan, karyawan senior dapat dipastikan akan menjatuhkan karyawan junior bagaimanapun caranya.

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Sedikit cerita tentang bagaimana saya dapat bekerja di tempat tersebut. Bulan Maret 2008 lalu, saya pernah melamar pekerjaan disebuah tempat les bahasa dengan posisi sebagai asisten guru les bahasa Inggris. Lamaran saya saat itu dinyatakan ditolak, namun saya justru direkomendasikan untuk bekerja sebagai private English tutor bagi sepasang anak kembar perempuan yg berumur 7 tahun yg merupakan anak dari pemilik salah satu toko mebel di Bandung. Saat itu saya langsung diterima, bahkan saya dijadikan sebagai "karyawan magang" di toko mebel tersebut. Dari jam 8-4 sore saya bekerja di toko mebel, & dari jam 5-8 malam, saya bekerja sebagai private English tutor.

Satu tahun kemudian, saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari toko mebel tersebut dengan alasan bahwa saya akan menikah lagi & calon suami mewajibkan saya untuk ikut dengannya ke Kalimantan. Pada kenyataannya, saat itu saya sedang mengerjakan proses untuk jadi seorang TKW dengan tujuan negara Taiwan. Jadi, yg jadi alasan paling utama saya mengundurkan adalah, gaji yg saya terima saat itu cuma sebesar satu juta rupiah untuk dua pekerjaan yg berbeda, dengan 12 jam kerja. Bukannya tidak mensyukuri bentuk rejeki yg saya terima, tetapi dengan kondisi hidup saat itu dimana saya seorang single parent & anak saya masih berumur dua tahun, mendapatkan gaji yg cuma sebesar satu juta rupiah pastinya tidak akan dapat memenuhi semua kebutuhan.

Sembilan tahun kemudian & sekembalinya dari Taiwan, Almarhumah Ibu memberitahu bahwa Bapak & Ibu Bos sempat dua kali datang ke rumah. Secara garis besar, mereka mengharapkan saya untuk kembali bekerja di toko mebel setelah mereka tahu bahwa alasan saya mengundurkan diri dari sana ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Pada akhirnya, sejak awal bulan April 2019, saya kembali bekerja disana tanpa perlu bekerja sebagai private English tutor bagi sepasang anak kembar mereka.

Untuk satu bulan pertama, para karyawan toko mebel & hal-hal yg ada di dalamnya masih terlihat & terasa manis. Selanjutnya, para karyawan akan menunjukkan keasliannya, & hal-hal yg ada di dalamnya akan memberikan rasa yg sesungguhnya. Selama sembilan bulan bekerja di toko mebel tersebut, banyak hal-hal kecil maupun besar, hal-hal terbilang penting maupun sepele, yg tentu saja terjadi hingga menciptakan saya berkata, "Okay, I've had enough!". Dan saya akan menceritakan beberapa diantaranya di bawah ini.

**************************************************

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Saat itu sudah masuk bulan Ramadhan, & siang itu di toko di lantai satu cuma ada saya, Reni, supir, & kenek. Saat itu kami sedikit nyantai karena memang tidak ada pekerjaan spesifik yg harus dilakukan, lagipula Bapak & Ibu Bos sedang berada di Jakarta untuk mengurus proses kuliah ketiga anak perempuan mereka ke Jerman.

Adalah hal yg tidak dapat dipungkiri bahwa ketika kita sedang menjalankan puasa, rasa kantuk & lapar akan datang menghampiri khususnya dikala siang hari. Begitupun dengan saya yg saat itu jadi satu-satunya karyawan yg menjalankan puasa. Saya masih dapat menahan lapar, tetapi saya tidak dapat menahan kantuk, hingga secara perlahan saya kemudian tertidur. Saya sempat terlelap untuk beberapa saat, namun saya langsung terbangun ketika mendengar suara yg cukup keras yg sepertinya memang disengaja untuk membangunkan saya.

Menjelang malam, Bapak Bos menghubungi saya melalui Whatsapp & bertanya tentang hal-hal yg terjadi di toko. Lalu Bapak Bos berkata,

Quote:
"Mar.. Saya nerima laporan kalo anda tidur. Perilaku anda seperti itu tuh dapat merugikan perusahaan lho!"​


Mendengar hal tersebut saya langsung menjawab,

Quote:
"Maaf, Pak. Mary ketiduran, bukan sengaja tidur. Tapi kalo sekiranya menurut Bapak, perilaku Mary dapat merugikan Bapak, hari ini Mary ngundurin diri aja".​


