Angela
IndoForum Pro E
- No. Urut
- 88
- Sejak
- 25 Mar 2006
- Pesan
- 45.487
- Nilai reaksi
- 35
- Poin
- 0
Pemuka Agama Berperan Sebagai Penerjemah Bahasa Langit
Pandemi COVID-19 yg melanda dunia, bukan semata-mata akibat dari Virus Corona tipe baru yg begitu saja muncul & menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dalam kacamata Sabrang Damar Panuluh (Maiyah) & Engkus Ruswana dari Majelis Luhur Kepercayaan kepada Tuhan YME Indonesia, pandemi COVID-19 merupakan efek dari ulah manusia sendiri yg tidak lagi menghormati alam sebagai tempatnya hidup selama ini.
Dalamwebinar seri 9 bertema Agama: Dari Risus ke Substansi (Transpormasi Peran Agama dalam Mengawal Tatanan Nilai Indonesia Baru)pada Senin (6/7/2020), Engkus menekankan bahwa kini manusia tampaknya sudah terlalu sombong & menganggap dirinya sebagai yg paling berkuasa di dunia ini.
Akibatnya ia dapat berbuat semena-mena pada dirinya sendiri, pada sesama & juga kepada alam. Berbagai perusakan terjadi, sumber daya alam diekploitasi sedemikian rupa. Imbasnya bencana terjadi di mana-mana.
Pandemi ini merupakan cara alam mencari kesimbangan baru, katanya.
Menurut dia, mustahil dapat mewujudkan tatanan kehidupan baru kalau pola pikir manusia masih saja belum berubah, utamanya dalam relasinya dengan alam.
Oleh karena itu dirinya menawarkan formulasi wawasan lingkungan yg lebih baik, khususnya hal ini dapat digawangi oleh para pemuka agama. Para pemuka agama, tambahnya, dapat mengerjakan gerakan penyadaran spiritual khususnya tentang pentingnya menjaga alam.
Pemuka agama juga harus sanggup berperan sebagai motivator & fasilitator dalam mewujudkan tatanan hidup baru di masa pandemi ini.
Jadi pemerintah desa memang harus melibatkan pemuka agama dalam pembahasan berbagai kebijakan tentang tatanan baru ini, katanya.
Sabrang Damar Panuluh pun percaya, bahwa basis pemahaman agama dapat menjawab berbagai tantangan di masa depan lantaran agama menyediakan pandangan yg holistik dalam melihat sebuah masalah.
Menurutnya, pandemi covid-19 pun merupakan efek dari berbagai komponen yg saling terkait itu. Baik itu hubungannya manusia dengan alam, dengan sesama manusia maupun hubungan manusia dengan Tuhannya. Maka dari itu perlu dirunut akar permasalahannya yg menciptakan kegoncangan sistem yg lebih luas ini.
Jika hubungan ini dipertahankan jadi sebuah rekanan yg sehat, maka hasilnya juga akan baik, katanya.
Sementara itu Gus Hilmy Muhammad (DPD RI) yg juga jadi narasumber menekankan pentingnya peran para pemuka agama dalam mengawal tatanan nilai Indonesia baru.
Pemuka agama menurutnya merupakan penyambung lidah langit, membahasakan bahasa langit jadi bahasa praktis yg dapat dipahami & langsung dipraktikan di tengah-tengah masyarakat. Ia harus sanggup menerjemahkan ajaran agama dalam keadaan apa pun.
Seperti saat terjadi musibah kekeringan, paceklik, gempa, pemilu, kerusuhan, atau seperti yg saat ini dirasakan yakni pandemi covid-19.
Penerjemahan bahasa langit jadi bahasa bumi penting untuk dilakukan, tidak lain tujuannya untuk menciptakan manusia dapat sepenuhnya berakhlak, rendah hati, tepo seliro & saling menjaga satu sama lain. Semangat itulah yg harus dipelihara di tengah pandemi COVID-19 ini, yaitu kesetiakawanan sosial untuk saling asah, saling asih & saling asuh antar sesama.
Sehingga para pemuka agama menurut dia harus dapat menenangkan masyarakat, harus dapat menjaga harmoni & memastikan tata kehidupan dapat berjalan damai & penuh ketenangan bagi semuanya.
Jangan malah mengompori, jangan suasana yg sudah nyaman, malah dibuat tidak nyaman, tambahnya.
