Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Suatu petang di sebuah workshop suatu pabrik. Kirno dengan tekun menulis laporan pekerjaan hari itu. Tugasnya sebagai teknisi perawatan, buruh kontrak yg sudah mengabdi 10 tahun. Pabrik itu industri strategis milik negara. Berlokasi di te
pi sungai akbar kota di Sumatera. Setiap tahun dia teken kontrak baru. Kadang ada kenaikan upah. Pernah dua tahun tak pernah ada kenaikan. Kirno pekerja yg terampil. Dia tamat sekolah teknik atau setara SMP. Setelah itu sempat kerja di kontraktor pembangunan jalan. Lalu jadi teknisi pabrik gula. Di sanalah tragedi bermula. Iming-iming perbaikan kesejahteraan menciptakan Kirno manggut2 setuju diajak bergabung Serikat Buruh - Toh 80% pegawai perkebunan & pabrik juga anggota Serikat Buruh. Kirno pemuda lugu. Begitu juga beberapa akbar rekan-rekannya. Serikat buruh itu onderbouw PKI.
Tak lama PKI berupaya kudeta, merebut kekuasaan melalui penculikan & pembunuhan jenderal Angkatan Darat. Dengan gesit, Mayjen Soeharto didukung Kostrad & RPKAD mematahkan upaya kudeta. Dukungan rakyat & mahasiswa anti PKI muncul. Kaum agamawan & berbagai elemen bangsa. PKI ditumpas, dibubarkan. Elit-elitnya diburu. Anggota PKI ditangkap. Termasuk simpatisan..Kirno dianggap simpatisan. Setelah ditahan 3 bulan, dia dilepas dengan tetap wajib lapor rutin. KTP nya distempel eks tapol.
Hidup Kirno mendadak buram. Padahal dia baru menikah. Hilang pekerjaan. Kirno menggelandang di pasar. Di pelabuhan. Kuli angkut. Serabutan. Sampai suatu ketika dia kenal dengan awak kapal dagang. Dia memanggilnya Oom Acong. Suatu malam, Kirno menolong dorong mobilnya yg mogok di pelabuhan. Tak cuma itu, Kirno dengan peralatan sederhana sanggup memperbaiki kerusakan. Oom Acong terkesan. Kirno ditawari jadi teknisi kamar mesin. Kirno ragu. Ditunjukkannya KTP nya. Oom Acong sebagai orang no 2 setelah nahkoda kapal cuma menjawab "saya akan omong dengan kapten. Masalahmu sepertinya gampang dibereskan."
Demikianlah hikayat Kirno. Masalahnya kelar. Kemungkinan karena ada oli pelumas. Toh kesalahannya teramat ringan. Namun dia tetap wajib lapor bulanan ke instansi yg mengurus orang seperti dirinya. Kirno merasa fak terbebani, dengan rute kotanya ke Jakarta, Medan, Singapore, Johor, Sarawak & sesekali Hongkong. Toh setidaknya sebulan sekali kapalnya berlabuh di kotanya. Kirno tetap dapat berjumpa dengan istrinya, barang 2-3 malam.
5 tahun Kirno loyal dengan pekerjaannya. Namun dia belum juga dikaruniai anak. Sampai suatu ketika, kapalnya ditahan karena ketahuan menyelundupkan barang-barang seperti perhiasan, tekstil & barang elektronik. Kirno kembali jadi pengangguran. Betapa girang hatinya, ketika tetangganya menawarkan jadi teknisi di pabrik milik negara di kotanya. Tentu berstatus kontrak. Kirno tahu diri. Sulit baginya bekerja tetap dengan stempel keterlibatannya dalam organisasi buruh onderbouw PKI. Tak lama; istrinya hamil & melahirkan putra. Tole. Di tahun ke-7 pernikahannya. Anak yg dinantinya lahir. Saat itu akhir tahun 1977. Disusul Tari 2 tahun kemudian. Dan si bungsu Tomo 2 tahun setelah Tari.
Kirno punya impian akbar untuk anak-anaknya. Dia rela tak punya apa2 asal anak-anaknya sekolah. Bagi tetangga2nya, Kirno dianggap berlebihan. Dia masukkan anak-anaknya ke SD swasta terbaik di daerahnya. Tentu SPP nya berkali lipat dari SPP sekolah negeri.