Bapak Bos kembali berkata,

Quote:
"Gpp, Mar. Kalo anda mau tidur mah di lantai dua aja. Kamu pura-pura bilang ke yg lain kalo anda mau nyapu. Kamu tidur 5-10 menit cukup kali ya".​


Saat itu saya cuma mengiyakan, tetapi apakah saya menuruti apa yg Bapak Bos sarankan? Tentu saja tidak. Sejak saat itu saya justru berusaha supaya saya tidak tertidur lagi dengan mengerjakan pekerjaan yg dapat saya lakukan, menyapu lantai misalnya. Karena apa yg Bapak Bos katakan diakhir pembicaraan, saya tidak menganggapnya sebagai sebuah bentuk toleransi kepada umat yg sedang berpuasa, atau sebuah bentuk kebaikan yg berasal dari dalam dirinya. Tapi saya justru menganggapnya sebagai umpan supaya saya dapat masuk perangkapnya, yg cepat atau lambat akan dibuang kalau memang sudah tidak diperlukan.

Bapak Bos seringkali mengatakan bahwa dia merasa sanggup untuk mendapatkan belasan bahkan puluhan karyawan untuk bekerja di tokonya. Saya berpikir, kalau saya memang dianggap sudah merugikan, maka saya tidak keberatan untuk dikeluarkan saat itu juga. Toh Bapak Bos merasa sanggup untuk dapat mendapatkan karyawan sebanyak yg Bapak Bos butuhkan. Tapi pada kenyataannya, saya tetap dipertahankan walaupun saya tidak tahu apa alasannya. Terlepas dikeluarkan atau tidak, yg jadi pemikiran saya hingga saat ini justru adalah karyawan yg sudah mengambil foto saya ketika sedang tertidur & melaporkannya pada Bapak Bos.

Jika saya jadi dia, saya tidak akan mengerjakan hal seperti yg dia lakukan, tetapi saya justru akan membangunkan dia, melarangnya untuk tidur pada jam kerja, & memberinya peringatan untuk tidak mengerjakannya lagi. Dan kalau dia mengerjakannya lagi, maka barulah saya akan melaporkannya pada Bapak Bos. Bentuk pengakuan yg dia lakukan pastinya bertujuan untuk "cari muka" kepada Bapak Bos, & dia memang memiliki hak untuk mengerjakannya. Hanya saja, saya sangat menyayangkan sikapnya.

**************************************************

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Di toko mebel tempat saya bekerja, seorang konsumen yg sudah membeli barang disana dapat mengerjakan pembayaran dengan cara tunai, mengpakai kartu kredit, atau dengan transfer melalui no rekening pribadi milik Bapak Bos. Dan setiap pemasukan yg akan dicatat, Bapak Bos pasti akan memberikan perintah kepada salah satu karyawannya untuk memprint out buku tabungan miliknya.

Pada suatu hari, saya mendapatkan tugas untuk mengerjakan hal tersebut. Saya tidak keberatan karena bunk yg dituju lokasinya dapat ditempuh cuma dengan berjalan kaki selama 10 menit. Setelah mengantri, saya mendapatkan giliran untuk berhadapan dengan seorang CSO, & saya menjelaskan bahwa saya harap memprint out buku tabungan untuk urusan pembukuan. CSO tersebut menolak untuk mengerjakannya, karena buku tabungan tersebut bukan milik saya. Dan sebagai persyaratan, saya harus membawa surat kuasa dari pemilik buku tabungan tersebut.

Mendengar aturan yg dijelaskan, saya langsung menghubungi Bapak Bos & menceritakan apa yg terjadi. Mendengar cerita yg menurutnya dianggap tidak enak, Bapak Bos meminta saya untuk mengalihkan pembicaraan dengan CSO tersebut & menyuruh saya untuk mengambil fotonya. Dari jarak sekitar 50-60 cm, saya dapat mendengar Bapak Bos memaki-maki CSO tersebut karena suaranya begitu lantang. Setelah mereka selesai mengerjakan pembicaraan & dengan perasaan yg sangat tidak enak, saya meminta ijin untuk mengambil foto CSO tersebut.

Bagaimana saya dapat merasa enak kalau CSO yg sedang saya hadapi, yg sedang berada dalam kondisi hamil, dimaki-maki oleh Bapak Bos yg menolak untuk mematuhi aturan yg sudah ditetapkan oleh pihak bunk? Bapak Bos mungkin berpikir, karena Bapak Bos merupakan seorang nasabah anggota platinum, maka dia akan menerima perlakuan istimewa termasuk dapat menolak untuk mematuhi segala aturan yg sudah ditetapkan oleh pihak bunk. Saat itu saya yg justru merasa dilema & kebingungan, disatu sisi saya harus mematuhi aturan dari pihak bunk. Namun di sisi lain, saya harus mematuhi perintah yg Bapak Bos berikan.

