• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Penelitian: Anak Bukan Parameter Kepuasan

yan raditya

IndoForum Addict E
No. Urut
163658
Sejak
31 Jan 2012
Pesan
24.461
Nilai reaksi
72
Poin
48
Banyak pasangan yang menikah hanya untuk alasan mendapatkan keturunan. Hal ini pun secara sadar kita lakukan untuk memenuhi tuntutan lingkungan sosial yang telah membentuk kita dengan rasa kekurangan jika tidak memiliki keturunan.

Tapi coba kita tanyakan, sebenarnya apa yang mereka cari? Kebahagiaan atau sebuah makna kehidupan yang lebih dalam?

Menurut survei yang dilakukan pemerintah Inggris untuk mengukur kebahagiaan seseorang, mereka mengaitkan kebahagiaan dengan keturunan. Hasil tersebut mencatatkan bahwa memiliki

anak memang dapat meningkatkan rasa pengertian, terlebih dalam kehidupan bermasyarakat. Anak juga membuat para orang tua lebih dapat bertahan hidup karena psikologis yang lebih baik.

Tetapi, penelitian ini juga menunjukkan bahwa pasangan-pasangan yang sudah memiliki buah hati, tidak lantas kehidupannya menjadi bahagia atau membuat mereka merasakan kepuasan dalam kehidupan.

"Meskipun kehadiran anak tidak mengubah kepuasan hidup secara
keseluruhan, tetapi mampu meningkatkan makna dan tujuan dalam
kehidupan masyarakat," seperti tertera pada laporan The Measuring
National Well-Being Programme di Inggris yang dikutip Daily Mail.

Survei ini dilakukan dengan memberikan empat pertanyaan kepada 80 ribu responden. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan mencakup, seberapa puas kehidupan mereka dan bagaimana kehidupan ini membuat mereka merasa bahagia.

Para responden juga diminta untuk memberikan jawaban tentang parameter yang membuat mereka merasa bahagia. Demikian juga dengan seberapa besar kecemasan mereka terhadap kehidupan yang dijalani.
Para responden diminta memberikan jawaban dengan skala perhitungan

dari satu hingga sepuluh. Hasilnya, pasangan yang telah memiliki keturunan menilai kepuasan dan kebahagiaan mereka tidak berbeda dari penilaian dari pasangan lain yang tidak memiliki anak.

Survei ini juga mengatakan bahwa pasangan menikah jauh lebih bahagia dibandingkan pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Sedangkan, nilai kebahagiaan terendah dimiliki orang-orang yang mengalami perceraian.
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.