Sore itu, Kirno di sela-sela laporan kerjanya mendengar para bos mengobrol. Ternyata soal anak-anak mereka. Yang usianya sepantaran Tole & di sekolah yg sama dengan Tole. Saat itu Tole kelas 5 SD. Mereka membanggakan anak masing-masing. Dengan hoby yg berkelas. Ada yg kursus piano. Ada yg klub bola. Ada yg kursus renang. Prestasi sekolah juga mentereng. Ranking 10 besar. Para bos itu tak segan merogoh kocek memanggil guru privat.
Kirno tersenyum dalam hati. Mengingat Tole anak sulungnya. Dibilang rajin juga ngga. Pintar dalam.pelajaran sepertinya sedang-sedang saja. Rangkingnya pertengahan kelas. Kirno paham, waktu Tole selain sekolah banyak dihabiskan di ladang. Memancing ikan. Setiap akhir pekan, sering ngintil emaknya, menolong katering, tempat emaknya kerja musiman. Jika ada hajatan & kewalahan, emaknya diminta membantu. Tole meski baru 11 tahun, cekatan dalam memotong sayur, mengaduk rendang dll.
Waktu berlalu. Tole lulus SD dengan NEM rata-rata 7, Kirno memutuskan Tole.lanjut di SMP swasta yg masih satu yayasan.
Prestasi Tole, tak berbeda dengan di SD. Bisa mengikuti pelajaran. Namun tak pernah 10 besar. Ajaib, Tole dapat lulus SMP dengan NEM rata-rata 7 & ... Tole masih dapat kursi di SMA swasta paling unggulan di kotanya. Tentu Kirno banting tulang mencari biaya untuk SPP. 2 adik Tole pun ikut jejak Tole di sekolah yg sama.
Apa alasan Kirno ngotot menyekolahkan Tole & adik2nya di sana? Bukan soal pelajaran & kurikulum. Itu sih sama saja. Ada alasan kualitas guru. Tapi itu juga beda tipis. Toh guru-guru sekolah negeri juga top kualitasnya. Jawabannya 3 kata: Value, Mindset & Etos.
12 tahun sejak SD hingga SMA - guru-gurunya menanamkan value, mindset & etos. Tak cuma dengan kata-kata, namun dengan teladan, perilaku & proses pembentukan karakter. Itu yg tak akan Tole dapatkan di sekolah milik negara.
Tole & adik-adiknya tak pernah minder. Selalu optimis. Berorientasi visi & menikmati proses. Betapapun beratnya.
Gimana dengan anak-anak para bos Kirno? Hanya bertahan di SMP. Fasilitas & kemanjaan membuai mereka. Lulus SMP nilainya tak sanggup menembus SMA negeri.unggulan & SMA swasta favorit.
Tak terasa, Tole lulus SMA. Impian Kirno tinggi. Tole lulus masuk universitas negeri terbaik di Indonesia. Tole memang mengincar ITB & UI. Sayang, dia gagal. Tole tak menyerah. Sembari bekerja di toko elektronik, dia tekun belajar. Tahun berikutnya, dia lulus. Masuk ITS Surabaya. Tole, anak muda yg nyaris tanpa prestasi akademik. Kali ini dia sudah mandilu. Kuliah di kota yg jauh dari rumahnya. Gesit mencari kerja sambilan. Value-Mindset-Etos. Membuatnya berjumpa banyak mahasiswa hebat. Kenal dengan tokoh-tokoh masyarakat. 5 tahun kemudian Tole lulus. Melihat banyak seniornya cuma bernasib sebagai supervisor pabrik-Tole teringat nasib Kirno sang ayah. Tole kemudian melamar magang di berbagai perusahaan. Sebuah BUMN rancang bangun menerimanya. 6 bulan magang. Tole diangkat pegawai. Namun tak lama. Tole berhasil lulus sebagai trainee perusahaan jasa pemboran minyak. Belajar & bekerja, mulai di dharapnya pantai utara Scotland. Teriknya.lapangan minyak di gurun Saudi. Sampai membeku di Shakalin Rusia di dekat perbatasan Korea Utara.
2.5 tahun kemudian Tole memutuskan lanjut study perminyakan di Stavenger, Norway. Saat itu momentum yg tepat, beasiswa berjibun. Belum lulus, Tole sudah dipinang Statoil Norway. Tole menikah & menikmati pekerjaannya sebagai analyst business di kota Trondheim, Norway. 4 tahun kemudian, Tole mendapat tawaran kembali.ke tanah air. Beberapa tahun kemudian, Tole terlihat sering wira wiri ngurusin energi negeri ini. Tepat di usia 41 tahun, dia dipinjam salah satu kementerian strategis jadi staf spesifik menteri sekaligus komisaris di salah satu anak usaha BUMN.