Beberapa hari kemudian, Bapak Bos kedatangan seorang tamu yg merupakan salah satu petinggi bunk yg pernah saya datangi beberapa hari sebelumnya. Dan Bapak Bos sempat meminta foto CSO yg pernah saya ambil untuk memperlihatkannya pada petinggi bunk tersebut. Saya tidak tahu bentuk pengakuan apa yg dibicarakan oleh Bapak Bos, & saya juga tidak tahu apa yg terjadi pada CSO itu. Hanya saja saya berpikir, apakah sulit untuk mematuhi aturan yg sudah ditetapkan oleh pihak bunk, tempat dimana Bapak Bos tidak memiliki kekuasaan disana? Namun saat itu, yg saya dapat lakukan cuma berdoa semoga tidak ada hal buruk yg terjadi pada CSO itu.

**************************************************

Pengalaman Bekerja di Tempat Toxic #RabuRandom

Disuatu siang hari, saat itu di toko cuma ada saya & Reni, sedangkan karyawan yg lain sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dari luar arah sebelah kanan, muncul seorang pria yg berumur sekitar 60-65 tahun. Yang saya ingat, Bapak itu memakai baju koko berwarna putih, memakai peci takiyah berwarna krem, & membawa tas selempang kecil berwarna hitam. Namun, saya tidak ingat dengan warna celana & model sepatu yg dipakainya.

Begitu Bapak itu masuk, saya langsung menyambutnya, memberikan sapaan, & dia juga langsung melihat perabotan yg berada dibagian depan. Sambil duduk disebuah sofa, Bapak itu menanyakan harga lemari pajang setinggi tiga meter & sepanjang empat meter. Reni memberikan harga sekitar 22 juta. Lalu Bapak itu berjalan mendekati posisi lemari pajang itu berada sambil mengatakan bahwa dia akan menyimpan baju-bajunya di lemari pajang tersebut. Reni sempat memberikan sanggahan bahwa lemari pajang tersebut akan lebih bagus kalau disimpan barang-barang hiasan. Dengan ketus & bernada tinggi, Bapak tersebut kemudian memberikan jawaban,

Quote:
"Terserah saya dong mau nyimpen apa!"​


Mendengarnya berbicara seperti itu, saya & Reni langsung terdiam. Bapak itu kemudian bertanya tentang pengiriman ke Medan & sistem pembayaran dengan mengpakai cicilan. Kedua pertanyaan tersebut dijelaskan oleh Reni secara panjang lebar. Setelahnya dalam hitungan detik, Bapak tersebut keluar dari toko tanpa berpamitan atau mengucapkan terimakasih, & berdiri di halaman toko seperti sedang menunggu sesuatu. Tidak lama kemudian, sebuah mobil berjenis Nissan Xtrail berwarna putih muncul dari arah kanan menuju ke arah halaman toko sebelah kiri. Pengemudinya yg berpakaian rapi, keluar dari mobil & menghampiri Bapak itu. Mereka berdua kemudian menyeberang jalan & berjalan hingga menghilang dari pandangan.

Hari akan menjelang sore, tetapi mobil yg diparkir di halaman toko masih tetap dalam posisinya, tanda si pemilik mobil belum muncul & memindahkannya. Diduga sudah melihat dari CCTV, Ibu Bos sudah mulai menghubungi Reni untuk menanyakan tentang mobil yg diparkir di halaman toko. Mendengar penjelasan dari Reni, Ibu Bos turun & mulai memerintahkan para karyawannya termasuk saya, untuk mencari si pemilik mobil, serta memintanya untuk segera memindahkannya.

Jam 7 malam, si pemilik mobil masih belum muncul. Sudah waktunya saya untuk pulang ke rumah, tetapi mengingat saya yakin tidak akan diijinkan karena masalah belum selesai, saya memutuskan untuk mencari si pemilik mobil ke arah kiri. Ketika saya sudah berjalan sejauh 10-20 meter dari toko, saya melihat Bapak itu sedang berada disebuah warung makan. Saya mulai berjalan menghampirinya & mengatakan,

Quote:
"Pak, maaf. Itu mobilnya dapat tolong dipindahkan? Soalnya ada barang mau datang, lagipula tokonya udah mau tutup".​


Seingat saya, saya berbicara dengan sangat sopan, dengan nada yg rendah & halus, serta dengan iringan senyum manis yg saya miliki. Bahkan posisi badan pun saya bungkukkan. Namun, Bapak itu justru memberikan jawaban,

Quote:
"Monyet kamu!"​


Dari situ pertengkaran mulai terjadi, orang-orang disekelilingnya yg kebanyakan adalah para pedagang warung makan & para driver online pasti mendengar, & memutuskan untuk melihat hal yg terjadi. Pertengkaran yg berlangsung sekitar 10 menit tersebut dihentikan oleh seorang driver online, saya juga berhenti memberikan argumen & melangkahkan kaki untuk segera pergi dari warung makan tersebut.