Ia pun mengajak kepada para pemuka agama untuk saling bekerjasama, utamanya bersama desa dalam menciptakan suasana yg penuh keharmonisan. Sehingga beban berat menghadapi pandemi covid-19 ini lebih ringan dengan dilandasi semangat kebersamaan, saling asah, saling asih & saling asuh.
https://kongreskebudayaandesa.id/pem...a-langit/.html Hari ini 14:24
Pandemi COVID-19 yg melanda dunia, bukan semata-mata akibat dari Virus Corona tipe baru yg begitu saja muncul & menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dalam kacamata Sabrang Damar Panuluh (Maiyah) & Engkus Ruswana dari Majelis Luhur Kepercayaan kepada Tuhan YME Indonesia, pandemi COVID-19 merupakan efek dari ulah manusia sendiri yg tidak lagi menghormati alam sebagai tempatnya hidup selama ini.
Dalamwebinar seri 9 bertema Agama: Dari Risus ke Substansi (Transpormasi Peran Agama dalam Mengawal Tatanan Nilai Indonesia Baru)pada Senin (6/7/2020), Engkus menekankan bahwa kini manusia tampaknya sudah terlalu sombong & menganggap dirinya sebagai yg paling berkuasa di dunia ini.
Akibatnya ia dapat berbuat semena-mena pada dirinya sendiri, pada sesama & juga kepada alam. Berbagai perusakan terjadi, sumber daya alam diekploitasi sedemikian rupa. Imbasnya bencana terjadi di mana-mana.
Pandemi ini merupakan cara alam mencari kesimbangan baru, katanya.
Menurut dia, mustahil dapat mewujudkan tatanan kehidupan baru kalau pola pikir manusia masih saja belum berubah, utamanya dalam relasinya dengan alam.
Oleh karena itu dirinya menawarkan formulasi wawasan lingkungan yg lebih baik, khususnya hal ini dapat digawangi oleh para pemuka agama. Para pemuka agama, tambahnya, dapat mengerjakan gerakan penyadaran spiritual khususnya tentang pentingnya menjaga alam.
Pemuka agama juga harus sanggup berperan sebagai motivator & fasilitator dalam mewujudkan tatanan hidup baru di masa pandemi ini.
Jadi pemerintah desa memang harus melibatkan pemuka agama dalam pembahasan berbagai kebijakan tentang tatanan baru ini, katanya.
Sabrang Damar Panuluh pun percaya, bahwa basis pemahaman agama dapat menjawab berbagai tantangan di masa depan lantaran agama menyediakan pandangan yg holistik dalam melihat sebuah masalah.
Menurutnya, pandemi covid-19 pun merupakan efek dari berbagai komponen yg saling terkait itu. Baik itu hubungannya manusia dengan alam, dengan sesama manusia maupun hubungan manusia dengan Tuhannya. Maka dari itu perlu dirunut akar permasalahannya yg menciptakan kegoncangan sistem yg lebih luas ini.
Jika hubungan ini dipertahankan jadi sebuah rekanan yg sehat, maka hasilnya juga akan baik, katanya.
Sementara itu Gus Hilmy Muhammad (DPD RI) yg juga jadi narasumber menekankan pentingnya peran para pemuka agama dalam mengawal tatanan nilai Indonesia baru.
Pemuka agama menurutnya merupakan penyambung lidah langit, membahasakan bahasa langit jadi bahasa praktis yg dapat dipahami & langsung dipraktikan di tengah-tengah masyarakat. Ia harus sanggup menerjemahkan ajaran agama dalam keadaan apa pun.
Seperti saat terjadi musibah kekeringan, paceklik, gempa, pemilu, kerusuhan, atau seperti yg saat ini dirasakan yakni pandemi covid-19.
Penerjemahan bahasa langit jadi bahasa bumi penting untuk dilakukan, tidak lain tujuannya untuk menciptakan manusia dapat sepenuhnya berakhlak, rendah hati, tepo seliro & saling menjaga satu sama lain. Semangat itulah yg harus dipelihara di tengah pandemi COVID-19 ini, yaitu kesetiakawanan sosial untuk saling asah, saling asih & saling asuh antar sesama.
Sehingga para pemuka agama menurut dia harus dapat menenangkan masyarakat, harus dapat menjaga harmoni & memastikan tata kehidupan dapat berjalan damai & penuh ketenangan bagi semuanya.
Jangan malah mengompori, jangan suasana yg sudah nyaman, malah dibuat tidak nyaman, tambahnya.
Ia pun mengajak kepada para pemuka agama untuk saling bekerjasama, utamanya bersama desa dalam menciptakan suasana yg penuh keharmonisan. Sehingga beban berat menghadapi pandemi covid-19 ini lebih ringan dengan dilandasi semangat kebersamaan, saling asah, saling asih & saling asuh.

https://kongreskebudayaandesa.id/pem...a-langit/.html Hari ini 14:24