Tole, Tole ... manusia biasa yg merasa bersyukur & beruntung, memiliki ayah seperti Kirno yg visioner.
2017, Kirno yg sudah beberapa bulan sakit, merasa usianya tak lama. Tole menghabiskan hari senggangnya, bersama Kirno & ibunya. Adiknya yg VP corporate investment bunk asing di Jakarta. Suaminya juga direktur di bunk milik pemerintah. Keduanya berjumpa ketika studi S2 di rotterdam business school yg tersohor.
Ayah Tole berulang kali berucap syukur & puas atas hidupnya.
Tole merasa sudah maksimal membanggakan & membahagiakan ortunya.
Teringat tatapan mata bangga ayahnya, dibukakan pintu depan Honda CRV nya Tole yg masih beraroma dealer.
30 tahun dia jadi kuli strata terbawah. Tanpa reward tanpa masa depan. Dan dia panjatkan doa untuk masa depan anak-anaknya yg cemerlang. Allah.menjawab doa-doanya. Dengan lunas!
Kirno.menutup mata dengan ikhlas ....
Di masa pandemi ini, Tole merasa santuy, posisinya sebagai chief economist - menciptakannya leluasa WFH - sudah.1 bulan terakhir Tole menikmati semilir Nusa Dua & birunya selat Bali di villa Solong Banyuwangi.
Agan2 yg penasaran di mana SD-SMA Tole, ane kasih clue. Sekolahnya memiliki.afiliasi yg sama dengan Kanisius & Pangudi Luhur Jakarta, Loyola Semarang & De Britto Jogja.
Bedanya sekolah Tole berada di kota akbar Sumatra. Sudah pernah menghasilkan setidaknya 4.gubernur, belasan bupati/walikota, pimpinan perusahaan baik BUMN maupun swasta, ketua DPR, puluhan jenderal, banyak dokter pengacara akademisi pejabat ilmuwan profesional & ribuan pebisnis/pengusaha.
Sebagai clue, 3 menteri kabinet saat ini pernah merasakan di sekolah Tole.
Juga beberapa seniman top.
Paling absurd .... seorang figur bernama Felix Siauw lho koq juga lulus dari SMA yg sama dengan Tole.
Hari ini 18:40
pi sungai akbar kota di Sumatera. Setiap tahun dia teken kontrak baru. Kadang ada kenaikan upah. Pernah dua tahun tak pernah ada kenaikan. Kirno pekerja yg terampil. Dia tamat sekolah teknik atau setara SMP. Setelah itu sempat kerja di kontraktor pembangunan jalan. Lalu jadi teknisi pabrik gula. Di sanalah tragedi bermula. Iming-iming perbaikan kesejahteraan menciptakan Kirno manggut2 setuju diajak bergabung Serikat Buruh - Toh 80% pegawai perkebunan & pabrik juga anggota Serikat Buruh. Kirno pemuda lugu. Begitu juga beberapa akbar rekan-rekannya. Serikat buruh itu onderbouw PKI.
Tak lama PKI berupaya kudeta, merebut kekuasaan melalui penculikan & pembunuhan jenderal Angkatan Darat. Dengan gesit, Mayjen Soeharto didukung Kostrad & RPKAD mematahkan upaya kudeta. Dukungan rakyat & mahasiswa anti PKI muncul. Kaum agamawan & berbagai elemen bangsa. PKI ditumpas, dibubarkan. Elit-elitnya diburu. Anggota PKI ditangkap. Termasuk simpatisan..Kirno dianggap simpatisan. Setelah ditahan 3 bulan, dia dilepas dengan tetap wajib lapor rutin. KTP nya distempel eks tapol.
Hidup Kirno mendadak buram. Padahal dia baru menikah. Hilang pekerjaan. Kirno menggelandang di pasar. Di pelabuhan. Kuli angkut. Serabutan. Sampai suatu ketika dia kenal dengan awak kapal dagang. Dia memanggilnya Oom Acong. Suatu malam, Kirno menolong dorong mobilnya yg mogok di pelabuhan. Tak cuma itu, Kirno dengan peralatan sederhana sanggup memperbaiki kerusakan. Oom Acong terkesan. Kirno ditawari jadi teknisi kamar mesin. Kirno ragu. Ditunjukkannya KTP nya. Oom Acong sebagai orang no 2 setelah nahkoda kapal cuma menjawab "saya akan omong dengan kapten. Masalahmu sepertinya gampang dibereskan."
