yan raditya
IndoForum Addict E
- No. Urut
- 163658
- Sejak
- 31 Jan 2012
- Pesan
- 24.461
- Nilai reaksi
- 72
- Poin
- 48
Autisme atau dikenal sebagai spektrum gangguan perkembangan yang mempengaruhi komunikasi dan keterampilan anak masih menjadi momok misterius di dunia medis. Jumlahnya bahkan kian melesat dalam lima tahun terakhir.
Lewat sebuah studi terhadap ribuan anak, Universitas Cambridge menemukan sesuatu yang kontroversial. Saat ini, satu dari 60 anak di Inggris memiliki beberapa kondisi autisme.
Dikutip dari Telegraph, di AS, satu dari 88 anak juga terdeteksi mengalami gejala autisme. Angka prevalensi ini membuat pemerintah setempat meresponsnya sebagai "situasi gawat". Tak pelak, Presiden Obama bahkan menetapkan kebijakan bernilai jutaan dolar untuk mencari penyebab dan pengobatan bagi autisme.
Temuan ini semakin kuat membuktikan bahwa kasus autisme makin signifikan dalam 40 tahun terakhir. Pada 1980-an, hanya empat dari 10 ribu anak yang menunjukkan tanda-tanda autisme.
Kenaikan kasus autisme berarti semakin banyak anak yang membutuhkan perawatan secara khusus seumur hidup mereka. Tak hanya mempengaruhi anak, autisme juga mempengaruhi keluarga dan negara. Di Inggris, gangguan ini merugikan negara setidaknya senilai £28 miliar setahun.
Namun sayangnya, banyak kondisi autisme yang belum terdeteksi. Ini mempengaruhi perencanaan, diagnostik dan pelayanan sosial dan kesehatan anak-anak autis.
Faktor penyebab
Kampanye anti-vaksin sebelumnya mengklaim adanya hubungan autisme dengan vaksin MMR yang diberikan kepada anak usia 12-15 bulan. Namun, ini dibantah dengan argumen faktor lingkungan seperti paparan bahan kimia dan testosteron dalam rahim lah yang meningkatkan risiko autisme.
Sebuah studi terhadap 1,3 juta anak menemukan sebuah fakta menarik yang banyak berhubungan dengan kehidupan modern. Faktor usia orang tua yang semakin tua saat memutuskan memiliki anak ternyata juga mempengaruhi risiko autisme.
Studi menemukan bila salah satu orangtua berusia 35-39 tahun, risiko memiliki anak autis adalah sebesar 27 persen, terlepas dari apakah ayah atau ibu mereka yang berusia lebih tua. Risiko autisme lebih besar terjadi pada ibu berumur 35-40 tahun, yakni sebesar 65 persen, dibandingkan ayah sebesar 44 persen.
Deteksi dini
Lebih dini dideteksi, autisme bisa lebih cepat ditangani. American Academy of Pediatrics menyarankan agar melakukan pemeriksaan gejala autisme pada anak sejak usia 12 bulan dengan tes sederhana selama lima menit.
Teknik Rapid Attention Back and Forth Communication Test, atau disebut dengan Rapid ABC dapat menunjukkan keterlibatan dan komunikasi anak lewat kegiatan-kegiatan sederhana.
Gerakan berulang, kurangnya kontak mata, bisa dijadikan deteksi awal untuk segera melakukan tes lanjutan yang lebih komprehensif. Diagnosis lebih cepat dan pengobatan pada anak autis berdampak potensial untuk mengobati gangguan tersebut.
Sekadar mengingatkan, hari ini, 2 April 2012, adalah Hari Peduli Autisme Sedunia.
Lewat sebuah studi terhadap ribuan anak, Universitas Cambridge menemukan sesuatu yang kontroversial. Saat ini, satu dari 60 anak di Inggris memiliki beberapa kondisi autisme.
Dikutip dari Telegraph, di AS, satu dari 88 anak juga terdeteksi mengalami gejala autisme. Angka prevalensi ini membuat pemerintah setempat meresponsnya sebagai "situasi gawat". Tak pelak, Presiden Obama bahkan menetapkan kebijakan bernilai jutaan dolar untuk mencari penyebab dan pengobatan bagi autisme.
Temuan ini semakin kuat membuktikan bahwa kasus autisme makin signifikan dalam 40 tahun terakhir. Pada 1980-an, hanya empat dari 10 ribu anak yang menunjukkan tanda-tanda autisme.
Kenaikan kasus autisme berarti semakin banyak anak yang membutuhkan perawatan secara khusus seumur hidup mereka. Tak hanya mempengaruhi anak, autisme juga mempengaruhi keluarga dan negara. Di Inggris, gangguan ini merugikan negara setidaknya senilai £28 miliar setahun.
Namun sayangnya, banyak kondisi autisme yang belum terdeteksi. Ini mempengaruhi perencanaan, diagnostik dan pelayanan sosial dan kesehatan anak-anak autis.
Faktor penyebab
Kampanye anti-vaksin sebelumnya mengklaim adanya hubungan autisme dengan vaksin MMR yang diberikan kepada anak usia 12-15 bulan. Namun, ini dibantah dengan argumen faktor lingkungan seperti paparan bahan kimia dan testosteron dalam rahim lah yang meningkatkan risiko autisme.
Sebuah studi terhadap 1,3 juta anak menemukan sebuah fakta menarik yang banyak berhubungan dengan kehidupan modern. Faktor usia orang tua yang semakin tua saat memutuskan memiliki anak ternyata juga mempengaruhi risiko autisme.
Studi menemukan bila salah satu orangtua berusia 35-39 tahun, risiko memiliki anak autis adalah sebesar 27 persen, terlepas dari apakah ayah atau ibu mereka yang berusia lebih tua. Risiko autisme lebih besar terjadi pada ibu berumur 35-40 tahun, yakni sebesar 65 persen, dibandingkan ayah sebesar 44 persen.
Deteksi dini
Lebih dini dideteksi, autisme bisa lebih cepat ditangani. American Academy of Pediatrics menyarankan agar melakukan pemeriksaan gejala autisme pada anak sejak usia 12 bulan dengan tes sederhana selama lima menit.
Teknik Rapid Attention Back and Forth Communication Test, atau disebut dengan Rapid ABC dapat menunjukkan keterlibatan dan komunikasi anak lewat kegiatan-kegiatan sederhana.
Gerakan berulang, kurangnya kontak mata, bisa dijadikan deteksi awal untuk segera melakukan tes lanjutan yang lebih komprehensif. Diagnosis lebih cepat dan pengobatan pada anak autis berdampak potensial untuk mengobati gangguan tersebut.
Sekadar mengingatkan, hari ini, 2 April 2012, adalah Hari Peduli Autisme Sedunia.