Saya menilai, pertengkaran tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi. Tapi apakah saya perlu diam, menunduk, lalu menangis & meninggalkan warung makan itu ketika Bapak itu menyebut saya dengan mengatakan yg cenderung kasar tanpa alasan yg jelas? Tentu saja saya tidak akan tinggal diam. Lalu apa alasannya? Seingat saya, ketika saya memintanya untuk memindahkan mobil, saya mengpakai gaya bicara dengan bentuk kesopanan kepada orang yg umurnya jauh lebih tua dari saya. Dan ketika di toko pun, saya & Reni merasa tidak memberikan sikap yg kurang baik kepada Bapak itu. Tentu saja, karena prinsip "Pembeli adalah Raja" masih berlaku di toko kami.

Iya.. Pertengkaran itu tidak perlu terjadi kalau Bapak itu menjawab,

Quote:
"Iya, Neng. Sebentar ya. Yang punya mobil lagi sholat dulu. Kalo udah, saya akan suruh kesana".​


Bukankah jawaban seperti itu akan lebih menyejukkan hati? Orang-orang yg menonton pertengkaran yg terjadi pastinya akan berpikir macam-macam. Sebagian akan berpikir tentang masalah apa yg saya miliki dengan Bapak itu, & beberapa akan berpikir mengapa saya bersikap tidak sopan kepada orang yg lebih tua. Jika salah satu penonton pertengkaran memberikan pertanyaan & saya memiliki kesempatan untuk memberikan jawaban, saya akan menjelaskan secara detail duduk perkaranya seperti apa. Agar mereka dapat menilai hal yg sudah terjadi dari berbagai sisi.

Sekitar 10-15 menit kemudian, pada akhirnya si pemilik mobil muncul untuk mengambil mobilnya. Dia sempat menganggukkan kepala ketika saya sedang berdiri di depan toko, & dia sempat mengatakan pada saya,

Quote:
"Encie, makasih ya. Maaf udah ngerepotin".​


Saya membalasnya dengan senyuman manis alakadarnya, karena hati saya masih merasa kesal. Keesokan harinya, Bapak Bos bertanya pada saya tentang apa yg terjadi & saya menceritakan kronologinya seperti apa, karena tadi malam Bapak Bos sedang tidak ada di tempat. Bapak Bos tidak mengatakan apapun, bahkan mengatakan "maaf" atas kejadian buruk yg sudah saya alami, atau mengatakan "terimakasih" atas bentuk pembelaan yg saya lakukan demi tempat saya bekerja. Karena mengingat ketika pertengkaran itu terjadi, tidak ada satupun dari para karyawan toko laki-laki yg berani menghadapi Bapak itu, atau membela saya ketika bertengkar dengannya.

Mengapa pertengkaran itu dapat terjadi? Bapak itu bersikeras bahwa si pemilik mobil memiliki hak untuk memarkirkan mobilnya dimanapun karena menurutnya, saat itu si pemilik mobil memarkirkan mobilnya di tempat biasa yg dikelola oleh pemerintah. Sedangkan menurut pembelaan Bapak Bos, teman Bapak itu sudah memarkir mobil dimana jalan yg sering dilewati oleh para pejalan kaki & lokasinya tepat berada di depan toko tersebut diakui sudah dibeli oleh Bapak Bos. Dan Bapak Bos mengaku memiliki surat-surat sebagai bukti atas pembelian lahan tersebut. Jika persoalan tersebut dibawa ke meja hijau, keduanya akan bersikeras mengungkapkan haknya.

Yang jadi pertanyaan, apakah surat-surat bukti pembelian lahan itu ada, atau justru tidak ada? Jika ada, berarti saya membela yg benar. Jika ternyata tidak ada, berarti saya sudah dibohongi & membela yg salah. Namun, terlepas ada tidaknya keberadaan surat-surat bukti pembelian lahan tersebut, menurut saya si pemilik mobil tetap mengerjakan hal yg tidak semestinya dia dilakukan. Karena mobil yg dia miliki cenderung menghalangi tempat usaha orang lain & bentuk kegiatan yg ada di dalam tempat usaha tersebut.


bersambung ke #2...


**************************************************

Sekian, & terimakasih.
Thread merupakan tulisan pengalaman pribadi.

*
*
*
*
*
Hari ini 08:13
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.