Demikianlah hikayat Kirno. Masalahnya kelar. Kemungkinan karena ada oli pelumas. Toh kesalahannya teramat ringan. Namun dia tetap wajib lapor bulanan ke instansi yg mengurus orang seperti dirinya. Kirno merasa fak terbebani, dengan rute kotanya ke Jakarta, Medan, Singapore, Johor, Sarawak & sesekali Hongkong. Toh setidaknya sebulan sekali kapalnya berlabuh di kotanya. Kirno tetap dapat berjumpa dengan istrinya, barang 2-3 malam.
5 tahun Kirno loyal dengan pekerjaannya. Namun dia belum juga dikaruniai anak. Sampai suatu ketika, kapalnya ditahan karena ketahuan menyelundupkan barang-barang seperti perhiasan, tekstil & barang elektronik. Kirno kembali jadi pengangguran. Betapa girang hatinya, ketika tetangganya menawarkan jadi teknisi di pabrik milik negara di kotanya. Tentu berstatus kontrak. Kirno tahu diri. Sulit baginya bekerja tetap dengan stempel keterlibatannya dalam organisasi buruh onderbouw PKI. Tak lama; istrinya hamil & melahirkan putra. Tole. Di tahun ke-7 pernikahannya. Anak yg dinantinya lahir. Saat itu akhir tahun 1977. Disusul Tari 2 tahun kemudian. Dan si bungsu Tomo 2 tahun setelah Tari.
Kirno punya impian akbar untuk anak-anaknya. Dia rela tak punya apa2 asal anak-anaknya sekolah. Bagi tetangga2nya, Kirno dianggap berlebihan. Dia masukkan anak-anaknya ke SD swasta terbaik di daerahnya. Tentu SPP nya berkali lipat dari SPP sekolah negeri.
Sore itu, Kirno di sela-sela laporan kerjanya mendengar para bos mengobrol. Ternyata soal anak-anak mereka. Yang usianya sepantaran Tole & di sekolah yg sama dengan Tole. Saat itu Tole kelas 5 SD. Mereka membanggakan anak masing-masing. Dengan hoby yg berkelas. Ada yg kursus piano. Ada yg klub bola. Ada yg kursus renang. Prestasi sekolah juga mentereng. Ranking 10 besar. Para bos itu tak segan merogoh kocek memanggil guru privat.
Kirno tersenyum dalam hati. Mengingat Tole anak sulungnya. Dibilang rajin juga ngga. Pintar dalam.pelajaran sepertinya sedang-sedang saja. Rangkingnya pertengahan kelas. Kirno paham, waktu Tole selain sekolah banyak dihabiskan di ladang. Memancing ikan. Setiap akhir pekan, sering ngintil emaknya, menolong katering, tempat emaknya kerja musiman. Jika ada hajatan & kewalahan, emaknya diminta membantu. Tole meski baru 11 tahun, cekatan dalam memotong sayur, mengaduk rendang dll.
Waktu berlalu. Tole lulus SD dengan NEM rata-rata 7, Kirno memutuskan Tole.lanjut di SMP swasta yg masih satu yayasan.
Prestasi Tole, tak berbeda dengan di SD. Bisa mengikuti pelajaran. Namun tak pernah 10 besar. Ajaib, Tole dapat lulus SMP dengan NEM rata-rata 7 & ... Tole masih dapat kursi di SMA swasta paling unggulan di kotanya. Tentu Kirno banting tulang mencari biaya untuk SPP. 2 adik Tole pun ikut jejak Tole di sekolah yg sama.
Apa alasan Kirno ngotot menyekolahkan Tole & adik2nya di sana? Bukan soal pelajaran & kurikulum. Itu sih sama saja. Ada alasan kualitas guru. Tapi itu juga beda tipis. Toh guru-guru sekolah negeri juga top kualitasnya. Jawabannya 3 kata: Value, Mindset & Etos.
12 tahun sejak SD hingga SMA - guru-gurunya menanamkan value, mindset & etos. Tak cuma dengan kata-kata, namun dengan teladan, perilaku & proses pembentukan karakter. Itu yg tak akan Tole dapatkan di sekolah milik negara.
Tole & adik-adiknya tak pernah minder. Selalu optimis. Berorientasi visi & menikmati proses. Betapapun beratnya.
