• Saat ini Anda mengakses IndoForum sebagai tamu, sehingga Anda tidak memiliki akses penuh untuk melihat artikel dan diskusi yang hanya tersedia bagi anggota. Dengan bergabung, Anda akan mendapatkan akses penuh untuk bertanya, mengirim pesan pribadi, mengikuti polling, dan menggunakan fitur-fitur lainnya. Proses pendaftaran sangat cepat, mudah, dan gratis.
    Silakan daftar dan validasi email Anda untuk mendapatkan akses penuh sebagai anggota. Harap masukkan alamat email yang valid dan periksa kotak masuk Anda setelah mendaftar untuk proses validasi.

Penanaman Ajaran Sunda Wiwitan Sempat Terputus

  • Pembuat thread awal. Pembuat thread awal. Angela
  • Tanggal Mulai Tanggal Mulai

Angela

IndoForum Pro E
No. Urut
88
Sejak
25 Mar 2006
Pesan
45.487
Nilai reaksi
35
Poin
0
Penanaman Ajaran Sunda Wiwitan Sempat Terputus



Kami merasa Sunda banyak kehilangan akar sejarah, banyak kehilangan tinggalan jati diri karena proses syiarisasi agama & misionarisasi di Jawa Barat yg sangat keras."



Penanaman Ajaran Sunda Wiwitan Sempat Terputus




Anak-anak penghayat Sunda Wiwitan di Jawa Barat. (Foto: Antara)



JAKARTA, SATUHARAPAN.COM Penanaman ajaran Sunda Wiwitan di Jawa Barat yg sudah muncul jauh sebelum Indonesia merdeka ternyata sempat terputus saat negara mengalami penjajahan.

Dewi Kanti, penghayat & pegiat Sunda Wiwitan mengatakan penanaman ajaran sempat terputus karena adanya misionarisasi & islamisasi.

Memang kalau di Sunda Wiwitan itu sempat terpotong penanaman ajaran dengan adanya agama-agama baru yg masuk pada masaitu. Sampai ke akar kami sempat terpangkas, mengatakan Dewi di Jakarta pada Sabtu (22/11).

Penanaman ajaran yg terpotong ini berdampak pada hilangnya akar sejarah. Bahkan, pada masa penjajahan tersebut Sunda Wiwitan pernah dilabeli oleh Belanda sebagai agama Jawa-Sunda.

Kami merasa Sunda banyak kehilangan akar sejarah, banyak kehilangan tinggalan jati diri karena proses syiarisasi agama & misionarisasi di Jawa Barat yg sangat keras. Jadi, jangan dikira masuknya agama-agama di Jawa Barat itu baik-baik saja, mengatakan Dewi.

Terjebaknya ajaran spiritual Sunda Wiwitan dalam periodesasi ini tak menyurutkan para penganutnya untuk kembali mengerjakan tinjauan spiritual nenek moyang.

Di Cibubur saat era penjajahan Belanda, komunitas kami akhirnya menumbuhkan lagi sebuah penggalian kepada keyakinan leluhur, ujar Dewi.

Penggalian keyakinan adat karuhun atau adat leluhur Sunda dianggap sebagai benteng pertahanan kepada penjajah supaya tidak dikuasai oleh kapitalisme yg mencengkeram pada masa itu.

Kesadaran Religiusitas Sudah Lama Muncul

Masyarakat Sunda, mengatakan Dewi, sejak zaman dahulu tidak sekadar memaknai Sunda sebagai sebuah etnis, tetapi juga pencerahan geografis & filosofis.

Sunda Wiwitan sebagai sebuah ajaran agama & tuntunan kehidupan bagi penghayatnya sudah muncul saat leluhur mulai memiliki pencerahan religiusitas.

Kami tidak dapat mendeteksi sejak tahun berapa pencerahan itu muncul, tetapi ada pencerahan religiusitas dari tinggalan-tinggalan sejarah, ujar Dewi.

Kesadaran itu, mengatakan Dewi, muncul jauh sebelum agama-agama resmi yg diakui negara seperti Hindu, Budha, Islam, Kristen, & Konghucu masuk di Indonesia.

Saya harap masyarakat kembali menyadari akar sejarah itu, mengatakan Dewi.

Sekilas Sunda Wiwitan

Sunda Wiwitan merupakan sebuah ajaran spiritual yg berpangkal pada pengolahan & penyempurnaan apa yg ada dalam tubuh manusia.

Tubuh manusia ini bukan cuma seonggok daging. Apa yg kita makan & kita minum mempengaruhitubuh kita. Jangan hingga tabiat binatang menguasai tubuh kita, mengatakan Dewi.

Dalam praktik spiritualnya, Sunda Wiwitan kerap mengadakan upacara adat yg melibatkan makhluk hidup serta alam seperti pohon & gunung. Keterlibatan alam dalam upacara spiritual, mengatakan Dewi, sering dipandang sebagai hal yg tabu oleh masyarakat.

Pandangan masyarakat seolah-olah leluhur kami menyembah gunung, pohon, & sekeliling untuk mempertuhankan benda padahal itu bukan untuk mempertuhankan benda atau makhluk-makhluk itu, tetapi mereka punya rasa religiusitas bahwa ada yg kuasa dari dirinya, mengatakan Dewi.

Dalam prosesnya, menghormati pohon & menghormati gunung mengatakan Dewi adalah sebuah penghormatan kepada penyelaras kehidupan.

Pohon, gunung, & alam sekitar ialah penyelaras & pendukung kehidupan. Mereka percaya bahwa gunung & pohon itu juga bagian dari karunia yg diciptakan oleh Maha Pencipta untuk menemani kami dalam kehidupan, mengatakan dia.

Mempertaruhkan Nilai Kemanusiaan

Penghayat Sunda Wiwitan yg hingga kini masih bertahan, beberapa akbar sudah mempertaruhkan nilai-nilai kemanusiaan mereka dengan stigma negatif & labelisasi yg muncul dari masyarakat kebanyakan.

Kami tidak mempersoalkan label apapun yg diberikan kepada kami termasuk strategi Belanda untuk memecah belah kami dengan anggapan seolah-olah kami harap menciptakan agama baru, padahal kami sudah ada sejak dulu mengatakan Dewi.

Stigma negatif ini menurutnya sudah muncul sejak penjajahan Belanda & hingga sekarang diwarisi oleh aparatur negara.

Stigma negatif ini seolah-olah sudah jadi risiko seumur hidup yg harus ditanggung oleh para penghayat Sunda Wiwitan.

Kami sebetulnya adalah benteng pertahanan terakhir negara ini. Ketika kami sudah tidak sanggup berdiri di tanah leluhur kami sendiri, tak ada Bhinneka Tunggal Ika, Dewi memungkasi.

Editor : Yan Chrisna Dwi Atmaja



Artikel ini sudah tayang di satuharapan.com dengan judul "Penanaman Ajaran Sunda Wiwitan Sempat Terputus", Klik untuk baca: https://www.satuharapan.com/read-det...empat-terputus
Penulis : Francisca Christy Rosana Hari ini 06:12
 
 URL Pendek:

| JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG |

Back
Atas.