Gimana dengan anak-anak para bos Kirno? Hanya bertahan di SMP. Fasilitas & kemanjaan membuai mereka. Lulus SMP nilainya tak sanggup menembus SMA negeri.unggulan & SMA swasta favorit.
Tak terasa, Tole lulus SMA. Impian Kirno tinggi. Tole lulus masuk universitas negeri terbaik di Indonesia. Tole memang mengincar ITB & UI. Sayang, dia gagal. Tole tak menyerah. Sembari bekerja di toko elektronik, dia tekun belajar. Tahun berikutnya, dia lulus. Masuk ITS Surabaya. Tole, anak muda yg nyaris tanpa prestasi akademik. Kali ini dia sudah mandilu. Kuliah di kota yg jauh dari rumahnya. Gesit mencari kerja sambilan. Value-Mindset-Etos. Membuatnya berjumpa banyak mahasiswa hebat. Kenal dengan tokoh-tokoh masyarakat. 5 tahun kemudian Tole lulus. Melihat banyak seniornya cuma bernasib sebagai supervisor pabrik-Tole teringat nasib Kirno sang ayah. Tole kemudian melamar magang di berbagai perusahaan. Sebuah BUMN rancang bangun menerimanya. 6 bulan magang. Tole diangkat pegawai. Namun tak lama. Tole berhasil lulus sebagai trainee perusahaan jasa pemboran minyak. Belajar & bekerja, mulai di dharapnya pantai utara Scotland. Teriknya.lapangan minyak di gurun Saudi. Sampai membeku di Shakalin Rusia di dekat perbatasan Korea Utara.
2.5 tahun kemudian Tole memutuskan lanjut study perminyakan di Stavenger, Norway. Saat itu momentum yg tepat, beasiswa berjibun. Belum lulus, Tole sudah dipinang Statoil Norway. Tole menikah & menikmati pekerjaannya sebagai analyst business di kota Trondheim, Norway. 4 tahun kemudian, Tole mendapat tawaran kembali.ke tanah air. Beberapa tahun kemudian, Tole terlihat sering wira wiri ngurusin energi negeri ini. Tepat di usia 41 tahun, dia dipinjam salah satu kementerian strategis jadi staf spesifik menteri sekaligus komisaris di salah satu anak usaha BUMN.
Tole, Tole ... manusia biasa yg merasa bersyukur & beruntung, memiliki ayah seperti Kirno yg visioner.
2017, Kirno yg sudah beberapa bulan sakit, merasa usianya tak lama. Tole menghabiskan hari senggangnya, bersama Kirno & ibunya. Adiknya yg VP corporate investment bunk asing di Jakarta. Suaminya juga direktur di bunk milik pemerintah. Keduanya berjumpa ketika studi S2 di rotterdam business school yg tersohor.
Ayah Tole berulang kali berucap syukur & puas atas hidupnya.
Tole merasa sudah maksimal membanggakan & membahagiakan ortunya.
Teringat tatapan mata bangga ayahnya, dibukakan pintu depan Honda CRV nya Tole yg masih beraroma dealer.
30 tahun dia jadi kuli strata terbawah. Tanpa reward tanpa masa depan. Dan dia panjatkan doa untuk masa depan anak-anaknya yg cemerlang. Allah.menjawab doa-doanya. Dengan lunas!
Kirno.menutup mata dengan ikhlas ....
Di masa pandemi ini, Tole merasa santuy, posisinya sebagai chief economist - menciptakannya leluasa WFH - sudah.1 bulan terakhir Tole menikmati semilir Nusa Dua & birunya selat Bali di villa Solong Banyuwangi.
Agan2 yg penasaran di mana SD-SMA Tole, ane kasih clue. Sekolahnya memiliki.afiliasi yg sama dengan Kanisius & Pangudi Luhur Jakarta, Loyola Semarang & De Britto Jogja.
Bedanya sekolah Tole berada di kota akbar Sumatra. Sudah pernah menghasilkan setidaknya 4.gubernur, belasan bupati/walikota, pimpinan perusahaan baik BUMN maupun swasta, ketua DPR, puluhan jenderal, banyak dokter pengacara akademisi pejabat ilmuwan profesional & ribuan pebisnis/pengusaha.
Sebagai clue, 3 menteri kabinet saat ini pernah merasakan di sekolah Tole.
Juga beberapa seniman top.
Paling absurd .... seorang figur bernama Felix Siauw lho koq juga lulus dari SMA yg sama dengan Tole.
Hari ini 18:40